Sludge Tambak: Vacuum Kilat vs Probiotik, Mana Paling Untung?

Sekitar 70% nutrien pakan tak pernah jadi daging ikan/udang—ia tenggelam sebagai sludge yang menekan DO dan mengerek BOD/TSS/COD. Data terbaru menunjukkan kombinasi pembersihan fisik dan bioremediasi (probiotik/enzim) memberi hasil panen dan ROI paling rasional.

Industri: Aquaculture | Proses: Grow

Pada tambak intensif, hanya ~30% nutrien pakan N dan P yang masuk ke tubuh udang/ikan; sisanya ~70% mengendap sebagai sludge (OM/organic matter—bahan organik; N; P) di dasar kolam (mdpi.com). Survei lapangan melaporkan beban sludge hingga 84 kg N/ha·th, 21 kg P/ha·th, dan 2.400 kg OM/ha·th (mdpi.com). Tanpa kendali, sludge berlebih menurunkan DO (dissolved oxygen/oksigen terlarut) dan menaikkan BOD (biochemical oxygen demand), TSS (total suspended solids), serta COD (chemical oxygen demand), memperburuk mutu air dan hasil panen (mdpi.com).

Di Indonesia, regulasi seperti Permen-KP 75/2016 mewajibkan reuse atau treatment air buangan tambak—dengan water exchange pemeliharaan ≈20% per hari dan drain panen ≈16,7% dari volume kolam (jala.tech) (jala.tech). Artinya, manajemen sludge in‑pond yang efektif bukan sekadar opsional—ia kunci kepatuhan lingkungan dan efisiensi produksi.

Baca juga:

Weaning Larva Hatchery: Mikro-Diet, HUFA, Binder Tingkatkan Survival

Akumulasi sludge dan dampak mutu air

Angka 84 kg N/ha·th, 21 kg P/ha·th, dan 2.400 kg OM/ha·th yang menumpuk di dasar kolam adalah “bom waktu” bagi DO dan stabilitas pH (mdpi.com). Tekanan beban organik membuat BOD/TSS/COD merangkak naik, menekan performa budidaya dan membuka celah bagi patogen (mdpi.com).

Konsekuensinya, selain treatment in‑pond, banyak operasional menyiapkan jalur prasedimentasi atau pengolahan air panen untuk memastikan kepatuhan. Pada titik ini, unit pemisahan fisik seperti lamela settler atau klarifikasi kompak bisa membantu mengurangi jejak padatan saat harvest drain ≈16,7% volume (jala.tech).

Metode fisik pembuangan sludge

Praktik umum: kolam dikeringkan, sludge dikakus/dikeruk saat kering. Alternatifnya, suction in‑situ (vacuum/siphon) atau scraper digunakan tanpa mengosongkan kolam. Drain‑and‑dry tuntas mengeliminasi sludge, namun menghentikan produksi dan menuntut alat/tenaga kerja.

Inovasi mekanik mempercepat permainan. Uji Pai et al. (2022) pada platform “sludge‑removing” dengan nozzle rotari menunjukkan 82–99,7% sludge terangkat hanya dalam 8 menit (3,2 ton air), menyisakan <0,33 cm di atas platform (agris.fao.org). Bandingkan dengan metode center‑drain konvensional yang, pada volume air keluaran sama, hanya mengangkat ~5% sludge dan meninggalkan ~21,1 cm akumulasi (agris.fao.org).

Sistem otomatis bahkan diperkirakan bisa menghemat ~90% biaya tenaga kerja dalam satu musim dibanding pengerukan manual (agris.fao.org). Saat mengisap in‑situ, debris sebaiknya dipisah lebih dulu—screening kontinu dengan automatic screen membantu menjaga aliran stabil.

Di super‑intensif, outlet sludge‑collector berbahan tembaga menunjukkan mutu air lebih baik (TAN/nitrogen amonia total, nitrat, TSS lebih rendah) daripada central drain standar (researchgate.net) (researchgate.net). Panen dari kolam “sludge‑collector” rata‑rata 3,833 kg udang vs 3,731 kg di kontrol (≈8,25% ukuran rata‑rata lebih besar) (researchgate.net). Namun, metode fisik menuntut downtime, biaya sewa pompa/alat keruk atau pembelian peralatan, dan ongkos pembuangan sludge (sering ke kompos/lahan di luar lokasi).

Kuncinya: removal berbasis fisika terbaru (mis. dredger terengineering atau skid‑mounted jet) dapat mengangkat ~95–100% sludge—menghapus lapisan 0,3–21 cm vs <5% oleh drain lama (agris.fao.org)—sekaligus menekan amonia yang memicu stres (researchgate.net).

Bioremediasi dengan probiotik dan enzim

Alternatif atau pelengkapnya: agen biologis—mikroba khusus dan enzim—yang mencerna sludge in‑situ. Ini adalah bioremediasi (rekayasa mikrobiota untuk mengolah limbah) dengan target “self‑cleaning”: mikroba mengonsumsi sisa pakan/feses dan mengubahnya jadi CO₂/biomassa mikroba.

Praktiknya, farm memberikan probiotik seperti Bacillus subtilis, B. licheniformis, Pediococcus, dsb, sering bersama sumber karbon seperti molase. Mereka melakukan dekomposisi heterotrof (pemecahan bahan organik) sekaligus nitrifikasi amonia. Studi memakai probiotik berbasis Bacillus (Sanolife PRO‑W®) dan campuran multi‑spesies (Biomin Aquastar®) di kolam vannamei 5 hektare menunjukkan degradasi NH₃ signifikan (terutama saat bahan organik hadir) dibanding kontrol (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Selama 8 minggu, keduanya menurunkan amonia tak terion dan total Vibrio, serta menaikkan DO dan pH dibanding kolam tanpa perlakuan (pmc.ncbi.nlm.nih.gov).

Di lapangan, keuntungan produksi terlihat. Formulasi sinbiotik (synbiotic=probiotik+prebiotik) di kolam komersial menambah 625 kg biomassa udang saat panen dibanding probiotik standar—nilai sekitar ~US$3.000 jika harga udang ~$5/kg (link.springer.com). Peningkatan ini dikaitkan dengan penurunan amonia‑N, fosfat, Vibrio/Aeromonas, serta kestabilan pH yang lebih baik (link.springer.com).

Ulasan Heliyon menegaskan probiotik sering “meningkatkan laju pertumbuhan dan reproduksi” di akuakultur, menaikkan profitabilitas secara signifikan, sekaligus memperkuat imunitas sehingga menekan kerugian penyakit dan biaya pengobatan (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Pada studi Makmur et al. (2021), pemberian probiotik dan molase bersamaan sludge‑collector ikut menjaga TAN/nitrat lebih rendah selama pemeliharaan (researchgate.net).

Pemberian yang konsisten butuh kendali dosis yang rapi; penggunaan dosing pump memudahkan akurasi aplikasi probiotik/enzim. Untuk kolonisasi awal dan nutrien pelengkap, lini seperti starter bakteri dan nutrien bakteri relevan sebagai bagian dari program bioremediasi.

Efektivitas, mutu air, dan kompromi

Efisiensi removal: metode fisik (drain/dredge atau vacuum) dapat mengangkat >90% padatan mengendap dalam satu operasi; biokontrol tidak melakukan removal instan. Jet‑equipped system mengeradikasi hingga 99,7% sludge secara cepat (agris.fao.org), sementara probiotik bekerja gradual selama pekan.

Dampak produksi: sludge yang dieliminasi fisik menjaga kapasitas kolam dan menekan patogen. Pada Makmur et al., kolam sludge‑collector menunjukkan yield tersesuaikan survival sedikit lebih tinggi (3,833 kg vs 3,731 kg) (researchgate.net). Perlakuan biologis memberi peningkatan yang akumulatif; studi terkendali menunjukkan tambahan panen ratusan kilogram saat probiotik ditambahkan ke air (link.springer.com).

Mutu air: pembersihan fisik meninggalkan air pasca‑cleaning yang sangat bersih (lihat TAN/TSS sangat rendah di [14]). Bioremediasi memberi perbaikan rerata: TSS, TAN, nitrit, nitrat lebih rendah di kolam “treated” (researchgate.net). Namun, metode biologis memerlukan aerasi baik dan substrat limbah (mis. molase) agar efektif. Praktiknya, pendekatan hibrida lazim: probiotik kontinu saat budidaya untuk menahan sludge dan nitrogen, lalu drain/dredge lebih jarang.

Untuk kepatuhan effluent, air buangan panen dapat diarahkan ke unit biologis aerob/anaerob—solusi seperti biological digestion relevan—sebelum dilepas ke lingkungan, melengkapi kontrol in‑pond.

Baca juga:

IPAL Kompak Hatchery: Tekan Nitrogen, Fosfat & Klorin Sesuai Regulasi

Biaya–manfaat program bioremediasi proaktif

ChatGPT Image Feb 2, 2026, 10_41_58 AM

Biaya bioremediasi: probiotik/enzim spesialis bervariasi, umumnya puluhan hingga ratusan USD per hektare per siklus aplikasi, plus sumber karbon (mis. molase) dan sedikit tenaga untuk dosing. Semua biaya ini bersifat inkremental—kolam tetap berproduksi.

Biaya removal fisik: drain, drying, dan dredging memerlukan tenaga/air. Perkiraan kasarnya, mengosongkan dan membersihkan kolam 1 ha bisa menelan beberapa ratus hingga di atas seribu USD per kolam (termasuk listrik/pumping dan disposal sludge) (agris.fao.org). Selama cleaning, kolam tidak menghasilkan. Otomasi memangkas biaya ini, tetapi investasi alat tetap besar (meski [20] menyiratkan payback cepat via penghematan tenaga kerja).

Manfaat bioremediasi: survival dan pertumbuhan yang lebih baik berujung ke pendapatan. Contoh 625 kg udang ekstra di kolam terperlaku (link.springer.com) setara ribuan USD pada harga pasar; bahkan perbaikan 5–10% pada FCR atau survival memberi dampak skala serupa di crop berton‑ton (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Kolam yang lebih sehat juga berarti kerugian penyakit dan biaya terapi lebih rendah—penghematan “tak terlihat” yang nyata.

Dalam satu kasus ilustratif, regimen probiotik mengembalikan biaya secara efektif: pendapatan dari panen lebih tinggi jauh melampaui harga aditif (link.springer.com). Secara keseluruhan, gain produksi inkremental—sering ribuan dolar per hektare—umumnya melampaui ongkos kimia. Jika sludge dibiarkan, produktivitas turun dan dredging akhirnya menjadi mendesak serta mengganggu.

Ringkasnya: program proaktif membayar dirinya sendiri dalam satu siklus. Misal, perawatan kolam 1 ha dengan probiotik yang comply dapat bernilai biaya sekitar US$100–200, tetapi menghasilkan ekstra 300–600 kg udang. Pada US$5–10/kg, itu US$1.500–US$6.000—ROI 10–50× (link.springer.com) (pmc.ncbi.nlm.nih.gov).

Baca juga:

Disinfeksi Air Akuakultur: UV, Ozon, Klorin & PAA untuk RAS dan Kolam

Implementasi hibrida dan kepatuhan lokal

Kesimpulan data: gabungan strategi paling efektif. Gunakan probiotik/enzim secara kontinu atau periodik untuk menekan pembentukan sludge selama tebar‑panen, lalu tambah pembersihan fisik terarah saat ambang visual/operasional terlampaui. Program seperti ini mempermudah pemenuhan Permen‑KP 75/2016 soal reuse/treatment—termasuk water exchange ≈20% harian dan drain panen ≈16,7%—yang dideskripsikan di jala.tech (jala.tech). “Shrimp farmers are required to … laboratory registered with the ministry” (kutipan kepatuhan pada tautan tersebut).

Di hilir, saat air panen dialirkan ke unit sederhana, sistem pemisahan awal seperti physical separation dapat mengurangi beban Suspended Solids sebelum proses biologis. Pada fase aerasi, jika terjadi foaming, bahan pembantu seperti antifoam bisa menstabilkan operasi. Untuk polishing biologis, pendekatan kompak seperti digester aerob/anaerob memberi jalan reuse/lepasan yang lebih bersih.

Intinya bagi manajer tambak Indonesia: alokasikan anggaran moderat untuk produk probiotik yang andal (sesuai temuan studi), kurangi frekuensi/kedalaman dredging, dan permudah pemenuhan baku mutu (link.springer.com) (pmc.ncbi.nlm.nih.gov) (jala.tech). Program sludge‑management proaktif dengan bioremediasi masuk akal secara ekonomi dan ekologi: tambahan produksi udang dan penghematan tenaga kerja cukup jelas menutupi investasi bakteri/enzim (link.springer.com) (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Setiap operasional perlu menyesuaikan jadwal dosis/vendor dengan kondisi lokal, namun studi lapangan melaporkan gain nyata dari pendekatan ini.

Sumber utama: agris.fao.org; link.springer.com; pmc.ncbi.nlm.nih.gov; pmc.ncbi.nlm.nih.gov; mdpi.com; jala.tech.

Chat on WhatsApp 2212122qwa