Efluen hatchery kaya nutrien dan sisa klorin bisa memicu eutrofikasi dan toksisitas lokal. Rangkaian mekanik-biofilm MBBR plus dechlorination membuktikan efisiensi tinggi, jejak kecil, dan kepatuhan lingkungan.
Industri: Aquaculture | Proses: Hatchery_&_Larval_Rearing
Di balik ruangan inkubasi yang rapih, hatchery modern menyimpan tantangan besar: air buangan yang pekat organik, amonia, fosfat, dan terkadang residu klorin dari kegiatan pembersihan. Simulasi efluen hatchery menunjukkan beban COD (Chemical Oxygen Demand, ukuran kebutuhan oksigen) 500–2.000 mg/L, NH₄‑N 25–125 mg/L, dan PO₄‑P 5–25 mg/L (www.researchgate.net).
Pada hatchery udang, beban organik moderat tetapi hitungan patogen tinggi (www.globalseafood.org), sementara hatchery ikan menunjukkan kekuatan nutrien serupa. Tanpa pengolahan, efluen ini memicu eutrofikasi dan toksisitas. Karena itu, desain kontemporer menggabungkan pemisahan padatan, biofiltrasi untuk konversi amonia dan nutrien, serta disinfeksi/dechlorination air bilasan.
Target kinerja kunci: penghilangan N dan P terlarut >80–90% dan penurunan TSS (Total Suspended Solids) hingga di bawah baku mutu. Pada RAS (recirculating aquaculture systems), biofilter pasir terfluidisasi mencatat penghilangan TAN (Total Ammonia Nitrogen) ~86–88% dan BOD (Biochemical Oxygen Demand) ~66–82% (onlinelibrary.wiley.com).
Desain WWTP Brewery 3 Tahap: EQ, UASB, SBR, Efluen Aman
Komposisi efluen dan tantangan hatchery
Efluen hatchery memadukan pakan tak termakan, feses, dan nutrien terlarut pada konsentrasi di atas limbah domestik. Kualitas seperti COD 500–2.000 mg/L, NH₄‑N 25–125 mg/L, dan PO₄‑P 5–25 mg/L telah dilaporkan pada simulasi (www.researchgate.net). Pada hatchery udang, beban patogen tinggi menjadi isu utama (www.globalseafood.org).
Konsekuensinya jelas: tanpa treatment, pelepasan amonia dan fosfat memicu eutrofikasi; residu klorin dari backwash/air cuci menambah toksisitas. Maka, rantai unit mekanik‑biologi‑disinfeksi menjadi standar desain hatchery modern untuk mengamankan lingkungan dan izin.
Rancangan sistem kompak berjejak kecil
Pretreatment mekanik menangkap padatan dan 50–90% TSS menggunakan penyaring (misalnya screen otomatis) dan unit pemisahan awal (onlinelibrary.wiley.com). Dalam praktik, penyaringan kontinu seperti automatic screen atau sistem waste-water physical separation membantu menjaga beban padatan di hulu.
Setelah itu, air dialirkan ke biofiltrasi—umumnya MBBR (Moving Bed Biofilm Reactor, reaktor biofilm bergerak)—untuk konversi amonia dan penghilangan nutrien. Konfigurasi drum‑filter → MBBR dapat didesain pada HRT (Hydraulic Retention Time) 1–2 jam guna mencapai ~99% nitrifikasi (konversi NH₄ menjadi NO₃) (www.researchgate.net). Kondisi terarah—DO (Dissolved Oxygen) ~4–6 mg/L dan suhu 25–30°C—mendukung kepadatan biofilm tinggi.
Zona anoksik (atau MBBR anoksik sekunder) dengan suplai karbon eksternal memungkinkan denitrifikasi bila diperlukan. Sasaran efluen setelah biofiltrasi: NH₄ <1 mg/L, NO₃ <5–10 mg/L (pascadenitrifikasi), dan penurunan total nitrogen >80% (www.researchgate.net). Fosfat dapat turun hingga ~95% dalam operasi MBBR yang dioptimalkan (www.researchgate.net), atau dilanjut koagulasi bila target P sangat rendah.
Untuk pemolesan partikel, skimmer protein atau filter pasir bertekanan dapat digunakan; media sand silica umum dipakai sebagai filtrasi lanjutan. Disinfeksi akhir dapat menggunakan UV (Ultraviolet) tanpa bahan kimia dengan sistem UV, dilengkapi filtrasi halus seperti cartridge filter bila diperlukan.
Dalam sistem resirkulasi, sebagian besar air terolah dipakai kembali sehingga hanya fraksi kecil yang dibuang. Footprint sistem tetap ringkas: MBBR tidak memerlukan klarifier besar atau penanganan lumpur intensif, sehingga lebih hemat lahan daripada activated sludge; “meminimalkan produksi padatan tersuspensi dan berjejak lebih kecil daripada sistem konvensional” (www.mdpi.com). Implementasi kompak bisa memanfaatkan pengendap berpermukaan tambahan seperti lamella settler untuk footprint kecil.
Contoh sistem 10 m³/hari: satu drum filter (~1–2 m³) menyalurkan ke tiga tangki MBBR 5 m³ (total area dasar 5–10 m²), jauh lebih kecil ketimbang kolam atau klarifier besar.
Kinerja MBBR untuk penghilangan nutrien
MBBR menggunakan carrier plastik (umumnya HDPE) bersurface area terlindungi tinggi untuk pertumbuhan biofilm (www.mdpi.com). Keunggulan: efisiensi tinggi, stabil, dan kompak (www.wateronline.com) (www.mdpi.com). Untuk implementasi hatchery, unit moving-bed bioreactors (MBBR) yang diisi carrier luas-permukaan seperti honeycomb bio media memperbanyak biofilm dalam volume kecil.
Penghilangan tinggi: studi melaporkan penghilangan NH₄‑N >99% (www.researchgate.net) dan efisiensi penghilangan bicarbonate‑nitrogen >80%; total‑N dengan tahap anoksik mencapai ~80–90% (www.researchgate.net). Penghilangan P ~96% ditunjukkan pada skala laboratorium (www.researchgate.net). Pada kondisi dingin atau karbon rendah, MBBR modern tetap efektif menitrifikasi; satu uji menurunkan nitrat efluen ≈2–5 mg/L (dari 10 mg/L) pada HRT 2 jam (www.mdpi.com).
Kapasitas nitrifikasi: tinjauan APA menunjukkan MBBR menangani ~110,9 g TAN/m³·hari (onlinelibrary.wiley.com) (dibanding ~80–90% penghilangan pada fluidized bed). Praktisnya, MBBR 1 m³ dapat mengolah ~0,11 kg N/hari—cukup untuk banyak hatchery kecil. Penghilangan cBOD₅ di biofilter sering >80% (onlinelibrary.wiley.com).
Footprint kompak: MBBR menggabungkan aerasi dan filtrasi dalam satu bejana. Dibanding klarifier activated sludge setara, reaktor MBBR ~40–60% lebih kecil untuk beban nitrifikasi yang sama. Media bergerak “self‑cleaning” sehingga tidak butuh recycle besar atau klarifikasi sekunder. Sumber industri menyebut MBBR “provide a sustainable solution for biological nitrogen removal” dengan “a smaller footprint” (www.mdpi.com).
Robust: keragaman biofilm membuat MBBR tahan fluktuasi pakan, suhu, atau DO; padatan tak gampang menyumbat karena carrier tersuspensi. Strategi start‑up cepat seperti penyemaian flok dapat membangun biomassa nitrifikasi dalam hitungan pekan (www.wateronline.com) (www.researchgate.net). Dukungan inokulum dan nutrien bakteri tersedia sebagai starter bakteri dan nutrien bakteri.
Contoh: lini efluen 50 m³/hari dapat memakai dua tangki MBBR 25 m³ seri (anoksik + aerobik), menghasilkan amonia efluen <1 mg/L dan penghilangan TN >75%.
Contoh kinerja: MBBR multistage skala lab mencapai penghilangan NH₄‑N 99,7%, total‑N 80,9%, dan P 95,8% pada kondisi optimum (www.researchgate.net). Biofilter RAS komersial menunjukkan laju nitrifikasi ~110,9 g N/m³·hari (onlinelibrary.wiley.com) dan penghilangan BOD 66–82% (onlinelibrary.wiley.com). Efisiensi ini didorong luas permukaan carrier 500–600 m²/m³ dalam tangki kompak (www.mdpi.com).
Intake SWRO Ramah Ikan: Desain Kecepatan Rendah & Proteksi Entrainment
Dechlorination backwash dan air cuci tangki

Hatchery kerap memakai klorin untuk desinfeksi; air bilasan backwash/rinse bisa menyisakan 1–10 mg/L Cl₂ dan harus dinetralkan sebelum dibuang. Dua pendekatan efektif:
Netralisasi kimia: natrium metabisulfit (Na₂S₂O₅) atau natrium bisulfit didosis sesuai stoikiometri ~1,3–1,5 mg Na₂S₂O₅ per mg Cl₂ bebas (teoretis), namun praktik memakai faktor keamanan. Panduan merekomendasikan ~3 mg metabisulfit per 1 mg klorin (www.enki-water.net). Untuk 5 mg/L Cl₂, dosis sekitar 15 mg/L Na₂S₂O₅ dengan injeksi pompa lalu mixing/contact. Reaksi mengonversi klorin menjadi klorida: Na₂S₂O₅ + H₂O + OCl⁻ → 2 Cl⁻ + sulfat dan garam (www.enki-water.net) (www.enki-water.net). Residual klorin harus diuji hingga <0,1 mg/L sebelum pembuangan. Dosis kimia praktis dapat dilakukan dengan dosing pump dan bahan dechlorination agent.
Activated carbon: GAC (granular activated carbon) kecil efektif menyerap klorin, mengonversinya menjadi klorida (reaksi dirujuk pada tautan) (www.enki-water.net). Kolom karbon yang disesuaikan dengan debit backwash (mis. bed 10–20 cm) menurunkan klorin bebas hingga <0,1 mg/L dan menangkap jejak kloramina; karbon perlu diganti berkala (~tahunan, tergantung beban). Opsi ini selaras dengan media activated carbon.
Keduanya harus diterapkan sebelum pelepasan air bilasan. Praktiknya, hatchery menyiapkan “cleaning sump” terpisah yang mengumpulkan backwash/rinse, dilengkapi mixer dan dosing atau modul GAC in‑line. Setelah netralisasi dan pengendapan padatan, air jernih tanpa klorin dibuang. Menjamin netralisasi 100% mencegah toksisitas akut pada organisme; sebagai referensi, 3 mg/L Cl₂ dapat mematikan banyak invertebrata.
Tren operasional dan dampak lingkungan
Penggunaan ulang air: dengan resirkulasi >80–90% air terolah, hatchery dapat menekan asupan air tawar pada tingkat yang sama; banyak hatchery RAS kini beroperasi dengan laju pergantian air <10% per hari.
Reduksi beban: sedimentasi sederhana dapat mengeliminasi ~70–90% TSS, sementara sistem lengkap (settler + biofilter) mencapai penurunan BOD bersih >80%. Penggunaan kolam sedimentasi telah terbukti menurunkan SS secara drastis (www.globalseafood.org). Dalam kondisi optimum, MBBR menyisakan TN ≈2 mg/L dan PO₄ <0,5 mg/L (www.researchgate.net).
Dampak lingkungan: tinjauan menyebut hatchery yang baik pengolahannya berisiko eutrofikasi minimal. Dalam satu ulasan FAO, RAS terintegrasi dengan penangkapan padatan menjaga konsentrasi nutrien efluen setara air limbah domestik (www.reuters.com).
Kontrol patogen: dechlorination yang diikuti UV atau ozonasi pada pipa buang memastikan tidak ada toksisitas klorin sekaligus menekan pelepasan patogen. Survei menunjukkan disinfeksi (tanpa residu Cl) krusial ketika beberapa hatchery berbagi satu DAS (www.globalseafood.org).
Panduan kepatuhan dan standar
Di Indonesia, persyaratan merujuk pada PP No. 82/2001 (kualitas air/pengendalian pencemaran) dan Permen LHK terkait (mis. Permen 68/2016 untuk limbah menyerupai domestik). Walau belum ada satu “baku mutu efluen akuakultur”, operator sebaiknya menargetkan kelas air terketat di lokasi buang. Untuk air kelas‑2 (sesuai perikanan), acuan umum: BOD ≤6 mg/L, COD ≤20 mg/L, TSS ≤15 mg/L; pada kelas kurang sensitif atau laut, otoritas setempat mungkin mengizinkan ~20–30 mg/L BOD/TSS.
Langkah praktis memastikan kepatuhan:
- Perizinan: evaluasi kebutuhan AMDAL/UKL‑UPL dan ajukan Izin Pembuangan Air Limbah (IPAL) ke KLHK atau ESDM daerah; biasanya melampirkan rencana IPAL dan jadwal pemantauan.
- Pemantauan: pasang flow meter dan sampling berkala (mis. bulanan) untuk pH, TSS, BOD₅, amonia, total‑N, total‑P, dan residu klorin; bandingkan dengan izin/standar, dan pantau tren untuk deteksi dini gangguan.
- Perawatan: bersihkan filter, cek lumpur dan performa MBBR secara rutin. Ganti/tambah carrier bila perlu, pastikan aerasi dan mixing memadai. Untuk dechlorination, kalibrasi pompa dosis hingga uji klorin mendekati nol.
- Pencatatan: log pemeliharaan, hasil monitoring, pemakaian kimia (klorin, bisulfit), dan insiden—penting untuk pelaporan dan penelusuran.
- Praktik terbaik: rujuk panduan teknis BKIPM/KKP atau KLHK; gunakan kembali air terolah untuk irigasi atau grow‑out demi loop nyaris nol‑buang. Latih staf penanganan kimia dan atur aliran air cuci tertutup. Perlengkapan pendukung dapat dikemas dalam ancillaries instalasi.
Dirangkai dengan teknologi di atas—pemisahan padatan, biofiltrasi MBBR, dan dechlorination—hatchery dapat memenuhi standar lingkungan yang ketat. Sistem kompak yang dirancang baik bisa menurunkan beban polutan efluen >90% sebelum dibuang, memastikan kepatuhan hukum dan dampak ekologis minimal (www.researchgate.net) (onlinelibrary.wiley.com) (www.enki-water.net).
Outfall Brine Desalinasi: Multi-Port Diffuser Hemat Biaya & Aman
Sumber dan referensi
Recent aquaculture engineering reviews dan studi kasus pengolahan air limbah (www.researchgate.net) (onlinelibrary.wiley.com) (www.globalseafood.org); industry white papers tentang MBBR dan disinfeksi (www.mdpi.com) (www.enki-water.net) (www.enki-water.net); ringkasan regulasi Indonesia (environesia.co.id); dan laporan tren akuakultur (www.reuters.com). Semua data dan panduan mencerminkan riset dan regulasi praktik terbaik terkini.
