Weaning Larva Hatchery: Mikro-Diet, HUFA, Binder Tingkatkan Survival

Riset terbaru memperlihatkan kombinasi HUFAs, fosfolipid, immunostimulant, attractant, dan binder yang tepat dapat menggandakan hingga melipatgandakan survival larva saat weaning—sekaligus memangkas kebocoran nutrien ke air.

Industri: Aquaculture | Proses: Hatchery_&_Larval_Rearing

Larva ikan dan krustasea adalah “fase rapuh” dalam akuakultur: performanya ditentukan oleh detail formulasi dan cara aplikasi pakan. Di banyak spesies, pakan hidup (rotifer/Artemia) unggul rasa dan nutrisi tetapi mahal dan tidak konsisten; sementara mikro‑diet (partikel pakan inert berukuran mikro, biasanya 50–60% protein, disalurkan via automated feeders atau co‑feeding) lama kalah angka survival. Pada larva haddock, misalnya, survival dengan mikro‑diet hanya 2–5% vs 20–25% dengan pakan hidup (www.researchgate.net). Kabar baiknya: formulasi generasi baru menutup celah nutrisi dan palatabilitas tersebut.

baca juga:

Biaya Brine SWRO: Pipa Lepas Pantai vs Co-Disposal vs Deep-Well

HUFAs dan fosfolipid pada fase awal

HUFAs (highly unsaturated fatty acids: DHA/22:6n‑3, EPA/20:5n‑3, ARA/20:4n‑6) dan fosfolipid (PLs, komponen membran sel) krusial untuk pembentukan membran, perkembangan visual/neurologis, dan sinyal eikosanoid. Kekurangan HUFA “dapat mengganggu pertumbuhan, reproduksi, dan survival” (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Praktiknya, rotifer/Artemia diperkaya mikroalga atau emulsi untuk menaikkan HUFA dan PL.

Bukti efeknya nyata. Pada larva scallop, diet mikroalga high‑HUFA (2,6× HUFA vs diet low‑HUFA) memicu ~64% laju respirasi lebih tinggi dan respons imun yang jauh lebih kuat, menekan Vibrio dan berujung pada pertumbuhan/survival yang lebih baik (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Pada larva Senegal sole, mikro‑diet high‑PL menghasilkan ukuran ~1,2–1,3× lebih besar di pekan pertama vs low‑PL; diet rendah PL memicu akumulasi vakuola lipid di usus, sementara high‑PL menjaga keseimbangan energi (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Secara umum, “larva ikan laut memerlukan kadar PL diet tinggi” untuk pertumbuhan dan survival optimal (pmc.ncbi.nlm.nih.gov).

Mikro‑diet modern menargetkan 5–15% dari total lipid sebagai PL untuk meniru pakan alami (mis. krill oil). Protokol hatchery seabream, misalnya, memperkaya Artemia >18 jam dengan “2 g DHA/kg Artemia, 0,2 g/kg rotifer” guna mendorong DHA masuk fraksi PL pakan hidup (link.springer.com). Dampak ekonominya jelas: diet dengan HUFA dan PL seimbang mempercepat weaning dan menurunkan deformitas—langsung mendongkrak yield.

Immunostimulant pada starter feed

Sistem imun larva belum matang; additive immunostimulant di pakan dapat mendongkrak survival. Coating starter diet dengan β‑glukan ragi (MacroGard®) 0,5 g/L (disalurkan via rotifer) melipatgandakan survival turbot first‑feeding: ~22,8% vs ~7% kontrol (www.sciencedirect.com). Pada common snook, campuran probiotik Bacillus di air pemeliharaan dan pakan hidup menaikkan survival larva ~2–2,5×, bahkan survival pasca‑transport bertambah ~20% (pmc.ncbi.nlm.nih.gov).

Efek ini terjadi tanpa mengubah intake pakan atau kualitas air, melainkan melalui modulasi imun bawaan (mis. peningkatan lisozim, komplemen). Pada krustasea, chitin/glucan (seperti kitosan, β‑glukan) lazim dipakai untuk “priming” imunitas. Meski data pada larva sangat dini masih terbatas, trennya konsisten: immunostimulant (β‑glukan, nukleotida, pro/prebiotik) menaikkan survival puluhan persen dalam uji terukur (www.sciencedirect.com) (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Catatan implementasi: “Indonesian hatcheries should note that the KKP regulations broadly allow natural additives; finished feeds with β‑glucans or probiotics are typically acceptable if sourced from food‑grade materials.”

Attractant untuk memicu konsumsi

ChatGPT Image Jan 27, 2026, 11_47_02 AM

Tepat saat weaning, banyak larva mengabaikan pakan inert kecuali sangat atraktif. Penambahan attractant kimia (asam amino, protein hidrolisat, fish solubles) mengerek intake secara drastis. Coating mikro‑diet dengan 5% krill hydrolysate menggandakan (~2×) ingestion pada larva perch dan whitefish; fraksi krill larut yang diteteskan ke air menghasilkan kenaikan intake 200% vs kontrol (www.researchgate.net). Praktisnya, larva yang diberi pakan kering ber‑attractant makan hampir setara dengan Artemia hidup.

Asam amino non‑esensial juga kuat efeknya. Pada juvenil, 2% fish protein hydrolysate (kaya glisin, alanin, prolin) memperbesar intake yang berujung pada pertumbuhan lebih tinggi (www.scielo.br) (www.scielo.br). Satu studi mencatat glisin dan prolin dari mangsa copepod memicu respons makan yang kuat pada larva ikan laut. Di pasar, attractant komersial (krill meal, squid hydrolysate, campuran betaine) lazim dimasukkan; contoh: mikro‑diet berbasis protein nabati yang ditambah fish solubles atau hydrolyzed blood meal menunjukkan kenaikan laju pertambahan bobot 20–30% vs kontrol (www.scielo.br). Rekomendasi praktis: 1–3% attractant (krill meal atau liquid fish protein untuk fry laut; atau campuran asam organik/asam amino sintetis untuk air tawar) memangkas waktu menuju full artificial feeding dan memperbaiki konversi pakan.

Baca juga:

Maintenance ERD Desalinasi: Efisiensi 95–98% & Checklist Alarm

Binder dan stabilitas partikel di air

Mikro‑diet harus utuh cukup lama di air agar dimakan; jika tidak, nutrien larut dan merusak kualitas air. Binder efektif (gelatin, alginat, pati, karagenan, CMC, dsb.) karenanya krusial. Target praktis: ≥90% bahan kering tetap utuh setelah 1 jam perendaman (www.ncbi.nlm.nih.gov). Perbandingan menunjukkan: partikel microbound tertentu nyaris hancur dalam 5 menit, sementara diet mikro‑enkapsulasi berdinding tebal kehilangan <7% massa setelah 60 menit (www.researchgate.net).

Menaikkan kadar binder juga membantu: moist pellet dengan 5% karagenan/CMC mempertahankan bahan kering lebih tinggi daripada 3% binder (www.ncbi.nlm.nih.gov). Di antara binder yang diuji, zein (protein) menunjukkan kebocoran nutrien terendah pada pakan larva dekapoda, diduga karena matriksnya yang hidrofobik (www.researchgate.net). Praktik industri memilih binder food‑grade; opsi umum termasuk alginat atau gelatin untuk microbound diet (digel via asam atau enzim, www.researchgate.net) serta karagenan/CMC pada pellet.

Catatan kinerja: binder terlalu kuat bisa memperlambat pencernaan, sehingga polysaccharide yang kompatibel dengan pencernaan lebih disukai. Satu ulasan menyarankan “praktiknya, dipilih binder yang dapat dicerna dan diasimilasi,” seperti pati dan gelatin (www.ncbi.nlm.nih.gov). Ikatan yang baik juga berarti ekonomi yang lebih baik: protein tidak terbuang ke efluen, FCR membaik. Kebocoran nutrien memperbesar beban polishing air; pada sisi utilitas, tahap akhir seperti cartridge filter dapat relevan untuk menangkap partikel halus (cartridge filter). Untuk kontrol mikroba pada sistem hatchery, opsi desinfeksi tanpa bahan kimia juga tersedia (ultraviolet).

Strategi weaning berbasis co‑feeding

Bahan “mahal” di atas paling efektif bila dipadukan dengan protokol. Alih‑alih switch mendadak, banyak hatchery melakukan co‑feeding pakan hidup dan mikro‑diet. Studi terbaru menunjukkan memulai mikro‑diet lebih awal dan lebih lama memberi hasil lebih baik. Pada gilthead seabream, larva yang dialihkan ke microparticle komersial (ProStart) di umur 3 dph (days post hatch, hari setelah menetas) dengan co‑feeding berkelanjutan mengembangkan enzim pencernaan lebih dini dan berujung bobot tubuh lebih tinggi serta deformitas lebih sedikit dibanding yang di‑wean pada 15 dph (link.springer.com). Menariknya, sekadar menggandakan Artemia “gagal mengkompensasi”—hanya mikro‑diet yang mendorong manfaat tersebut (link.springer.com).

Grup early co‑feeding memperlihatkan kenaikan aktivitas enzim (aminopeptidase dan chymotrypsin) dan berat kering lebih tinggi, sedangkan keterlambatan weaning berkorelasi dengan pertumbuhan terhambat dan deformitas lebih banyak (link.springer.com). Pada larva udang, penggantian penuh Artemia oleh mikro‑diet sudah tercapai secara komersial—survival dan pertumbuhan menyamai pakan hidup pada spesies seperti Penaeus monodon setelah optimasi.

Implikasi formulasi dan angka kunci

Setiap additive khusus memberi dampak terukur. HUFAs/PL menekan deformitas dan menguatkan metabolisme (mendorong ~20–30% percepatan pertumbuhan awal dalam uji coba, pmc.ncbi.nlm.nih.gov); immunostimulant dapat melipatgandakan survival 2–3× (www.sciencedirect.com) (pmc.ncbi.nlm.nih.gov); attractant dapat menggandakan atau melipat‑tiga laju makan (www.researchgate.net) (www.scielo.br). Binder yang tepat mencegah kebocoran nutrien (mencapai stabilitas 90+%: www.ncbi.nlm.nih.gov) dibanding hampir nol pada binder buruk.

Untuk manajemen hatchery yang praktis: formulasi mikro‑diet memasukkan ~2–5% sumber HUFA (minyak ikan atau alga) dan 5–10% fosfolipid bermutu tinggi (mis. marine lecithin). Campuran pakan berisi >1% attractant (krill meal, amino acid blend) dan >3% binder. Immunostimulant (mis. β‑glukan ~0,5 g/L via enrichment pakan hidup) dapat diberikan secara profilaksis, terutama pada kepadatan weaning tinggi. Perubahan ini berbasis data: fasilitas yang mengadopsi mikro‑diet yang diperkaya dan distabilkan sejak awal co‑feeding melaporkan throughput larva yang jauh lebih tinggi. Sebaliknya, mengabaikan faktor‑faktor di atas biasanya berujung mortalitas tinggi meskipun intake tampak memadai—terlihat pada larva kerapu Indonesia yang mencapai 22,3 mm di usia 35 hari namun “high mortality” tetap terjadi (jurnal.untidar.ac.id).

Baca juga:

ERD SWRO: Pressure Exchanger vs Pelton, Penentu Listrik Desalinasi KPI

Kesimpulan berbasis bukti

Formulasi weaning feed yang tangguh menargetkan celah yang sudah diketahui. Bukti peer‑review dan laporan industri konsisten: memasukkan HUFAs, PLs, immunostimulant, attractant, serta binder yang tepat memberi kenaikan survival dan pertumbuhan yang terukur (pmc.ncbi.nlm.nih.gov) (www.sciencedirect.com) (www.researchgate.net) (www.researchgate.net) (link.springer.com). Saat merancang pakan weaning untuk spesies baru atau menskalakan produksi, bisnis akuakultur sebaiknya menerapkan temuan ini secara kuantitatif—misalnya membandingkan survival (β‑glukan + probiotik vs kontrol) atau kenaikan intake dari attractant—dengan mengacu pada data persentase yang dilaporkan (www.sciencedirect.com) (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Kerangka regulasi (di Indonesia dan wilayah lain) umumnya memperbolehkan additive alami dan yang terdaftar untuk pakan ternak, sehingga peningkatan semacam ini biasanya dapat diimplementasikan.

Chat on WhatsApp 2212122qwa