Biaya Brine SWRO: Pipa Lepas Pantai vs Co-Disposal vs Deep-Well

Satu jalur pembuangan bisa memakan sepertiga biaya proyek. Co‑disposal dengan cooling water memotong capex, sementara deep‑well injection bisa setara ~$1/m³ jika formasi batuan mendukung—semuanya di bawah bayang regulasi Indonesia.

Industri: Desalination | Proses: Brine_Disposal

Ketika sebuah pabrik SWRO (seawater reverse osmosis—osmosis balik air laut) 38.000 m³/hari (10 MGD; million gallons per day) di California Selatan menghitung biaya, hanya paket intake/outfall pipa lepas pantai sudah menembus sekitar $200 juta—sekitar sepertiga total proyek (processdesign.mccormick.northwestern.edu). Biaya pipa cenderung naik seiring debit brine dan jarak ke laut lepas (intechopen.com) (processdesign.mccormick.northwestern.edu), sementara operasi pompa menambah ongkos sepanjang umur (lifecycle).

Alternatifnya? Mengikat brine ke aliran cooling water pembangkit listrik di pesisir, atau justru menyuntikkannya ke akuifer asin dalam (deep‑well injection). Dua opsi ini membawa implikasi biaya dan perizinan yang sangat berbeda dibanding pipa lepas pantai konvensional.

Baca juga:

Air Desalinasi Lapar Mineral: Kimia Anti Korosi Penentu Umur Pipa

Outfall pipa lepas pantai dan difuser

Solusi konvensional adalah outfall laut: pipa bawah laut (sering HDPE—high density polyethylene) berujung multiport diffuser. Biaya material dan civil works (penggalian, pengankeran, dsb.) untuk plant besar mudah mencapai ratusan juta dolar, meski mengesampingkan pompa. Biaya tipikal pipa bisa berada di kisaran $5–10 juta per km (tergantung diameter dan kondisi dasar laut), di luar instalasi (intechopen.com) (processdesign.mccormick.northwestern.edu). Biaya listrik pompa operasional relatif rendah (~$0.0005–0.001 per m³, bergantung head), tetapi tetap kalah oleh beban pengembalian modal.

Dari sisi teknis, difuser mengeluarkan jet berkecepatan tinggi yang mengentrap air laut sekitar untuk dilusi cepat, sehingga menekan dampak pada biota bentik (intechopen.com) (researchgate.net). Di perairan dalam dengan kemiringan dasar, single inclined jet efektif; di perairan dangkal atau arus lemah, multiport diffuser diperlukan untuk pencampuran yang cukup (intechopen.com) (intechopen.com). Desain biasanya mengoptimalkan kedalaman dan buoyancy untuk memenuhi “mixing zone” (zona pencampuran—wilayah di sekitar difuser di mana kenaikan salinitas di tepiannya dibatasi sangat kecil dari kondisi alami).

Tantangannya: konstruksi outfall “dapat merepresentasikan biaya substansial” dan berisiko mengganggu habitat sensitif seperti terumbu karang saat instalasi (researchgate.net). Energi pompa signifikan karena biaya pemompaan ∝ debit × head (intechopen.com) dan difuser wajib disetel untuk arus serta kedalaman lokal. Di Indonesia, brine desalinasi diklasifikasikan sebagai air limbah (limbah), sehingga buangan harus memenuhi baku mutu air laut nasional (PP 82/2001 dan aturan menteri terkait). Status limbah ini tersurat eksplisit (text-id.123dok.com), yang memicu keharusan pemodelan mixing zone dan izin lingkungan yang bisa memakan waktu—terutama dekat terumbu atau perikanan.

Di hulu proses, pabrik SWRO industri—termasuk aplikasi pembangkit listrik—sering menerapkan pretreatment untuk menjaga stabilitas operasi membran. Pretreatment tersebut lazim mencakup ultrafiltration (UF) sebagai penjaring partikel halus, misalnya integrasi unit seperti ultrafiltration sebelum train sea-water RO.

Co‑disposal dengan cooling water pembangkit

65ff2c9d-4fe7-41ed-a11d-7e1c2ec3296d

Alternatif yang sering dikutip: blending brine dengan effluent cooling water (CW) pembangkit listrik pesisir lalu dibuang melalui satu outfall. Cara ini dapat memangkas infrastruktur karena “menghilangkan kebutuhan dua outfall terpisah” (intechopen.com). Banyak pembangkit sudah melepas volume air laut yang besar; menambahkan brine ke jalur ini praktis “gratis” dari sisi civil works.

Debit CW biasanya sangat besar dibanding brine. Contoh, pembangkit 2.000 MW bisa menarik ~2,5 juta m³/hari air laut untuk kondensor dan membuang ~5% sebagai blowdown (~125.000 m³/hari) meski memakai cooling bersirkulasi. Sebagai pembanding, plant SWRO ~100.000 m³/hari menghasilkan ~25.000 m³/hari brine (ebin.pub). Aliran CW yang besar ini menurunkan salinitas campuran dan mengurangi stratifikasi densitas; bahkan kebutuhan energi jet bisa turun karena CW lebih hangat.

Manfaat biaya utamanya adalah penghematan capex: tidak perlu difuser kedua atau stasiun pompa terpisah. Studi desain Northwestern juga menyarankan pemanfaatan discharge industri eksisting untuk “secara signifikan menurunkan biaya modal” (processdesign.mccormick.northwestern.edu). Praktiknya, investasi fokus pada manifold pencampur dan mungkin upsizing pompa, bukan kilometer pipa. Operasional tahunan pun bisa turun karena suhu CW yang lebih hangat menurunkan kecepatan jet yang dibutuhkan untuk dilusi target.

Namun, discharge gabungan membawa dua parameter sekaligus: salinitas tinggi dan temperatur elevasi. Pembangkit once‑through harus memenuhi aturan termal—di Indonesia, PermenLH 8/2009 membatasi effluent hingga 45 °C—dan penambahan brine dapat mempersulit kepatuhan. Fluktuasi operasi (mis. saat pembangkit henti) mengubah rasio dilusi; terkadang perlu pompa suction/booster untuk menjaga blending stabil. Regulasi juga spesifik: karena brine dikategorikan limbah (text-id.123dok.com), izin buangan pembangkit mesti diperbarui untuk memasukkan TDS (total dissolved solids) dan parameter khas brine. Sisi positifnya, satu difuser yang memenuhi bagian terketat dari izin gabungan sudah cukup (intechopen.com), selama model menunjukkan dilusi dekat-sumber (near‑field) memadai.

Pada konfigurasi ko‑lokasi industri/pembangkit, sistem RO untuk air laut yang didesain untuk duty berat—seperti train sea-water RO—sering dipasangkan dengan paket dosing antiscalant melalui dosing pump agar beban scaling tetap terkendali; residu klorin dari desinfeksi biasanya diturunkan kembali dengan agen seperti dechlorinations agent demi memenuhi batas residu klorin di mixing zone yang disyaratkan regulasi.

Ringkasnya, co‑disposal bisa memangkas separuh (atau lebih) biaya outfall dengan meniadakan satu pipa dan memanfaatkan diluen yang sudah tersedia. Analisis berbasis data menunjukkan pra‑dilusi dengan cooling water “sangat” lebih disukai dibanding pembuangan brine saja di lokasi dangkal (intechopen.com) (intechopen.com). Trade‑off utamanya administratif: sinkronisasi operasi lintas fasilitas dan kepatuhan multi‑parameter.

Baca juga:

Air Desalinasi Lapar Mineral: Kimia Anti Korosi Penentu Umur Pipa

Deep‑well injection dan keterbatasan geologi

65ff2c9d-4fe7-41ed-a11d-7e1c2ec3296d

Opsi lain adalah menyuntik brine ke akuifer asin dalam yang terkonfin (deep saline aquifer). Jejak permukaan minimal dan, jika hidrogeologi mendukung, “menghindari sebagian besar kekhawatiran lingkungan” dari buangan permukaan (researchgate.net). Dalam kondisi ideal, ini sering “yang paling murah” karena meniadakan pengerukan dan difuser (researchgate.net). Tetapi kelayakannya sangat spesifik lokasi: dibutuhkan formasi berpori yang dalam dengan kapasitas cukup dan lapisan penutup yang andal.

Kenyataannya, sedikit lokasi pesisir punya geologi ideal untuk debit SWRO besar. Seringnya, kapasitas injeksi terbatas. Maliva dkk. mengingatkan injeksi “biasanya tidak layak untuk sistem SW desalinasi berkapasitas besar (≥38.000 m³/hari)” karena sedikit akuifer yang sanggup menampung laju buangan pekat setinggi itu (researchgate.net). Sebaliknya, plant air payau berkapasitas lebih kecil (brackish‑water) cenderung kandidat injeksi yang lebih baik; di segmen ini sistem brackish‑water RO dengan recovery tinggi menghasilkan volume brine lebih sedikit sehingga beban injeksi lebih realistis.

Dari biaya, injeksi bisa kompetitif hingga lebih murah per volume dibanding pipa. Tinjauan teknis terbaru menghitung ongkos pembuangan lewat sumur dalam sebesar **$0,54–2,65 per m³** konsentrat brine (ebin.pub). Sebuah studi desain untuk plant RO 100.000 m³/hari (brine 25.000 m³/hari) bahkan mempertimbangkan 12 sumur dalam ~800 m, diameter masing‑masing 150 mm (ebin.pub) (ebin.pub). Meski demikian, penulis menilai biaya injeksi “relatif mahal dibanding alternatif lain” secara per‑volume, tetapi catatan itu tertimbang oleh absennya ongkos besar untuk pekerjaan laut—praktis menukar biaya pipa‑difuser dengan biaya pengeboran.

Operasional memerlukan pompa bertekanan tinggi, tetapi energi biasanya moderat; beban besar ada di capex: pengeboran beberapa ratus meter di tanah kompleks. Sebagai konteks, porsi modal untuk mengebor banyak sumur dalam bisa “hanya” puluhan juta (mis. 10–20 M€ per sumur, tergantung kedalaman)—seringkali masih di bawah banderol $100–200 juta untuk pipa bawah laut jarak jauh.

Risiko teknis utama: kontaminasi akuifer dan overpressure. Studi historis menunjukkan injeksi ke akuifer pesisir dapat memperparah intrusi salin ke darat, seperti yang dievaluasi di Delta Nil (sciencedirect.com) (researchgate.net). Praktik terbaik menuntut investigasi hidrogeologi menyeluruh: uji tracer, pemantauan tekanan pori, dan segel geologi (kristalin/lempung) di atas zona injeksi. Ada juga risiko reaksi kimia batuan‑brine (presipitasi/pelarutan) yang bisa menyumbat formasi atau memobilisasi logam.

Regulator umumnya memperlakukan injeksi dalam tanah sebagai pembuangan limbah bawah permukaan yang memerlukan izin khusus (serupa sumur injeksi migas). Di Indonesia, injeksi efluen industri akan jatuh ke perlindungan air tanah (mis. PP 82/2001 dan aturan SDA) dan mungkin rezim injeksi di sektor tambang/panas bumi. Izin menuntut pemodelan hidrogeologi, sumur pantau, serta rencana kontinjensi jika sumur gagal—prosesnya bisa setara kompleksnya dengan perizinan outfall lepas pantai.

Di sisi hulu, kendali scaling pada train RO yang menghasilkan brine pekat lazim dilakukan melalui injeksi antiscalant—misalnya paket membrane antiscalants—yang didorong oleh dosing pump untuk akurasi; disiplin kimia hulu ini penting agar sumur injeksi tidak cepat tersumbat oleh presipitasi padat di downhole maupun formasi.

Perbandingan biaya dan dampak

Ringkasnya, **outfall lepas pantai** memikul capex sangat tinggi (sering puluhan juta per km pipa) namun andal dan terbukti. Pada proyek besar $100–1000 juta, porsi outfall bisa puluhan hingga ratusan juta—contohnya ~$200 juta pada proyek ~$600 juta (processdesign.mccormick.northwestern.edu). Opex pompa relatif kecil; namun kajian AMDAL/EIA (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan; environmental impact assessment) menambah risiko jadwal.

**Co‑disposal** dengan effluent eksisting biasanya memangkas capex drastis. Biaya marginal utamanya ada pada modifikasi (valve, manifold, pipa penghubung pendek), sering hanya beberapa juta dolar AS atau kurang. Kajian menyatakan co‑discharge “mengurangi total biaya outfall” (intechopen.com) dengan meniadakan pipa kedua. Debit gabungan yang lebih besar meningkatkan dilusi dan bisa membuat proyek yang tadinya marginal menjadi layak. Trade‑off: memastikan kepatuhan parameter ganda (salinitas + temperatur) dan manajemen operasi.

**Deep‑well injection** memindahkan beban dari laut ke bawah tanah. Secara unit biaya, bisa setara pompaan pipa—sekitar $1/m³ brine (dengan rentang **$0,54–2,65 per m³** menurut ebin.pub)—tanpa civil works kelautan. Tetapi kelayakannya ditentukan geologi: banyak wilayah pesisir (terutama di Indonesia dengan substrat vulkanik/terfraktur) mungkin tak punya target formasi yang jelas. Jika pun layak, anggaran perlu memasukkan banyak sumur dan pemantauan hidrogeologi berkelanjutan.

Pilihan akhirnya sangat spesifik lokasi: di pulau terpencil tanpa pembangkit terdekat, difuser lepas pantai mungkin satu‑satunya opsi meski mahal. Di lokasi dengan pembangkit di garis pantai berangin, co‑disposal sering paling menarik—praktik yang terlihat di sejumlah proyek Timur Tengah dan AS. Deep‑well injection paling menarik untuk plant inland/air payau di mana pipa bisa dihindari—tetapi untuk RO pesisir berkapasitas besar, ini relatif jarang.

Kepatuhan regulasi lintas opsi

  • Outfall laut memerlukan izin buangan laut, persetujuan mixing‑zone, dan persetujuan dampak lingkungan. Biasanya memicu telaah tata wilayah pesisir dan kawasan lindung di Indonesia. Desain harus memenuhi batas ketat untuk temperatur, klorin (dari antiscalant/desinfeksi produk), dan salinitas di tepi mixing‑zone.
  • Co‑disposal harus selaras dengan izin termal effluent. Di Indonesia, kenaikan TDS akan menjadi parameter baru pada LB (Laporan Baku Mutu) pembangkit berdasarkan PermenLH 8/2009; AMDAL eksisting mungkin perlu amandemen. Jika model pencampuran gabungan menunjukkan kepatuhan, regulator sering menyambut pengurangan jumlah outfall.
  • Injeksi memerlukan izin pembuangan air tanah. Praktiknya serupa perizinan injeksi di migas di Indonesia, mencakup kajian geohidrologi (sering bagian AMDAL). Setiap pelanggaran standar muka air dapat menghentikan operasi; pemantauan (tekanan injeksi, kualitas air baseline) adalah wajib.

Baca juga:

Fouling Membran RO: Biang 24% OPEX & Strategi Operator Desalinasi

Garis besar angka dan sumber

Survei literatur menyimpulkan alternatif pembuangan (co‑disposal, injeksi, atau pemanfaatan konsentrat) dikejar untuk “menurunkan biaya proyek dan dampak lingkungan.” Benchmarking oleh Arafat dan Ziolkowska menunjukkan injeksi ($0,5–2,6/m³) bisa lebih murah dibanding outfall kompleks—tetapi hanya jika sumur injeksi layak dibangun (ebin.pub). Pra‑dilusi dengan effluent (termasuk cooling water) bukan hanya memendekkan dilution length outfall, tetapi juga menghemat energi pompa (intechopen.com) (intechopen.com).

Kesimpulannya, meski pipa/difuser lepas pantai adalah rute tried‑and‑true, data menunjukkan pra‑dilusi konsisten menurunkan biaya outfall (intechopen.com) (intechopen.com), dan deep‑well injection berbiaya sekitar $1/m³ brine (ebin.pub). Menghapus satu outfall saja bisa memangkas jutaan dolar capex, sementara pengeboran beberapa sumur dalam (≈10–20 M€ per sumur, ebin.pub) tetap jauh di bawah harga pipa bawah laut jarak jauh. Setiap pilihan juga harus menimbang nilai kepatuhan lingkungan dan profil risiko proyek.

Sumber utama: Shrivastava dkk. (2021) tentang optimasi biaya outfall (intechopen.com) (intechopen.com); Maliva & Missimer (2011) untuk opsi injeksi (researchgate.net) (researchgate.net); analisis biaya unit injeksi (ebin.pub); serta ketentuan Indonesia (PP 82/2001; PermenLH 5/2014; 8/2009) yang mendefinisikan brine desalinasi sebagai limbah (text-id.123dok.com).

Chat on WhatsApp 2212122qwa