Cyanobacteria di kolam grow‑out mengisap oksigen malam hari, menaikkan pH siang hari, dan memicu crash DO yang merusak—dengan kerugian global mencapai jutaan dolar per tahun. Data terbaru menimbang algaecide berbasis tembaga dan peroksida, lalu menempatkan probiotik sebagai penyangga biologis dalam kerangka Integrated Pest Management (IPM).
Industri: Aquaculture | Proses: Grow
Di kolam hangat kaya nutrien, ledakan fitoplankton—khususnya cyanobacteria (alga biru‑hijau)—memiliki pola harian yang brutal: mengonsumsi oksigen terlarut/DO (dissolved oxygen) saat malam dan melepas basa hingga pH tinggi saat siang. Hasilnya adalah crash DO diurnal dan stres ekosistem yang merugikan budidaya, seperti didokumentasikan Global Seafood Alliance. Senyawa off‑flavor (geosmin, MIB) serta toksin (misalnya microcystins) menurunkan nafsu makan, menekan imunitas, hingga mematikan ikan atau udang (Global Seafood Alliance; PMC).
Secara global, harmful algal blooms (HABs) diperkirakan menghabiskan jutaan dolar per tahun bagi operasi akuakultur (PMC). Di Indonesia dan kawasan lain, limpasan nutrien yang meningkat dan faktor iklim membuat frekuensinya naik, sehingga kontrol bloom menjadi faktor kunci produktivitas.
Weaning Larva Hatchery: Mikro-Diet, HUFA, Binder Tingkatkan Survival
Dampak bloom dan indikator operasional
Di kolam grow‑out, gejala khas termasuk perubahan warna air, penurunan transparansi, dan fluktuasi DO/pH yang tajam. Senyawa geosmin/MIB memicu off‑flavor, sementara microcystins bersifat toksik (Global Seafood Alliance; PMC). Secchi disk (cakram untuk mengukur transparansi air) menjadi jangkar monitoring praktis dan akan muncul lagi saat membahas dosis kimia.
Kontrol kimia berbasis tembaga
CuSO₄·5H₂O (tembaga sulfat pentahidrat) adalah algaecide yang paling lazim di kolam budidaya karena murah dan efektif pada cyanobacteria. Dosis tipikal: 0,8–1,2 g CuSO₄ per m³ (≈0,2–0,3 mg Cu²⁺/L), terbukti menurunkan biomassa cyanobacteria tanpa mematikan alga hijau (Global Seafood Alliance; Global Seafood Alliance). Pada rentang ini, Cu²⁺ awal (≈0,1–0,3 mg/L) setara 10–30% dari 96h‑LC₅₀ (konsentrasi mematikan 50% organisme uji selama 96 jam) untuk juvenil udang (Global Seafood Alliance).
Data toleransi spesifik penting: paparan kontinu juvenil Litopenaeus pada 0,35 mg Cu²⁺/L (≈1,4 mg CuSO₄/L) menghasilkan 100% kelangsungan hidup, sementara 0,88 mg/L (3,5 mg/L CuSO₄) menyebabkan mortalitas total dalam enam minggu (Global Seafood Alliance). Tilapia (3 g) memiliki 96h‑LC₅₀ ≈8 mg Cu²⁺/L (Global Seafood Alliance), sedangkan nauplii udang jauh lebih sensitif (LC₅₀‑24h ≈10–15 µg/L Cu²⁺) (Global Seafood Alliance).
Kekerasan air, pH, dan alkalinitas memodulasi toksisitas: semakin asam dan rendah kesadahan karbonat, toksisitas Cu²⁺ meningkat (Global Seafood Alliance). Di kolam lunak/alkalinitas rendah (sering ditemui di tambak udang inland), dosis kecil dapat membuat Cu²⁺ bebas cepat menumpuk; sebaliknya di air keras atau payau, sebagian terinaktivasi. Secchi depth memandu dosis praktis: transparansi 15–25 cm lazimnya perlu ~0,8–1,0 g/m³ CuSO₄, sedangkan air sangat keruh (<10 cm) dapat butuh 1,5–2,0 g/m³ (Global Seafood Alliance). Uji hayati skala kecil pada sampel air kolam dengan beberapa hewan yang dibudidayakan direkomendasikan untuk menemukan konsentrasi kerja yang aman (Global Seafood Alliance), dan perlakuan tanpa mengaitkan dosis dengan total alkalinitas kerap tidak efektif (Global Seafood Alliance).
Penggunaan berulang punya sisi gelap: populasi Microcystis dapat menjadi toleran terhadap tembaga, berevolusi 4–12× lebih toleran setelah perlakuan berulang (Global Seafood Alliance). Ion tembaga juga berikatan dengan sedimen dan bahan organik, akumulatif di tanah kolam dan efluen (PMC), sehingga dari waktu ke waktu dapat menaikkan Cu latar dan merusak fauna bentik. Di sisi lain, CuSO₄ sangat ampuh pada cyanobacteria—membutuhkan ~5× dosis lebih rendah dibanding alga hijau (Global Seafood Alliance)—namun harus aplikatif secara bijak. Pedoman ASEAN 2013 di Indonesia mengizinkan tembaga sulfat untuk kolam (dengan pembatasan spesies), sementara algaecide lain seperti malachite green dilarang (doczz).
Aplikasi yang merata (good mixing) ditegaskan oleh studi untuk efektivitas lapangan (PMC). Dalam praktik, akurasi pengukuran dosis kimia dapat dibantu oleh perangkat dosing industri seperti dosing pump untuk meminimalkan variasi aplikasi.
Kontrol kimia berbasis peroksida
H₂O₂ (hydrogen peroxide, oksidator cepat) semakin diadopsi untuk menekan bloom. Pada dosis moderat, molekul ini selektif menyerang dinding sel cyanobacteria: kultur Microcystis berkurang ≈65% di uji in vitro pada ≈7 mg/L, dan uji kolam mengonfirmasi ~43% penurunan sel Microcystis setelah 1 jam (dosis 7 mg/L) (PMC). Perlakuan ini menyisakan alga lain dan tidak menunjukkan kerusakan insang pada tilapia maupun udang windu di kolam tersebut (PMC; PMC).
H₂O₂ cepat terurai menjadi air dan oksigen—keunggulan karena tidak meninggalkan residu toksik (EDIS). Rentang efektif yang dilaporkan di literatur 4–20 mg/L (PMC). Di atas ~10 mg/L, pelepasan O₂ yang sangat cepat berisiko penyakit gelembung gas (gas bubble disease), sehingga aplikasi lapang umumnya ≤10 mg/L. Kolam kerap membutuhkan pengulangan (mingguan atau dua mingguan) untuk menekan bloom yang berulang (PMC).
Turunan peroksida padat seperti sodium carbonate peroxyhydrate bekerja serupa, melepaskan H₂O₂ bertahap untuk mengatasi mat cyanobacteria di tepi kolam. KMnO₄ (kalium permanganat) mengoksidasi organik dan alga pada 2–5 mg/L, tetapi lebih sering dipakai sebagai desinfektan ketimbang algaecide selektif. Dampak bersih peroksida: O₂ naik, microcystins turun, bloom crash, dengan risiko minimal pada stok (tilapia dan udang tak menunjukkan stres perilaku di kolam terobati; PMC; PMC). Produk peroksida legal di banyak negara (misalnya Perkins® disetujui FDA di AS), namun regulasi Indonesia perlu dicek karena otoritas perikanan bisa mensyaratkan izin meskipun H₂O₂ tergolong benign.
Kendali biologis dengan bakteri menguntungkan

Probiotik—misalnya Bacillus spp., Nitrospira/Nitrosomonas (nitrifier), Pseudomonas, Rhodopseudomonas, dan bakteri asam laktat—mengonsumsi nutrien berlebih dan limbah, sehingga menekan alga merugikan dan patogen. Aplikasi dilakukan ke kolam atau lewat pakan sebagai strain tunggal atau konsorsium. Uji di tambak udang menunjukkan: baik campuran komersial Bacillus maupun mix multi‑spesies secara signifikan menurunkan NH₃ dan bakteri heterotrof, sekaligus menaikkan DO dan pH (PMC). Selama 8 minggu, terlihat hubungan terbalik NH₃ vs jumlah bakteri menguntungkan (TVC, total viable count), dan rerata DO serta pH lebih tinggi dibanding kontrol (PMC).
Pendekatan “synbiotic” (probiotik + prebiotik nabati) juga diuji: konsorsium bakteri pengoksidasi sulfur menurunkan ammonia‑N, nitrite‑N, dan phosphate‑P nyaris ke nol, menekan Vibrio/Aeromonas, sambil mempertahankan fitoplankton yang menguntungkan—dengan kenaikan hasil 625 kg biomassa udang dibanding baseline (Springer). Secara mekanistik, Bacillus spp. cenderung memecah organik secara aerob di air berkekerasan, mengonversi karbon terutama menjadi CO₂ ketimbang biomassa (PMC), dan mempercepat nitrifikasi yang mengoksidasi amonia menjadi nitrat sehingga nitrogen untuk alga berkurang.
Sejumlah strain probiotik memproduksi senyawa algisidal; banyak bakteri laut (mis. beberapa Pseudoalteromonas, Vibrionaceae) dapat langsung menghambat sel alga—pada satu skrining, lebih dari separuh dari 41 isolat menghambat kuat alga red‑tide Pavlova lutheri (PMC). Catatan: efek ini bisa kontra‑produktif di pembenihan yang mengandalkan pakan alga hidup. Dalam IPM kolam, targetnya memperkaya plankton non‑berbahaya; klaim bahwa inokulum campuran Bacillus/Nitrobacter/Pseudomonas menggeser komunitas menjauh dari cyanobacteria ada, tetapi bukti lapangan masih beragam (PMC).
Intinya, probiotik paling efektif sebagai “buffer preventif”: dengan menjaga amonia dan organik tetap rendah—tercermin dari kenaikan DO dan turunnya amonia (PMC)—jendela untuk bloom menyempit. Efeknya gradual, sehingga perlu manajemen berkelanjutan, bukan terapi sekali pakai. Untuk pengayaan awal, kultur starter bakteri seperti biological booster dan nutrien bakteri pendukung seperti bacterial nutrient sering dipasangkan dalam program bioaugmentasi.
Disinfeksi Artemia & Enrichment HUFA: Kunci Survival Larva Hatchery
Kerangka IPM pengendalian alga
IPM efektif menyatukan monitoring, praktik pemeliharaan, penyangga biologis, dan penggunaan kimia secara bijak. Pemantauan ketat—Secchi depth, pengukuran klorofil, hitung plankton—menetapkan ambang intervensi. Contoh: pembacaan Secchi <15–20 cm atau lonjakan klorofil cepat menjadi sinyal tindakan.
Praktik harian—pakan tidak berlebih, aerasi memadai, rasio N:P seimbang—mengurangi beban nutrien. Kontrol biologis menjadi lini pertama: mempertahankan “green‑water” (air hijau) dari alga hijau yang jinak melalui pemupukan terukur, serta menebar grazer seperti Daphnia spp., tilapia, silver carp, grass carp, atau filter‑feeder seperti kerang dapat menjaga fitoplankton tetap terkendali (PMC). Skema polikultur dan integrated multi‑trophic systems memanfaatkan pemakan alga/zooplankton untuk mendaur ulang nutrien.
Bioaugmentasi probiotik bersifat rutin: penambahan mingguan atau dua mingguan menunjukkan tren DO membaik dan nitrit/amonia turun (PMC; Springer). Teknik fisik seperti paddlewheel aerator, shading screen, atau clay/dispersant bisa dipakai preventif saat risiko bloom tinggi (mis. pasca pemupukan); efek samping ekologis minimal, meski butuh peralatan. Perangkat ultrasonik mulai dilirik untuk mengganggu buoyancy alga (di luar cakupan ini).
Saat bloom muncul, “spot treatment” kimia di area terdampak meminimalkan guncangan sistem: untuk scum cyanobacteria, dosis rendah tembaga atau peroksida biasanya merontokkan bloom cepat; diquat atau flumioxazin (herbisida) bisa ditujukan pada gulma filamentous. Protokol aplikasi meniru uji: algaecide disebar merata dan perilaku ikan diamati ketat (PMC). Untuk tembaga, penting menyangga alkalinitas atau memberi kapur pasca‑aplikasi untuk menetralkan ayunan pH dan mengikat kelebihan Cu; pedoman lapang kerap memakai acuan TA/100 (total alkalinity dibagi 100) untuk menetapkan dosis.
Contoh rencana IPM tilapia (hipotetis)
Monitoring mingguan diterapkan. Pra‑tebar, air menunjukkan nitrat moderat namun fosfat tinggi dan plankton tipis. Kolam diberi kapur hingga pH menengah 8 (menghambat cyanobacteria) dan diinokulasi alga hijau terpilih. Campuran probiotik diaplikasikan 0,01–0,03 g/m³ tiap 10 hari untuk menitrifikasi limbah. Hari ke‑15, alga hijau berkembang sehat, Secchi ~30 cm. Hari ke‑25, transparansi turun ke 12 cm dan warna air bergeser hijau‑keruh (indikasi lonjakan cyanobacteria). H₂O₂ 7 mg/L diaplikasikan merata; dalam ~2 jam cyanobacteria mundur ≈50% (PMC). DO sempat turun tipis namun pulih esok hari. Untuk pemeliharaan, alga hijau yang menguntungkan pulih dari sisa populasi. Probiotik ditambah lagi, dan CuSO₄ minimal (mis. 0,8 g/m³) dipertimbangkan jika bloom berulang—selalu dikalibrasi lewat uji skala kecil terhadap toleransi udang.
Disinfeksi Hatchery Efektif: Perbandingan Chlorine, Ozone, PAA & ClO₂
Target operasional dan kepatuhan regulasi
Manajemen adaptif lintas siklus menempatkan metode biologis sebagai default dan kimia sebagai korektif. Target terukur mengarahkan keputusan: amonia tak terionisasi <0,1 mg/L, Secchi >20 cm, plus pencatatan untuk keputusan obyektif. Di Indonesia, pendekatan ini klop dengan BMP pemerintah yang menekankan pembatasan input kimia berbahaya, selaras pedoman ASEAN tentang bahan kimia budidaya—CuSO₄ diperbolehkan (dengan batasan spesies) sementara malachite green dilarang (doczz). Ketika intervensi kimia diperlukan, akurasi dosis dan sebaran yang homogen—misalnya dibantu dosing pump—menjadi faktor kontrol kualitas proses.
Sebagai rangkuman, praktik yang didukung studi dan advis industri—termasuk angka dosis, capaian reduksi alga, hingga tingkat kelangsungan hidup ikan/udang—terpampang di sumber primer: Global Seafood Alliance (1; 2; 3; 4; 5; 6; 7), tinjauan PMC terkait H₂O₂ dan praktik sebaran (1), studi kolam probiotik (PMC), uji synbiotic dengan hasil biomassa (+625 kg) (Springer), catatan degradasi H₂O₂ (EDIS), serta ulasan mekanistik Bacillus dan aktivitas algisidal bakteri (PMC). Integrasi monitoring, probiotik, dan algaecide berdosis cermat memungkinkan penekanan bloom yang berkelanjutan sambil menjaga spesies budidaya dan ekosistem sekitar.
