Artemia bisa membawa 10^6–10^7 CFU/mL bakteri di cangkangnya. Tanpa protokol kimia dan enrichment yang presisi, beban mikroba meledak saat penetasan dan memangkas kelangsungan hidup larva.
Industri: Aquaculture | Proses: Hatchery_&_Larval_Rearing
Inilah realitasnya: pakan hidup adalah jalur utama masuknya patogen ke bak penetasan. Cangkang kista Artemia rutin membawa 10^6–10^7 CFU/mL (colony-forming units per mL) bakteri, mayoritas Vibrio, yang melonjak saat penetasan—terutama pada kepadatan kista dan suhu tinggi—hingga memicu wabah penyakit larva (www.fao.org). Jawabannya bukan sekadar aerasi lebih kencang, melainkan disiplin chemical disinfection sebelum menetas dan enrichment (pengkayaan nutrisi) yang terukur untuk rotifer dan Artemia.
Standar lapangan kini jelas: disinfeksi kista dengan hipoklorit, opsi decapsulation untuk sterilitas maksimal, lalu bioenkapsulasi HUFA (highly unsaturated fatty acids) dan mikronutrien yang terbukti meningkatkan ketahanan stres. Semua langkah ini bertumpu pada kultur mikroalga berkualitas—idealnya axenic (bebas patogen)—dengan media nutrien lengkap agar rantai pakan hidup tidak “kurus” di hulu.
Disinfeksi Hatchery Efektif: Perbandingan Chlorine, Ozone, PAA & ClO₂
Disinfeksi kimia kista Artemia
FAO merekomendasikan perendaman 30 menit pada ~200 mg/L sodium hypochlorite (NaOCl; cairan pemutih) di kepadatan ~50 g kista/L (www.fao.org). Praktiknya, tambahkan ~20 mL NaOCl 11–13% per 10 L air laut, lalu bilas menyeluruh di saringan 125 µm hingga hilang bau klorin (www.fao.org). Cuci pemutih sederhana ini menurunkan beban bakteri >99,9% (www.fao.org) (www.fao.org) dan menghasilkan nauplii “disinfected”. Dosis bahan kimia yang presisi membantu; pada banyak hatchery, pengontrolan injeksi lebih stabil saat menggunakan pompa kimia seperti dosing-pump.
Decapsulation untuk sterilitas dan nilai pakan
Untuk sterilisasi menyeluruh, banyak hatchery menggabungkan hipoklorit dan alkalinitas dalam proses decapsulation (penghilangan cangkang via oksidasi). Alurnya: hidrasi kista 1–2 jam; perlakukan dengan larutan NaOCl kuat—contoh 0,5 g hipoklorit aktif per g kista—yang dibuffer ke pH 10–11 (dengan NaOH atau Na2CO3) (www.fao.org). Aerasi dan pendinginan es menjaga suhu ~15–20 °C saat cangkang teroksidasi. Dalam ~3–15 menit, ditandai perubahan warna kista abu-abu/oranye, segera angkat dan bilas tuntas untuk menghilangkan sisa hipoklorit (www.fao.org), lalu netralisasi akhir dengan asam encer (0,1 N HCl) atau 0,1% sodium thiosulfate (www.fao.org). Catatan lapang di Buleleng (Bali) menyebut nauplii hasil decapsulation “free from contaminants, fungi and other harmful microorganisms” (dkpp.bulelengkab.go.id).
Manfaat nutrisinya nyata: nauplii decapsulated memiliki ~30–55% lebih banyak energi per individu dan angka tetas sering meningkat signifikan (www.fao.org) (www.fao.org). Pada berbagai strain kista, output tetas naik +23–144% (www.fao.org) (www.fao.org). Di pembenihan ikan mas, pemakaian kista decapsulated memangkas kebutuhan Artemia ~33% dibanding memberi nauplii hidup (www.fao.org). Untuk kendali residu klorin yang konsisten saat netralisasi, fasilitas sering mengandalkan sistem pendukung dan aksesori pengolahan air seperti water treatment ancillaries agar alur kerja higienis tetap rapat.
Oksidator alternatif dan kontrol viabilitas
Pengganti atau pelengkap pemutih: celup hydrogen peroxide (H2O2) 5% selama 5–10 menit pada kista terhidrasi penuh dilaporkan menurunkan mikroba lebih jauh tanpa merusak viabilitas (www.fao.org). Namun paparan H2O2 sensitif waktu/suhu: overexposure bersifat toksik; jaga durasi ≤10 menit dan bilas segera (www.fao.org) (www.fao.org). Iodophors (povidone-iodine) atau halogen lain jarang untuk kista, lebih lazim pada telur ikan. Apa pun agennya, pembilasan dan netralisasi mesti ketat, dan sukses tetas dipantau untuk mengonfirmasi viabilitas.
Di praktik hatchery, disinfeksi rutin (bleach, peroxide, atau kombinasi) telah menjadi standar karena “live food can be an important source of pathogenic bacteria” (www.fao.org), serta mencegah beban Vibrio dan jamur di bak tetas yang sebaliknya bisa mencapai ~10^7 CFU/mL (www.fao.org).
Enrichment HUFA pada rotifer dan Artemia
Rotifer dan nauplii Artemia baru menetas miskin LC‑PUFA (long‑chain polyunsaturated fatty acids seperti EPA, DHA, ARA) dibanding pakan alami copepod; pakan hidup yang tidak diperkaya menimbulkan defisiensi yang menekan pertumbuhan dan imunitas (pmc.ncbi.nlm.nih.gov) (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Solusinya adalah bioenkapsulasi: memberi pakan hidup emulsi/kaya nutrisi menjelang distribusi. Emulsi HUFA komersial (mis. Super Selco®, DHA Selco®, Selco S.presso®) banyak dipakai untuk mendongkrak DHA/EPA (pmc.ncbi.nlm.nih.gov).
Contoh kerja: Artemia diperkaya dengan ~0,2–0,5 g/L emulsi dan diaerasi ~12–24 jam (sering dimulai ~6 jam pascamenetas). Dalam satu studi, 18 jam enrichment dengan emulsi mikroalga kaya DHA menaikkan DHA Artemia dari 0,61% menjadi 3,15% dari total asam lemak—sekitar 5×—dan melipatgandakan 22:5n‑6 (DPA) (~3×) (pmc.ncbi.nlm.nih.gov) (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Postlarva Penaeus vannamei yang memakan Artemia diperkaya ini menunjukkan kandungan DHA jaringan ~70% lebih tinggi (9,8% vs 5,8% dari total asam lemak) dibanding kontrol, diikuti perkembangan hepatopankreas yang lebih kokoh dan integritas sel yang lebih baik, meski panjang udang total tidak berubah (pmc.ncbi.nlm.nih.gov) (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Uji hatchery terbitan menunjukkan enrichment HUFA menaikkan EPA/DHA jaringan larva 2–3× dan memperbaiki toleransi stres (pmc.ncbi.nlm.nih.gov) (pmc.ncbi.nlm.nih.gov).
Temuan serupa muncul pada larva ikan: rotifer yang diperkaya DHA mendukung kelangsungan hidup dan pertumbuhan lebih tinggi; tinjauan MDPI menunjukkan DHA rotifer dapat dinaikkan dari ~0,1% menjadi >15% dengan ko-pakan mikroalga dan emulsi (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Praktiknya, rotifer sering diperkaya 12–24 jam pada kepadatan 15–20 ×10^3 sel/mL dengan emulsi seperti instant DHA yeast atau pasta mikroalga; hal ini mempercepat ekuilibrasi asam lemak. Meta-analisis menegaskan bahwa menaikkan DHA/EPA rotifer memperbaiki luaran larva (pmc.ncbi.nlm.nih.gov) (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Sebagai contoh, satu enrichment menaikkan DHA larva cod ~1,7× dan survival >>X% (data above).
Weaning Larva Hatchery: Mikro-Diet, HUFA, Binder Tingkatkan Survival
Ko-enrichment vitamin dan mineral
Selain lipid, pakan hidup sering defisit mikronutrien. Rotifer mengandung jauh lebih sedikit vitamin C, yodium, zinc, selenium, dan lain-lain dibanding copepod (pmc.ncbi.nlm.nih.gov) (www.researchgate.net). Kekurangan ini dapat menghambat pertumbuhan dan menurunkan survival. Praktik terbaik adalah ko-enrichment: menambahkan suplemen vitamin/mineral saat proses enrichment. Pemberian ascorbyl palmitate (vitamin C stabil) pada rotifer dilaporkan menaikkan pertumbuhan larva secara signifikan (pmc.ncbi.nlm.nih.gov).
Rotifer yang diperkaya yodium dan selenium (menyamai level pada copepod) menghasilkan larva cod Atlantik dengan survival 32% lebih tinggi daripada kontrol (www.researchgate.net). Bahkan jejak nutrien penting: rotifer biasanya membawa ~50–90% lebih sedikit Zn, Se, dan I ketimbang copepod (www.researchgate.net) (www.researchgate.net). Dosis praktis yang dilaporkan: 1–5 mg/L Se atau 0,5–1 mg/L iodin pada bath rotifer/Artemia meningkatkan ketahanan stres dan resistensi penyakit pada larva ikan sirip (c.f. Hamre et al., 2008).
Probiotik sebagai ko-enrichment mikroba
Pemberian bakteri menguntungkan pada pakan hidup terbukti mengangkat kelangsungan hidup larva secara tajam. Pada satu uji hatchery udang di Indonesia, rotifer dan Artemia yang diperkaya probiotik Bacillus (B. licheniformis + B. subtilis pada 10^6 CFU/mL) menghasilkan survival larva ~65% versus ~25% pada kontrol (kenaikan 2,6×) (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov). Larva yang diberi pakan ini juga tumbuh ~30% lebih besar (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov). Bacillus diduga menandingi Vibrio oportunistik dan menghasilkan enzim pencernaan, memperbaiki kesehatan usus; hasil serupa dilaporkan dengan Bacillus, Lactobacillus, atau Phaeobacter (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov).
Praktik yang disarankan: masukkan probiotik saat enrichment (mis. ko-kultur plankton pada 10^5–10^6 CFU/mL selama beberapa jam) ketimbang langsung ke bak larva. Pendekatan ini menurunkan bakteri patogen pada pakan dan air di sekitarnya.
Protokol terukur dan verifikasi outcome

Enrichment efektif membutuhkan parameter yang dikuantifikasi: inkubasi rotifer atau Artemia dalam green water dengan >200 mg/L emulsi DHA atau campuran mikroalga (Isochrysis, Nannochloropsis, Chlorella) selama 12–24 jam (www.fao.org) (www.fao.org), lalu bilas atau pindahkan ke air bersih sebelum ditebar. Verifikasi dapat dilakukan dengan uji analitik (mis. gas chromatography pada subsampel pakan) untuk memastikan level asam lemak target tercapai. Sejumlah studi mengaitkan enrichment ini dengan kenaikan terukur pada pertumbuhan, survival, dan ketahanan stres larva (pmc.ncbi.nlm.nih.gov) (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov).
Kultur mikroalga bebas patogen
Kultur “starter” mikroalga yang berkualitas—seperti Isochrysis galbana, Nannochloropsis oculata, Chaetoceros calcitrans, Tetraselmis sp.—adalah pondasi pakan hidup. Gunakan kultur axenic (bebas patogen) atau setidaknya terkendali; kontaminan kecil (bakteri, protozoa, alga kompetitor) bisa menjatuhkan kultur atau menyuntikkan patogen ke rotifer/ikan. Sumber kontaminasi utama: inokulum awal, media kultur (air laut yang tidak difiltrasi), udara, dan wadah (www.fao.org). Praktik baik: dapatkan strain dari koleksi kultur tepercaya dan sterilkan peralatan/fluida (mis. labu yang bisa diautoklaf dan air laut yang difilter 0,2 µm).
Karena kultur sepenuhnya axenic berbiaya tinggi, banyak farm beroperasi secara “xenic” namun ketat mengelola kualitas air. Air laut masuk sering difiltrasi lewat media pasir/karbon dan disterilkan UV untuk meminimalkan mikroba (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Di praktik, lini pretreatment lazim memadukan filter media seperti sand-silica dan activated-carbon sebelum disinari ultraviolet 99,99% kill rate. Untuk aplikasi food grade, housing steril yang sesuai seperti ss-cartridge-housing membantu menjaga higienitas. Tangki dan alat transfer disanitasi antar batch; kultur dijaga pada densitas moderat (mis. ≤2×10^6 sel/mL) agar tidak terjadi self‑shading/deplesi oksigen; pemantauan berkala (mikroskopi atau PCR) menangkap penyerbu berbahaya lebih dini.
Kebutuhan nutrisi media kultur
Pertumbuhan alga menuntut suplementasi nutrien yang presisi. Praktik umum adalah resep air laut yang diperkaya seperti Walne atau Guillard’s F/2 (www.fao.org) (www.fao.org) yang memasok nitrogen (N), fosfor (P), silika (untuk diatom), trace metals, dan vitamin. F/2 menyediakan ~75 mg/L nitrate–N, 5 mg/L phosphate–P, dan 30 mg/L silikat (untuk diatom) (www.fao.org), plus Fe mikro‑molar (sebagai FeCl3) serta Co, Cu, Mn, Mo, Zn dan EDTA chelate (www.fao.org), dan vitamin tiamin (B1), sianokobalamin (B12) dan biotin (www.fao.org).
Banyak hatchery menyederhanakan pemupukan (urea atau ammonium salts plus K2HPO4 dan campuran mikronutrien) untuk memangkas biaya (www.fao.org). Namun melewatkan mikronutrien memperlambat pertumbuhan: alga yang kekurangan Fe atau vitamin drastis menurunkan densitas sel dan kandungan HUFA. Kekurangan Fe sering membuat alga menimbun lipid namun berhenti membelah—output biomassa turun (artinya yield pakan total menurun). Rasio N:P yang tepat (~15:1 Redfield) memaksimalkan protein alga, yang pada gilirannya menguntungkan zooplankton. FAO mencatat bahwa enrichment air laut yang tidak memadai sangat membatasi hasil fitoplankton dan pertumbuhan larva—misalnya rotifer yang diberi alga “under‑fertilized” mengalami penurunan protein dan HUFA >20% (www.fao.org).
Sebaliknya, kultur yang dipupuk baik dapat mencapai >10^7 sel/mL dan ~0,5–1,0 g/L biomassa kering dalam hitungan hari. Bagi pengambil keputusan, pesannya gamblang: pasokan nutrien yang andal itu kritis. Investasi pada reagen berkualitas (garam analitik untuk stok, atau pupuk grade akuakultur tepercaya) terbayar dalam reliabilitas alga dan mutu pakan hidup. Output dipantau dengan uji sederhana: target klorofil dan hitungan sel dalam rentang optimal (mis. 1–5 ×10^6 sel/mL untuk diatom Thalassiosira atau Chaetoceros). Untuk mengalirkan bahan kimia nutrien secara konsisten, laboratorium hatchery kerap mengandalkan perangkat injeksi presisi seperti dosing-pump.
IPAL Kompak Hatchery: Tekan Nitrogen, Fosfat & Klorin Sesuai Regulasi
Kesimpulan operasional
Di hulu, disinfeksi kista yang disiplin—200 mg/L NaOCl 30 menit di 50 g/L, atau decapsulation terukur dengan 0,5 g hipoklorit/g kista pada pH 10–11 di 15–20 °C selama 3–15 menit, lalu netralisasi 0,1 N HCl atau 0,1% sodium thiosulfate—memotong beban mikroba >99,9% dan menekan lonjakan Vibrio/jamur (~10^7 CFU/mL) (www.fao.org) (www.fao.org). Di hilir, enrichment HUFA, vitamin-mineral, dan probiotik—dengan parameter yang dikuantifikasi dan verifikasi analitik—secara konsisten terkait dengan kenaikan pertumbuhan, survival, dan ketahanan stres larva (pmc.ncbi.nlm.nih.gov) (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov). Semua itu bertumpu pada kultur mikroalga yang bersih, dipupuk lengkap (Walne/F/2), dan pasokan air masuk yang difiltrasi serta disterilkan UV—area di mana penggunaan filter media dan UV seperti sand-silica, activated-carbon, dan ultraviolet relevan menjaga baseline higienitas.
