Hot Break di Kettle: pH 5,2, Ca²⁺ & Carrageenan Pangkas Haze 10×

Koagulasi hot break bukan kebetulan. Data menunjukkan pH wort ≈5,2 (ukur suhu ruang), kalsium moderat, dan boil yang beringas memperbesar flok protein‑tannin, sementara carrageenan (Irish moss/κ‑carrageenan) mengonsolidasikannya, memotong haze hingga ~6x dan dosis media filtrasi 8–10x.

Industri: Brewery | Proses: Boiling

Selama wort boiling, protein dan tanin membentuk kompleks tak larut yang dikenal sebagai hot break atau hot trub (endapan panas). Ukuran dan jumlah hot break ini sangat sensitif terhadap kimia wort dan kondisi rebus. Penelitian dan praktik industri menyarikan tiga tuas proses yang paling berpengaruh: pH wort, konsentrasi kalsium, dan vigor boil. Setelah itu, kettle finings berbasis carrageenan (Irish moss/κ‑carrageenan) berperan sebagai “jaring” yang membuat flok lebih besar dan cepat mengendap.

Rangkuman datanya gamblang: target pH rebus sekitar 5,2 (diukur pada suhu ruang) memaksimalkan pembentukan break tanpa merusak ekstraksi hop, kalsium di kisaran 50–150 mg/L mempertebal trub lewat penurunan pH dan pengikatan muatan, dan boil yang beringas selama 60–90 menit memperbesar peluang tumbukan partikel. Di tahap akhir, carrageenan yang didosis tepat mengurangi haze pra‑lagering dari ~70 menjadi ~12 EBC dan memungkinkan dosis diatomaceous earth (DE, media saring) turun ~8–10 kali lipat, dengan kejernihan <1 EBC (Poreda et al., 2015).

Baca juga: 

Biaya Brine SWRO: Pipa Lepas Pantai vs Co-Disposal vs Deep-Well

Kimia pH wort dan titik isoelektrik protein

Secara elektrokimia, muatan protein ditentukan pH. Ketika pH turun mendekati titik isoelektrik (pI ~4,9 untuk mayoritas protein malt), protein kehilangan muatan dan menggumpal (braukaiser.com). Itulah mengapa banyak brewer menargetkan pH rebus sekitar 5,2 (ukur suhu ruang) — level ini memaksimalkan hot break tanpa terlalu mengorbankan pemanfaatan hop (crispmalt.com; forum.homebrewersassociation.org).

Dalam praktiknya, pH wort turun sekitar 0,1–0,2 unit sepanjang 60–90 menit boil (misalnya dari ~5,8–5,9 menjadi ~5,6–5,7) akibat presipitasi fosfat dan senyawa alkali lainnya (crispmalt.com; braukaiser.com). Menurunkan pH lebih jauh (melalui asam atau garam Ca²⁺) memperbesar flok (byo.com), namun dapat menurunkan kepahitan hop. Seorang praktisi menyebut “the best possible hot break” terjadi saat pH kettle mencapai ~5,1–5,2 sebelum finings (forum.homebrewersassociation.org) — selaras dengan praktik industri (Crisp melaporkan pH optimal trub ≈5,2; crispmalt.com).

Ringkasnya, pH wort ~5,2 (akhir rebus) ideal; variasi kecil (±0,1–0,2) menghasilkan perubahan terukur pada ukuran flok dan kejernihan. pH lebih tinggi (mis. ~5,4) memunculkan flok lebih kecil dan haze lebih tinggi. Braukaiser mencatat pH ~5,3 memberi koagulasi moderat, sementara ~5,1 menghasilkan flok lebih besar; menaikkan pH kettle (contoh dengan baking soda) secara signifikan menurunkan pembentukan trub (byo.com; crispmalt.com). Pemantauan praktis: jaga pH 5,1–5,3 sepanjang boil; deviasi 0,2 unit terlihat jelas di ketel. Catatan: semua rujukan pH di sini adalah “room‑temperature measure”.

Peran kalsium dalam koagulasi hot break

Kation divalen, khususnya Ca²⁺, sangat memperkuat hot break. Kalsium bereaksi dengan fosfat wort membentuk kalsium fosfat tak larut, sambil melepaskan H⁺ yang menurunkan pH (goodbeer.solutions; crispmalt.com). Air dengan kalsium tinggi (mis. 100+ mg/L Ca) mempercepat penurunan pH dan memberi wort lebih gelap (Maillard browning). Umumnya brewer menargetkan ~50–150 mg/L Ca²⁺ di mash/wort; pada level ini, presipitasi Ca–fosfat secara material meningkatkan koagulasi protein. Murphy & Sons mencatat “calcium has an almost ‘chicken and egg’ effect” pada presipitasi protein di mash dan boil (goodbeer.solutions). Brew Your Own menegaskan Ca²⁺ “aids protein aggregation by binding proteins together” (byo.com).

Secara kuantitatif, menaikkan Ca dari ~10 menjadi ~100 mg/L dapat menurunkan pH mash/wort 0,2–0,5 unit via presipitasi Ca‑fosfat (goodbeer.solutions) dan berkorelasi dengan trub yang lebih padat. Worts dengan Ca²⁺ 10× lebih tinggi (10→100 mg/L) umumnya turun ke pH akhir boil ~5,3–5,4, sementara “very soft water” bertahan di ~5,5–5,6 (goodbeer.solutions; braukaiser.com), dan wort dengan Ca lebih tinggi meninggalkan hot wort yang secara nyata lebih jernih. Terlalu sedikit kalsium (air “soft” <20 mg/L) menghasilkan protein dropout yang buruk; terlalu banyak (>200 mg/L) memberi manfaat menurun dan sering butuh penyesuaian resep (mis. dosis hop) karena pH turun lebih jauh (goodbeer.solutions; crispmalt.com). Magnesium >50 mg/L dapat mengganggu presipitasi Ca (Mg‑fosfat lebih larut) dan umumnya dijaga rendah (goodbeer.solutions).

Dalam operasi harian, kalibrasi kimia air sehingga kalsium menetralkan alkalinitas wort dan berkontribusi pada penurunan pH ~0,1–0,2 unit di akhir boil (goodbeer.solutions; crispmalt.com) akan memperbaiki pembentukan break secara nyata. Untuk penambahan asam atau garam Ca²⁺ yang presisi, penggunaan peralatan dosing yang akurat seperti dosing pump membantu kontrol setpoint pH dan konsentrasi ion.

Vigor dan durasi rebus: turbulensi versus shear

ChatGPT Image Jan 30, 2026, 10_57_11 AM

Intensitas dan durasi boiling sangat memengaruhi trub. Boil yang beringas (turbulensi kuat, sirkulasi konvektif, laju evaporasi tinggi) memperbesar peluang tumbukan dan aglomerasi protein‑tannin yang terdenaturasi. Crisp menulis tegas: “Trub formation is helped by the vigour of the boil, the rate of energy added, [and] the duration of the process – essentially the evaporation rate!” (crispmalt.com). Secara praktis, boil yang “rolling” ~1–2 cm memberi hasil break lebih baik ketimbang simmer.

Dari sisi waktu, manfaat pembentukan break meningkat hingga ~90 menit; melampaui ~90–120 menit, gaya geser (shear) dari boiling justru dapat memecah flok besar menjadi partikel lebih kecil yang lambat mengendap (byo.com). Secara empiris, simmer atau boil lemah dapat memangkas pembentukan hot break hingga ~50% (crispmalt.com). Sebaliknya, boil beringas mempercepat koagulasi break dan menghasilkan whirlpool cone yang lebih padat — penting untuk kejernihan hilir (braukaiser.com).

Baca juga:

Keramik vs Korosi ERD SWRO: Material Unggul & Pretreatment Ketat

Kettle finings berbasis carrageenan

Mekanismenya: kettle finings seperti Irish moss, Whirlfloc tablet, atau Protafloc granule adalah polimer carrageenan (utama κ‑carrageenan) bermuatan negatif yang diekstrak dari rumput laut merah. Ditambahkan di akhir boil, carrageenan mengadsorpsi protein dan agregat protein‑tannin (yang cenderung bermuatan positif/ netral dekat pI), membentuk “jaring” yang menariknya keluar dari larutan (braukaiser.com; byo.com; goodbeer.solutions). Studi menunjukkan carrageenan tidak menambah total protein terpresipitasi, tetapi membuat flok lebih besar dan cepat mengendap; Lewis & Bamforth: “carrageenan (e.g. Irish Moss) in the boil does not increase the protein precipitation but it causes formation of larger flocs that settle more quickly” (braukaiser.com).

Tipe produk: Irish moss tradisional (Chondrus kering) perlu >10 menit untuk mengekstrak bahan aktifnya. Produk modern (Whirlfloc, Koppakleer) mengandung κ‑ dan λ‑carrageenan termurnikan dalam bentuk tablet/serbuk dengan hasil yang lebih reprodusibel; κ‑carrageenan murni (mis. Protafloc) bersifat sangat larut air dan sangat aktif (goodbeer.solutions). Secara praktik, κ murni butuh dosis lebih rendah dan meninggalkan lebih sedikit sedimen; banyak brewer profesional memilih tablet/granula carrageenan (κ+λ) atau κ murni untuk kejernihan maksimum. Catatan regulasi: Whirlfloc tidak diizinkan oleh Reinheitsgebot Jerman (braukaiser.com).

Efektivitas (data): Poreda et al. (2015) menambahkan 50 mg/L carrageenan saat flameout dan mendapati haze pra‑lagering turun dari ~70 ke ~12 EBC (~6× lebih rendah) (researchgate.net). Setelah filtrasi DE, bir yang diberi carrageenan dan difiltrasi dengan 40 g/hL DE menjadi jernih (~1 EBC), sedangkan kontrol pada dosis DE tinggi yang sama menghasilkan ~34 EBC (researchgate.net; researchgate.net). Bahkan hanya ~5 g/hL DE dengan carrageenan mencapai kejernihan lebih baik (<1 EBC) dibanding 40 g/hL pada wort tanpa carrageenan (researchgate.net). Murphy & Sons mencatat klarifikasi kettle yang efektif “shortens fermentation and storage times by several days” karena beban ragi/lipid lebih rendah (goodbeer.solutions).

Panduan pemilihan dan penggunaan finings

Waktu dosis: tambahkan pada 10–15 menit terakhir boil (umum pada sisa 15 menit) — pada tahap ini wort mendekati 100 °C dan protein siap berkoagulasi. Terlalu awal kurang efektif (degradasi), terlalu akhir berisiko berkurang efek selama chilling (byo.com).

Dosis: umumnya 50–150 mg/L (5–15 g/hL) carrageenan aktif. Homebrewer lazim memakai ~0,75–1,5 sdt (≈3–6 g) per 5 galon (19 L), setara ~0,1–0,2 g/L (10–20 g/hL) (byo.com). Fermenter komersial umumnya 5–15 g/hL; Poreda et al. menemukan 50 mg/L optimal pada malt yang mereka uji (researchgate.net). Mulai dari rekomendasi produsen; sebagai contoh, sebagian menyarankan ~1–2 g/hL sebagai panduan awal. Pre‑mix finings dalam air mendidih (2–3 L per 100 L wort) untuk pembasahan lengkap, masukkan sambil diaduk 1–2 menit, lanjutkan boil hingga selesai. Pada sistem besar, resirkulasi singkat meningkatkan kontak.

Seleksi: Irish moss mentah lebih murah namun kurang potent dan cenderung meninggalkan partikel; tablet (mis. Whirlfloc) adalah campuran κ dan λ yang cepat larut namun mengandung filler; κ‑carrageenan murni (Protafloc/Kappa) paling aktif, netral pH, dan meninggalkan debris minimal, biasanya butuh dosis lebih rendah (goodbeer.solutions; braukaiser.com). Cocokkan dengan gaya bir: lager/blonde paling diuntungkan; untuk gaya gelap atau unfiltered, finings bisa diabaikan untuk mempertahankan protein rasa. Verifikasi kepatuhan setempat (mis. Whirlfloc tidak diizinkan oleh Reinheitsgebot; braukaiser.com).

Dampak yang diharapkan: penggunaan yang tepat menghasilkan wort jernih dalam hitungan menit pasca whirlpool, bukan jam. Satu studi menunjukkan haze berkurang ≈90% pasca fermentasi dengan carrageenan (researchgate.net). Secara kuantitatif, dosis 50 mg/L menghemat >80% pemakaian DE dalam uji lab (researchgate.net). Praktik lapangan menunjukkan volume cold‑break (trub cone) meningkat puluhan persen dan fermentasi finis 1–3 hari lebih cepat ketika kettle finings digunakan.

Kewaspadaan: dosis berlebih dapat “mengupas” terlalu banyak protein; sedimentasi jadi fluffy dan meninggalkan banyak wort di trub, serta mengurangi protein pembentuk head (byo.com). Pastikan hidrasi sempurna; gumpalan kering menurunkan efektivitas. Catatan proses: jika pH kettle konsisten tinggi (>5,4), perlu tambahan kalsium atau finings. Dalam skenario air proses yang terlalu lunak akibat pelunakan, pahami bahwa sistem seperti softener memang menghilangkan ion kalsium dan magnesium; strategi kimia harus menutup kebutuhan Ca²⁺ proses.

Dampak hilir: kejernihan wort dan beban filtrasi

Kombinasi pH ~5,2, Ca²⁺ yang memadai, dan boil beringas adalah fondasi pembentukan hot break yang kuat. Penambahan kecil carrageenan di menit terakhir tidak menciptakan presipitasi baru, tetapi mengonsolidasikan koagulat menjadi flok besar yang cepat turun. Data terpublikasi menunjukkan 50 mg/L carrageenan menurunkan haze pasca boil dari ~70 ke ~12 EBC dan memungkinkan dosis filter aid turun sekitar 10× sambil mencapai kejernihan sub‑1 EBC (researchgate.net; researchgate.net). Klarifikasi kettle yang baik juga dikaitkan dengan whirlpool cone lebih rapat (braukaiser.com) dan, menurut Murphy & Sons, pemendekan fermentasi/penyimpanan “by several days” (goodbeer.solutions).

Baca juga:

ERD SWRO: Pressure Exchanger vs Pelton, Penentu Listrik Desalinasi KPI

Parameter kendali dan catatan pengukuran

Targetkan cast‑out pH ≈5,2 (±0,1); jaga pH 5,1–5,3 sepanjang boil. Ketahui bahwa menaikkan pH ke 5,4–5,6 (umum jika air tidak ditreatment) cenderung menghasilkan flok lebih kecil dan wort lebih keruh (crispmalt.com; forum.homebrewersassociation.org). Pastikan Ca²⁺ minimal ~50 mg/L (sering 50–150 mg/L), waspadai manfaat menurun di atas ~200 mg/L, dan jaga Mg di bawah ~50 mg/L untuk menghindari interferensi (goodbeer.solutions; goodbeer.solutions). Pertahankan boil beringas 60–90 menit; perhatikan bahwa simmer dapat memangkas hot break ~50% dan boil terlalu lama (>120 menit) meningkatkan shear yang memecah flok (crispmalt.com; byo.com).

Catatan istilah: hot break/hot trub = endapan protein‑tannin saat rebus; EBC (European Brewery Convention) = satuan kejernihan/haze; DE (diatomaceous earth) = media bantu filtrasi berbasis silika fosil; carrageenan = polisakarida bermuatan negatif dari rumput laut merah; pI (isoelectric point) = pH dimana muatan bersih protein nol.

Chat on WhatsApp 2212122qwa