Keramik vs Korosi ERD SWRO: Material Unggul & Pretreatment Ketat

Rotary pressure exchanger berbahan keramik mendorong efisiensi hingga 98% dan umur desain ~30 tahun, tetapi hanya jika air baku disaring ketat hingga “nyaris nol” kekeruhan. Super‑duplex stainless steel mengambil alih sisi metal, sementara pretreatment memotong risiko erosi dan korosi hingga ke akar.

Industri: Desalination | Proses: Energy_Recovery_Devices

Di jantung pabrik SWRO (seawater reverse osmosis, osmosis balik air laut), perangkat pemulihan energi atau ERD (energy recovery device) modern mengandalkan dua pilar: material berperforma tinggi dan pretreatment hulu yang disiplin. Rotary pressure exchanger (PX) generasi terbaru memanfaatkan komponen keramik—rotor transfer tekanan berputar di dalam sleeve dan endcaps keramik alumina presisi (www.mdpi.com). Alumina (Al₂O₃) ini inert terhadap air laut dan sangat keras (≈15 GPa vs ~2–3 GPa untuk stainless steel), sehingga praktis tanpa korosi dan aus yang sangat rendah.

Contoh paling menonjol datang dari PX Q series milik Energy Recovery Inc.: satu komponen bergerak berbahan alumina‑ceramic (tanpa kontak logam) dengan efisiensi pressure‑exchange hingga 98% (energyrecovery.com), serta umur desain ~30 tahun tanpa jadwal perawatan (energyrecovery.com) (energyrecovery.com). Perusahaan ini melaporkan ~35.000 unit PX terpasang di seluruh dunia, memungkinkan pengurangan konsumsi energi SWRO ~60% (energyrecovery.com) (energyrecovery.com).

Kuncinya sederhana namun teliti: rotor keramik “meluncur” di atas film air tipis di dalam rumah keramik, tanpa gesekan logam‑ke‑logam. ERD keramik ini menjaga kinerja penuh bahkan pada salinitas tinggi atau feed yang terklorinasi; data lapangan menunjukkan hampir tidak ada penurunan efisiensi atau kebutuhan perawatan selama puluhan tahun.

Baca juga:

Mengatasi Fluktuasi COD/BOD Limbah Pabrik Bir dengan Tangki EQ

Keramik presisi dan toleransi lingkungan

Keunggulan keramik terletak pada inertness kimia dan kekerasan tinggi. Pada ERD, hal ini berarti resistensi terhadap brine berkadar klorida tinggi dan tekanan tinggi, sekaligus aus yang minim. Dalam praktiknya, profil seperti ini membantu menjaga rasio efisiensi pressure exchange ~97–98% yang diiklankan (energyrecovery.com) tetap tercapai—selama pretreatment hulu benar‑benar membatasi partikel abrasif.

Super‑duplex stainless steel pada komponen metal

Di sisi komponen metal (pompa, casing, shaft, Pelton runner), standar industri kini mengarah pada SDSS (super‑duplex stainless steel) seperti UNS S32750/2507, S31803/2205, serta super‑austenitic terkait seperti 254SMO dan AL‑6XN. SDSS menggabungkan fase ferrite/austenite seimbang dengan Cr‑Ni‑Mo tinggi—memberi PREN ≈ 40–50 (PREN: angka ekuivalen ketahanan pitting)—yang menaikkan ketahanan pitting dan crevice corrosion dalam brine klorida dibanding baja biasa.

Pada pertengahan 2000‑an, “super‑duplexes had become the alloys of choice for high‑pressure seawater feed and brine reject pipework” di pabrik SWRO (stainless-steel-world.net). Survei industri menunjukkan secara praktis “virtually all new desalination builds specify SDSS” untuk jalur feed/brine (stainless-steel-world.net), seiring kapasitas plant tumbuh dari ~20.000 m³/hari di 1990‑an menjadi 600.000 m³/hari saat ini—dengan “almost all new build and expansion projects [use] SDSS for HPSF and BR pipework” (stainless-steel-world.net).

Meski biaya material SDSS ~30% lebih tinggi daripada 6%Mo super‑austenitic stainless (stainless-steel-world.net), kekuatan dan ketahanan korosinya sepadan: SDSS umumnya mencegah serangan sulfida/klorida dan crevice pitting yang dulu “menghabisi” grade awal—316L/317L kerap terkikis dalam hitungan tahun pada uji SWRO awal (stainless-steel-world.net).

Di ERD, SDSS banyak dipakai untuk rotor shafts, housings, high‑pressure pumps, hingga Pelton turbine buckets. Salah satu desain terintegrasi pump/ERD bahkan menggunakan rotor 2205 duplex‑N (dipadu nitrogen untuk kekuatan) yang dilapisi chromium oxide/Cr₂O₃ menggantikan keramik—mengimbangi kerapuhan komponen full‑ceramic dengan ketangguhan duplex steel, sementara lapisan Cr₂O₃ memberi kekerasan dan proteksi korosi (www.mdpi.com). Di turbin hidro, pendekatan serupa lazim: coating tungsten‑carbide atau thermal‑spray ceramic pada Pelton buckets untuk menahan erosi sedimen. Singkatnya, SDSS (dan super‑austenitic seperti 254SMO/AL‑6XN) memastikan casing, valve, dan bearing bertahan puluhan tahun dalam brine panas dan asin tanpa pitting atau stress corrosion cracking (stainless-steel-world.net) (www.mdpi.com).

Target pretreatment dan parameter kualitas

Pretreatment hulu (penyaringan awal sebelum pompa bertekanan tinggi/ERD) krusial. Air baku SWRO sarat padatan tersuspensi (pasir, lumpur, alga) serta bahan kimia reaktif yang dapat mengikis/ mengkorosi peralatan. Rangkaian pretreatment lazim meliputi screens, koagulasi/flokulasi, media filter, DAF/clarifiers, dan/atau membrane filters—tujuannya menurunkan turbidity dan beban partikel ke level sangat rendah. Secara praktis, targetnya turbidity <0,5–1,0 NTU dan SDI₁₅ (silt density index 15 menit) biasanya di bawah 3 (sering <1).

Contoh performa: microfiltration crossflow dengan ceramic membranes menurunkan turbidity air Teluk Arabis dari ~12 NTU menjadi <1,0 NTU (www.mdpi.com). Koagulasi plus ultrafiltration menekan SDI₁₅ dari ~3 ke ~0,8 (www.mdpi.com). Dalam pengolahan konvensional, sedimentation tank saja mampu mengklarifikasi >90% padatan: air baku >30 NTU bisa diturunkan menjadi <2 NTU (www.mdpi.com), lalu granular media filter menangkap sisa grit—menangkap partikel hingga ~10 µm (www.mdpi.com)—diakhiri cartridge atau UF polishing.

Pada implementasi, lini pretreatment sering diawali dengan screen otomatis untuk padatan kasar; di sini, unit seperti automatic screen digunakan sebelum klarifikasi. Untuk beban algal dan partikel berat, plant besar mengandalkan DAF; konfigurasi seperti dissolved air flotation lazim dipadukan dengan clarifier untuk menahan lonjakan turbiditas musiman.

Lapisan berikutnya berupa media filter granular; kombinasi sand/silica media dan anthracite menangkap 5–10 mikron. Polishing akhir menggunakan cartridge filter atau ultrafiltration (UF) sebelum masuk ke train SWRO.

Baca juga:

Resep CIP Clean In Place: Caustic + Asam + PAA untuk Brewery

Erosi partikel dan pembelajaran dari turbin hidro

ChatGPT Image Jan 23, 2026, 02_00_15 PM

Secara kuantitatif, pretreatment menyusutkan risiko erosi secara tajam. Pada air kurang tertangani (mis. limpasan monsun), beberapa mg/L pasir saja bisa mengikis turbin ERD. Studi pada air transfer sarat sedimen menunjukkan erosi jarum/bucket Pelton ~3,4 mm/tahun, memangkas efisiensi turbin ~1,2% (cjme.springeropen.com). Kecepatan aliran ERD serupa, sehingga tanpa proteksi ia berpotensi mengalami aus yang sebanding. Sebaliknya, feed yang terolah baik praktis tanpa pasir yang menumbuk komponen bergerak.

Tak heran proyek SWRO (mis. di UEA) rutin menerapkan DAF dan clarifier—bahkan 16 dari 22 plant SWRO besar di Abu Dhabi menggunakan DAF untuk menyingkirkan mikroalga dan partikel berat (www.mdpi.com). Praktik ini melindungi pompa bertekanan tinggi, membran RO, dan ERD secara bersamaan.

Perlindungan kimia dan kontrol redoks

Pretreatment juga bertindak sebagai perisai kimia. Air laut biasanya diklorinasi untuk membunuh organisme pengotor, lalu dideklorinasi (umumnya dengan sodium bisulfite) karena membran RO tidak toleran terhadap free chlorine. Langkah dechlorination ini sekaligus “menyapu” dissolved oxygen, menurunkan potential oksidasi feed dari ~+300 mV menjadi ~+100–200 mV (SCE, referensi elektroda kalomel jenuh) (stainless-steel-world.net). Redox yang lebih rendah ini meningkatkan ketahanan korosi stainless alloys.

Secara operasional, pengaturan kimia mencakup penyesuaian pH, injeksi anti‑scalant, hingga dechlorination—semuanya dikontrol via dosing pump akurat. Agen deklorinasi seperti dechlorinations agent menjaga zero free chlorine sebelum membran RO dan ERD, sementara membrane antiscalants menahan pembentukan kerak. Tanpa bisulfite dosing, coils pirofosfat dan membran bisa gagal, dan permukaan baja tahan karat yang terbasahi akan mengalami pitting. Sebaliknya, dengan pretreatment, kimia air distabilkan sehingga jalur SDSS yang panjang sekalipun tetap utuh.

Di sisi membran, integrasi RO, NF, dan UF systems yang tepat memastikan beban partikel dan kimia tetap dalam jendela operasi yang aman bagi ERD dan train RO.

Dampak kinerja dan rasional ekonomi

Plant SWRO modern yang memasangkan material ERD canggih dengan pretreatment ketat mencatat downtime ERD yang minimal. Data performa plant RO menunjukkan UF pretreatment memangkas frekuensi cleaning hingga separuh dan menggandakan umur elemen dibanding pretreatment kasar. Dalam satu studi kasus, SDI turun dari ~4 menjadi ~0,8 setelah UF, memungkinkan penurunan biaya penggantian membran >50%.

ERD berbahan keramik/SDSS dengan feed <0,5 NTU lazim beroperasi bertahun‑tahun di antara interval servis. Sebaliknya, melewatkan pretreatment mengundang erosi cepat: coating atau rotor keramik dapat tergerus dalam hitungan bulan di bawah beban pasir tinggi. Secara bisnis, investasi pretreatment (biasanya 5–10% CAPEX plant) melindungi aset ERD (30–50% dari nilai plant; www.mdpi.com) dan menjaga efisiensi pemulihan energi.

Praktiknya, data plant eksisting menegaskan pretreatment “zero” turbidity esensial untuk mencapai klaim efisiensi ERD ~97–98% (energyrecovery.com) tanpa kegagalan mekanis. Biaya premium SDSS atau keramik cepat “balik modal” dengan menghindari shutdown tak terjadwal. Secara rekayasa, target operasional adalah <1 NTU dan SDI<2 pada feed; pada level pretreatment ini, ERD berbahan alumina dan 2507 duplex SS bisa andal memberi layanan puluhan tahun di SWRO (energyrecovery.com) (stainless-steel-world.net).

Baca juga:

Biaya IPAL Limbah Pabrik Bir: Bangun Sendiri atau Water as a Service?

Referensi praktik terkini

Sources: Recent industry reviews and case studies show that all leading SWRO plants today use ceramic rotors or duplex‑alloy components in ERDs to resist corrosion/erosion (energyrecovery.com) (www.mdpi.com), and likewise deploy multistage pretreatment to reduce particulates by >99% (www.mdpi.com) (www.mdpi.com). Longitudinal data from large plants (e.g. UAE SWRO) demonstrate extremely low maintenance when these practices are followed.

Chat on WhatsApp 2212122qwa