Sulfat Limbah Nikel HPAL: RO/NF vs BSR, Mana Paling Efektif?

HPAL mendorong sulfat tinggi; pilihannya dua: saring secara fisik (RO/NF) atau ubah jadi sulfur lewat bakteri. Data efisiensi, biaya per m³, dan kerangka keputusan berikut menggiring ke jawaban yang pragmatis.

Industri: Nickel_Mining | Proses: Wastewater_Treatment

Nikel laterit—terutama lewat proses HPAL (high-pressure acid leach)—menghasilkan air limbah kaya sulfat akibat penggunaan asam sulfat. Ketika baku mutu pembuangan makin ketat, penghilangan sulfat jadi isu inti. Dua pendekatan memimpin: pemisahan berbasis membran seperti reverse osmosis/RO (osmosis balik, pemisahan bertekanan tinggi) dan nanofiltration/NF (nanofiltrasi, pemisahan selektif bermuatan), serta biological sulfate reduction/BSR (reduksi biologis oleh bakteri pereduksi sulfat/SRB). Membran menolak ion sulfat secara fisik, sedangkan BSR mengubahnya menjadi sulfida (H₂S/HS⁻) atau sulfur unsur (S⁰) melalui metabolisme mikroba. Masing‑masing punya tradeoff pada efisiensi, biaya, dan by‑product.

Baca juga:

Filter Press & Leaching Ulang: Solusi Lumpur Nikel Hemat Biaya
 

Efisiensi dan biaya sistem membran RO/NF

RO beroperasi pada tekanan 30–80 bar dan mampu menghilangkan >99% sulfat (permeat nyaris bebas sulfat) menurut Membranes 15, 17 (2025). NF—membran poliamida bermuatan—menolak fraksi besar sulfat (umumnya 80–95%) via mekanisme ukuran/muatan (Donnan exclusion). Studi laboratorium menunjukkan membran komersial NF270 dan DL‑NF mencapai >98% penolakan pada 370–460 mg/L sulfat, sementara opsi lebih hemat DK‑NF sekitar ~82% (sumber yang sama). Material membran mutakhir—thin‑film dan nanocomposite—tercatat meningkatkan flux dan penolakan (ibid).

Secara praktik, RO mampu konsisten memenuhi target sangat rendah (bahkan <50 mg/L, atau <10 mg/L) dengan “brute force” penolakan; NF saja lazimnya menyisakan puluhan mg/L sehingga perlu polishing tambahan (MDPI). Ringkasnya: efisiensi penghilangan sulfat RO ≈98–>99%; NF tipikal 80–98% (tergantung membran dan kondisi) (MDPI).

Dari sisi biaya, sistem membran punya CAPEX tinggi dan OPEX yang didominasi energi (pompa bertekanan tinggi). Data pasar menunjukkan investasi sistem RO global naik dari ~$11,7 miliar (2020) menjadi ~$19,1 miliar (2025) (MDPI); pasar membran NF dari $518 juta (2019) ke ~$1,2 miliar (2024) (MDPI). Quintana‑Baquedano dkk. (2023) melaporkan RO‑based sulfate removal sekitar **$0,33/m³**, dan NF+UF (ultrafiltration; pretreatment membran berpori halus) sekitar **$0,31/m³**, lebih rendah dibanding metode kimia/biologi lama (MDPI). Analisis lain menyebut biaya RO **$0,50–2,50/m³** untuk air kaya sulfat (World Bank, 2019) (PMC). Kesimpulannya, pengolahan membran berada pada kisaran **$0,3–2,5/m³** tergantung desain dan biaya energi/maintenance lokal.

Di lapangan, platform membrane systems menyediakan konfigurasi RO/NF industri; untuk air proses berkadar garam menengah (TDS brackish), opsi brackish‑water RO relevan untuk TDS hingga 10.000. Pada skema NF dengan pretreatment, ultrafiltration kerap dipasang di hulu untuk menjaga kestabilan flux dan menekan fouling.

Aliran sisa, scaling, dan operasional membran

Kelemahan mendasar membran adalah terbentuknya concentrate (brine) yang memuat sulfat dan ko‑ion, umumnya 10–20% dari volume influen; penanganannya bisa menantang dan mahal. Sebaliknya, permeat adalah air bersih dengan sulfat sangat rendah. Fouling atau scaling—misalnya endapan CaSO₄—harus dikelola secara kimia atau pembersihan periodik. Pada konteks ini, program kimia seperti membrane antiscalants lazim dipakai untuk menahan pembentukan scale.

Reduksi biologis sulfat (BSR) dan MBfR

BSR mengandalkan SRB (contoh: Desulfovibrio) dalam kondisi anaerob untuk mereduksi sulfat menjadi sulfida. Pada dua‑tahap membrane‑biofilm reactor/MBfR (reaktor biofilm bermembran; berbeda dari MBR konvensional), tahap berumpan H₂ mereduksi sulfat ke sulfida dengan efisiensi **92–97%** pada beban tinggi (misalnya **1,5 g/L** sulfat) (PMC). Tahap aerobik kedua kemudian mengoksidasi kembali sulfida menjadi sulfur unsur (S⁰) atau sulfat, sehingga menghindari pelepasan H₂S toksik ke udara (PMC).

Laboratorium berkecepatan tinggi menunjukkan laju volumetrik reduksi sulfat **1,7–3,7 g S/m³‑hari** dengan penghilangan sekitar **95%** (PMC). Sistem SRB yang diadaptasi dingin atau diberi donor organik (mis. etanol, laktat, atau limbah organik) juga dapat mengurangi sulfat signifikan, walau umumnya pada laju lebih lambat. Implementasi praktis BSR di tambang biasanya dikemas dalam solusi wastewater biological digestion dengan kontrol ketat atas kondisi anaerob dan suplai donor elektron.

Efisiensi, batas residu, dan polishing

BSR yang dirancang baik bisa menghilangkan fraksi sangat tinggi sulfat; studi MBfR yang dikutip mencapai konversi hingga ~**95%** menjadi sulfida (PMC). Namun, mendorong efleuen ke level amat rendah (mis. **<10 mg/L**) umumnya sulit. Barr Engineering menyebut BSR “is unlikely to achieve 10 mg/L” di efleuen, meskipun target yang lebih longgar dapat dicapai dengan baik (Barr Engineering). Praktiknya, unit biologis cenderung menyisakan residu puluhan mg/L tanpa polishing tambahan. BSR paling menarik saat sulfat influen tinggi (mis. **>500 mg/L**), karena beban massa diolah besar dan volume reaktor bisa dioptimalkan untuk setiap kilogram sulfat yang dihilangkan (Barr Engineering).

Biaya operasi BSR dan kebutuhan donor elektron

BSR cenderung hemat energi (tanpa pompa bertekanan tinggi), tetapi menuntut pasokan donor elektron seperti hidrogen atau karbon organik. Estimasi Bijmans dkk. (2011): OPEX reaktor sulfat berumpan H₂ sekitar **$0,20 per kg SO₄**; etanol **~$0,26/kg SO₄** (PMC). Dalam kasus MBfR yang dirujuk, H₂ elektrolitik (~**$2/kg H₂**) diterjemahkan menjadi biaya operasi **~$0,17 per kg SO₄** (atau **~$0,27/m³** pada input **1,5 g/L** sulfat) (PMC), dan dinilai kompetitif dibanding RO (**$0,5–2,5/m³**) (PMC). Secara umum, BSR pada aliran bersulfat tinggi berada pada kisaran **$0,2–0,3/m³**, sering kali setara atau lebih rendah daripada membran (PMC). Catatan: BSR lazim memerlukan volume reaktor besar (waktu tinggal lama) dan suplai nutrien/mineral tambahan.

By‑product, keselamatan, dan penanganan residu

Produk utama BSR adalah sulfida (HS⁻/H₂S) yang bersifat toksik dan volatil. Sistem harus memasukkan unit penanganan sulfida, misalnya pengendapan sebagai FeS atau oksidasi biotik terkontrol menjadi S⁰. Dalam setup MBfR yang dikutip, hampir seluruh sulfida yang terbentuk dikonversi menjadi sulfur unsur—membentuk padatan yang bisa diambil kembali (PMC). Alternatifnya, wetland buatan atau tangki kontak sulfida dipakai untuk mengunci sulfida. Berbeda dari brine pada membran, “limbah” BSR berupa sulfur padat atau sludge sulfida logam—sering kali lebih mudah ditangani dibanding cairan brine.

Kesesuaian proses dan konteks iklim

BSR banyak dipakai di tambang (sulfat tinggi, debit besar). Skala ekonominya baik di influen **>500 mg/L**, tetapi kurang teruji untuk air limbah domestik bersulfat rendah. Iklim tropis/temperate (Indonesia) mendukung sistem biologis. Namun, BSR sulit memenuhi baku mutu amat ketat (mendekati kualitas air minum) tanpa polishing (Barr Engineering).

Baca juga: 

 
Nikel untuk Baterai: Leaching Asam Cepat vs Bioleaching Hemat CO₂
Riset, tren pasar, dan metode pembanding

Ringkasan komparatifnya jelas: membran memberi kualitas efleuen tertinggi dengan biaya energi dan konsentrat/brine, sementara BSR efektif untuk beban sulfat besar dengan energi lebih rendah dan potensi sulfur bernilai, walau sering butuh polishing saat target ultra‑rendah. Publikasi dan tren pasar menguatkan fokus pada membran: **>130 studi** terkait penghilangan sulfat oleh membran dalam dua dekade (MDPI), dan pasar NF/RO global tumbuh **~10–18% CAGR** (MDPI). Ulasan industri menilai NF mengungguli metode lama seperti ion exchange dan presipitasi (MDPI); sebagai acuan, solusi ion exchange kini kerap dikaji ulang saat target sulfat makin ketat.

Untuk konfigurasi membran modern, paket nano‑filtration bertekanan lebih rendah sering dipadukan sebagai tahapan selektif, sementara paket lengkap membrane systems mengakomodasi integrasi dan kontrol operasi lintas unit.

Kerangka keputusan berbasis target, beban, dan biaya

ChatGPT Image Feb 20, 2026, 04_14_18 PM

1) Batas Efleuen Sulfat. • Target sangat ketat (mis. **<50–100 mg/L**): RO (atau NF ditambah polishing) umumnya diperlukan untuk mencapai level serendah ini (MDPI; Barr Engineering). Sistem biologis sendiri kemungkinan menyisakan puluhan mg/L. • Target moderat (mis. **200–500 mg/L**): BSR atau NF dapat memadai. Jika izin membolehkan residu **>100 mg/L**, bioreaktor dapat mengurangi sebagian besar sulfat (contoh **90–95%**) (PMC) dengan polishing sederhana. NF juga bisa menurunkan sulfat signifikan pada tekanan lebih rendah (MDPI). • Target longgar (mis. **>500 mg/L**): Perawatan pasif atau dilusi bisa memadai; BSR saja sangat menarik di sini.

2) Konsentrasi dan Debit Influen. Beban sulfat tinggi (**>>1000 mg/L**) cenderung menguntungkan BSR terlebih dahulu (mengurangi massa secara anaerob), lalu polishing membran. Beban lebih rendah dapat langsung ke NF/RO. Contoh: influen **1500 mg/L** dengan target **100 mg/L** (**93%** removal) dapat ditempuh (a) langsung RO+NF, atau (b) BSR ke **100–200 mg/L** lalu polishing NF. Opsi (b) sering mengurangi energi/brine dan total biaya.

3) Analisis Biaya Operasi. Gunakan tolok ukur OPEX terpublikasi: RO/NF **~$0,3–0,5/m³** (MDPI; PMC), sedangkan BSR berbasis H₂ **~$0,27/m³** (PMC). OPEX BSR didominasi donor elektron; OPEX membran didominasi energi. Energi mahal atau H₂/organik murah menguntungkan BSR; disposal konsentrat yang mahal juga menggeser pilihan ke BSR.

4) By‑product dan Keberlanjutan. Target zero liquid discharge atau kendala disposal brine mengarahkan ke BSR (mengeliminasi arus brine) (PMC). Jika recovery sulfur bernilai, BSR unggul. Jika kontrol bau/H₂S biologis dikhawatirkan atau target sludge minimal, membran bisa lebih sederhana (tanpa sludge, tetapi menghasilkan brine).

5) Faktor Lain. Footprint (BSR butuh reaktor besar), iklim (SRB menyukai kondisi hangat), infrastruktur/keahlian, serta regulasi. Di Indonesia, baku mutu industri nikel (Permen LH No.9/2006) tidak mencantumkan parameter sulfat (nikel.co.id), sehingga limit izin kerap merujuk standar mutu air setempat (sering **~250 mg/L** untuk air minum). Jika penerima akhir sangat sensitif (mis. lahan padi yang memerlukan **<10 mg/L** seperti di Minnesota), membran/NF wajib dipilih (Barr Engineering).

Baca juga:

Blueprint WWTP Tambang Nikel: SCADA IoT 24/7 dan Suku Cadang Kritis
 

Kesimpulan teknis dan implikasi bisnis

Pilihan terbaik mengikuti dua variabel: seberapa rendah target sulfat dan berapa biayanya. Jika baku mutu rendah sekali, gunakan RO/NF—sering setelah BSR untuk menurunkan beban awal. Jika standar moderat dan prioritas OPEX rendah, sistem biologis yang dirancang baik (termasuk opsi H₂‑fed MBfR) bisa paling cost‑effective (PMC; Barr Engineering). Dalam banyak kasus, hibrida—biologi dulu, kemudian polishing membran—memberi titik tengah terbaik antara CAPEX/OPEX. Apa pun skenarionya, kuantifikasi kebutuhan removal (ppm akhir) dan bandingkan biaya memakai tolok ukur **$/kg‑SO₄** dan **$/m³** di atas sebagai dasar keputusan.

Sumber data: ulasan jurnal dan industri MDPI Membranes 15, 17 (2025) (studi NF; biaya dan pasar; tren riset; CAGR dan pasar), riset MBfR ber‑review sejawat Front. Bioeng. Biotechnol. (2022) (analisis biaya RO dan H₂), serta ulasan industri Barr Engineering (2022). Catatan regulasi Indonesia merujuk nikel.co.id. Untuk implementasi, paket NF, UF pretreatment, dan sistem membran menyediakan jalur teknologi yang selaras dengan metrik efisiensi dan biaya tersebut.

Chat on WhatsApp 2212122qwa