Ketika alkalinitas anjlok, pH kolam bisa berayun dari 6 ke 10 dalam sehari—dan produksi ikut tersendat. Inilah panduan berbasis sains untuk menguji air dan mengaplikasikan limestone, gypsum, serta mineral penyeimbang ion di tambak/kolam budidaya.
Industri: Aquaculture | Proses: Grow
Target kualitas air yang stabil bukan kemewahan, melainkan prasyarat. Data lapangan menunjukkan air dengan alkalinitas rendah (Total Alkalinity/TA, setara mg/L CaCO3; mg/L = miligram per liter) dan kekerasan rendah membuat pH harian bisa melonjak‑turun 6→10—dan produksi terseret turun (thefishsite.com).
Produktivitas terbaik umumnya terjadi pada TA sekitar 75–175 mg/L CaCO3 dan kekerasan kalsium (Ca hardness) sekitar 75–250 mg/L (www.fao.org; thefishsite.com). Secara praktis, kolam dengan TA atau kekerasan di bawah ~20–25 mg/L biasanya perlu perlakuan (www.fao.org; thefishsite.com). Dalam konteks Indonesia—dengan sebaran tanah sulfat masam—panduan penyuluhan juga menegaskan TA atau kekerasan di bawah ~20 mg/L memicu ayunan pH harian dan menurunkan produktivitas (www.isw.co.id).
Hot Break di Kettle: pH 5,2, Ca²⁺ & Carrageenan Pangkas Haze 10×
Target kualitas air & protokol uji
Manajemen kolam yang disiplin mengukur pH harian (mis. subuh vs tengah hari) serta kimia air berkala: total alkalinitas melalui titrasi HCl 0,1 N dengan indikator methyl orange pada sampel 100 mL, di mana 1 mL setara 50 mg/L CaCO3 (www.fao.org; www.fao.org), dan kekerasan melalui titrasi EDTA atau kit uji.
Target bervariasi per spesies: banyak ikan memerlukan TA ≥50–75 mg/L agar pH stabil (www.fao.org), sementara udang penaeid—terutama di salinitas rendah—diuntungkan dari TA lebih tinggi (≥100 mg/L) dan kalsium yang memadai, plus cukup kalium (K) dan magnesium (Mg) (www.globalseafood.org; www.globalseafood.org). Sampel air diambil di permukaan (hindari keruh) dan hasil uji diulang pasca‑perlakuan. Di Indonesia, laboratorium kampus atau balai perikanan dapat menganalisis pH tanah (inti sedalam 6") dan kimia air untuk rekomendasi pengapuran yang presisi (www.fao.org; www.fao.org).
Pengapuran dengan limestone pertanian (CaCO3)
Tujuan utama: menetralkan keasaman tanah kolam dan menaikkan alkalinitas serta kekerasan Ca—menyangga fluktuasi pH (www.fao.org; thefishsite.com). Mekanismenya sederhana: CaCO3 + CO2 + H2O -> Ca2+ + 2HCO3−, melepas Ca2+ dan bikarbonat (HCO3−) untuk menaikkan TA dan suplai Ca bagi fisiologi ikan (www.globalseafood.org).
Karena kelarutannya dibatasi CO2, TA maksimum yang bisa dicapai air tawar setimbang oleh CaCO3 saja sekitar ~60 mg/L—artinya pengapuran berulang sering diperlukan (www.globalseafood.org).
Kapan dan bagaimana pengapuran dilakukan
Indikasi pengapuran: pH tanah <6,5 atau TA air <25 mg/L (www.fao.org; www.fao.org). Kolam dengan pH sore <~6,5 atau ayunan pH harian >1,0 unit juga perlu tindakan (www.fao.org; www.fao.org). Pengeringan musiman memudahkan pengapuran dasar kolam; bila tidak, aplikasikan setelah pengisian (di air dangkal sambil diaerasi), lalu uji ulang air sehari hingga seminggu setelah aplikasi.
Rule of thumb: sekitar 10 kg CaCO3 per hektar‑meter air menaikkan TA ~1 mg/L. Contoh, menambah +50 mg/L TA pada kolam 1 ha kedalaman 1 m butuh orde 500 kg CaCO3. Di praktik, dosis “ratusan hingga ribuan kg/ha” lazim, tergantung tingkat keasaman. Untuk air sangat asam (pH 4–6), FAO menyarankan ~500–1250 kg/ha kapur tohor (CaO) di tanah kering (www.fao.org); batu kapur (CaCO3) umumnya dipakai 1–2× bobot tersebut (daya netralisasi CaO ~1,8× CaCO3). Sebuah patokan lain: aplikasikan ~1,5–2× dosis kapur pertanian di lahan sekitar (thefishsite.com). Sumber lain menyebut 1000 kg/ha limestone halus mampu menaikkan TA kira‑kira 50–100 mg/L (bergantung keasaman awal dan pencampuran) (www.fao.org; www.fao.org).
Aplikasikan merata (disiarkan di dasar atau dilarutkan lalu disemai). Limestone halus (mesh <60) bereaksi lebih cepat (www.globalseafood.org; thefishsite.com). Jika kolam sudah penuh, dosis kecil bertahap lebih aman. Untuk CaO atau kapur terhidrasi Ca(OH)2, batas dosis harian yang direkomendasikan ≤200 kg CaO/ha dengan pemantauan pH ketat (jaga pH kolam <9,5) (www.fao.org). CaCO3 melarut lambat sehingga bisa diberikan dalam batch lebih besar; namun pengapuran yang mendorong TA ≈50 mg/L ke atas berefek terbatas (kelebihan mengendap sebagai CaCO3 pada pH ~8,3) (thefishsite.com).
Pemberian bertahap bisa dilakukan manual maupun dengan peralatan dosis kimia akurat seperti dosing pump untuk menjaga kontrol pH saat aplikasi bahan cepat‑reaksi.
Dampak pengapuran dan bukti produksi
Pengapuran menstabilkan pH, meningkatkan Ca2+ untuk osmoregulasi ikan dan pengerasan cangkang krustasea (thefishsite.com). Ia juga mempercepat penguraian bahan organik dan mendetoksifikasi Al/Fe (mengendapkan hidroksida) (www.fao.org). Kritisnya lagi, TA lebih tinggi meningkatkan respons pemupukan: tanpa kapur, fosfat terikat kuat di sedimen lumpur; pengapuran melepaskannya kembali ke kolom air untuk mendongkrak plankton sebagai pakan alami (thefishsite.com).
Bukti lapangan: di kolam mas yang dipupuk, perlakuan berkapur (mempertahankan kekerasan ~100 mg/L) menghasilkan hasil ikan signifikan lebih tinggi dibanding kontrol tanpa kapur (uji di Bangladesh; P<0,05) (www.researchgate.net).
Praktik Indonesia: di tambak pesisir, pengapuran antar siklus sudah rutin. Pedoman lokal menekankan pengapuran tanah kolam asam dengan senyawa Ca/Mg untuk menaikkan pH, Ca, Mg serta mencegah kehilangan akibat Al/H yang toksik (www.isw.co.id). Contoh panduan: saat pengisian awal 10 cm, air pH 4,5–6 diberi 500 kg CaO/ha (atau 1250 kg/ha pada pH 4–4,5) sebelum pengisian penuh (www.fao.org). Selama siklus atau antar siklus, pengapuran perawatan (mis. 100–500 kg/ha CaCO3 saat TA rendah) sering dilakukan berdasarkan hasil uji (thefishsite.com; www.isw.co.id).
Gypsum untuk kekerasan air
Gypsum (CaSO4·2H2O) dipakai untuk menaikkan kekerasan (Ca2+) tanpa banyak menaikkan alkalinitas atau pH. Ia menambah kalsium dan sulfat; berbeda dari limestone, tidak menetralkan keasaman (garam, bukan karbonat). Jadi, gypsum relevan saat Ca atau sulfat kurang—mis. kolam payau atau air tawar lunak yang butuh Ca tambahan (target Ca ≥75–100 mg/L, panduan umum: thefishsite.com).
Dampak: Ca2+ dari gypsum meningkatkan total hardness—penting untuk tulang/sisik ikan dan pengerasan cangkang krustasea (thefishsite.com). Sulfat sedikit menaikkan kekuatan ionik; di tanah asam, gypsum membantu flokulasi liat dan mengendapkan Fe/Al. Efek samping penting: gypsum mengendapkan fosfat. Dalam studi terkontrol, penambahan gypsum pada kolam dengan alkalinitas tinggi namun Ca hardness awal rendah dengan cepat menurunkan PO4 terlarut (via presipitasi Ca3(PO4)2), yang menurunkan pertumbuhan fitoplankton (www.tandfonline.com). Efek jernih ini berguna untuk air keruh, tetapi dapat mengurangi pakan alami bila dilakukan saat pemeliharaan.
Aplikasi: seperti kapur, disiarkan ke kolam. Kelarutannya ~2–3 g/L sehingga relatif mudah larut. Pendekatan praktis: samakan kekerasan dengan alkalinitas; jika TA ≫ hardness, tambah gypsum untuk menaikkan Ca. Satu sumber menyeimbangkan “hardness dan alkalinity” (~150 mg/L) menggunakan gypsum (www.tandfonline.com). Estimasi kasar: 10 kg gypsum/ha‑m hanya menaikkan beberapa mg/L hardness Ca (gypsum ~29% Ca), sehingga sering diperlukan ratusan kg/ha; air dengan hardness <20 mg/L bisa menerima 500–1000 kg/ha gypsum. Uji ulang selalu; karena gypsum tidak menaikkan pH, kelola alkalinitas terpisah (mis. dengan limestone atau bikarbonat).
Kontrol pH Limbah Brewery Otomatis: Desain Sistem Netralisasi 6–9
Aditif mineral lain (penyeimbang ion)

Sebagian sistem intensif atau bersalinitas rendah memerlukan koreksi elektrolit lain:
Sodium bikarbonat (NaHCO3, baking soda) adalah alkali cepat-kerja. Mudah larut (~10 g/L) dan langsung memasok bikarbonat, menaikkan pH (hingga ~8,3) dan TA (www.globalseafood.org). Sering dipakai saat perlu buffer cepat (lonjakan amonia atau respirasi alga berat). Pada sistem udang intensif “recirculating/biofloc”, penambahan berkala (ratusan kg/ha) menjaga pH dan TA (www.globalseafood.org). Catatan: NaHCO3 menambah natrium sehingga kadar garam naik; berguna untuk osmoregulasi udang, kurang krusial bagi ikan air tawar. Dosis berlebih dapat melewati pH target; berikan bertahap dan pantau.
Kalium (K+) dari KCl (muriate of potash; “50% K by weight”: www.globalseafood.org), K2SO4, atau “K‑Mag” (langbeinite: K2SO4·2MgSO4) sering kurang di kolam air tawar dan sangat krusial di tambak udang salinitas rendah. Rasio ion air laut (Na:Mg:Ca:K = 27:3:1:1) menyiratkan K target ~50–100 mg/L pada 5–10 ppt (www.globalseafood.org). Laporan lapangan menunjukkan menaikkan K+ dari <1 mg/L ke ~50 mg/L (dengan KCl) mengubah kolam dari mortalitas berat menjadi tingkat kelangsungan normal (www.globalseafood.org). Praktiknya, penambahan awal 10–50 mg/L K (≈20–100 kg/ha KCl) lazim, lalu disesuaikan lewat uji air.
Magnesium (Mg2+) dari Epsom salt (MgSO4·7H2O) atau MgCl2·6H2O mendukung enzim dan stabilitas osmotik; air lunak sering hanya punya Mg beberapa mg/L. Epsom mengandung ~10% Mg; menambah 100 mg/L Epsom memberikan ~9 mg/L Mg2+ (www.globalseafood.org). Banyak tambak udang menargetkan Mg ~10–20 mg/L; Mg juga membantu menurunkan toksisitas nitrit pada ikan. K‑Mag menyediakan ~7% Mg; aplikasikan sesuai perhitungan kebutuhan.
Natrium klorida (NaCl) juga dipakai luas. Di kolam air tawar, tambahan kecil 0,1–0,5 ppt (≈200–1000 mg/L) sering dipraktekkan; di hatchery udang, penambahan lazim berkisar 5–20 g/L, sedangkan di kolam beberapa kg/ha.
Perhitungan dosis berbasis target per liter memudahkan kontrol. Contoh: 1 kg KCl dalam 10.000 L menambah ~50 mg/L K. Maka, 20 kg/ha KCl pada kolam 1 m (10.000 m3) menghasilkan +100 mg/L K. Garam‑garam sebaiknya dilarutkan dulu dan disebar merata. Setelah penambahan kimia, lakukan pencampuran (paddle/pompa), lalu beri waktu kesetimbangan (jam hingga 1 hari) sebelum uji ulang. Untuk pasokan bahan kimia air dan limbah secara umum, kategori chemicals menyediakan bahan seperti CaCO3, gypsum, NaHCO3, KCl, dan MgSO4.
Pedoman aplikasi dan pemantauan
1) Asesmen & prioritas: uji pH tanah (inti) dan kimia air jelang setiap siklus. Jika pH tanah <6,5, koreksi tanah (pengapuran dasar). Jika pH air berayun atau TA <25–50, rencanakan pengapuran. Jika kekerasan (Ca) sangat rendah, rencanakan gypsum atau CaCl2 selain kapur.
2) Aplikasi bertahap: hindari “dumping” dosis besar. Untuk limestone (lambat), satu kali 500–1000 kg/ha lazim saat pengisian/awal siklus ketika air dangkal. Untuk perawatan, dosis mingguan kecil (100–200 kg/ha) menjaga TA stabil. Untuk CaO/Ca(OH)2 (cepat), bagi harian 100–200 kg/ha/hari dengan pemantauan pH (www.fao.org). Untuk NaHCO3, ratusan kg/ha sekaligus lazim di sistem kepadatan tinggi (www.globalseafood.org). Untuk K/Mg, tambah bertahap (mis. separuh dosis, uji lagi esok). Peralatan pendukung seperti water treatment ancillaries membantu standardisasi aplikasi.
3) Pemantauan pasca aplikasi: uji 6–24 jam kemudian (pH, TA, hardness). Jika pH tengah hari melewati ~9,0, hentikan penambahan atau koreksi dengan asam (mis. vinegar). Jaga pH jauh di bawah 9,5 untuk mencegah kematian ikan (www.fao.org). Bila memakai gypsum di air hijau/keruh, pantau fosfat.
4) Catat “before/after”: ukur biomassa dan bandingkan dengan kimia air. Dalam satu studi, kolam yang diberi gypsum ber‑turbiditas lebih rendah (air lebih jernih) namun plankton dan biomassa ikan sedikit lebih rendah dibanding kontrol (www.tandfonline.com). Di sisi lain, pengapuran yang menjaga TA/Hardness ~100 mg/L menghasilkan kenaikan produksi ikan yang signifikan (www.researchgate.net).
5) Keselamatan & regulasi: gunakan APD saat menangani bahan kaustik. Periksa regulasi setempat—di Indonesia, baku mutu buangan fokus pada padatan tersuspensi/nutrien; kondisioner air biasanya tidak diatur langsung. Hindari overdosis; alkalinitas/kekerasan berlebih mengendapkan mineral dan memboroskan bahan.
6) Perawatan lanjutan: di banyak sistem (terutama tanah asam), pengapuran perlu diulang tiap siklus. Penumpukan bahan organik atau hujan lebat (pengenceran) menurunkan buffer; uji ulang dan ulangi aplikasi. Sebagian petani memakai jadwal tetap (mis. limestone tiap 2–3 minggu) di sistem intensif; lainnya berbasis kebutuhan terukur. Untuk penyaluran dosis yang presisi dan berulang, opsi seperti dosing pump relevan untuk pengendalian laju bahan cair/pelarut.
Standar CIP RO Efektif: Pulihkan >90% Flux & Tekan OPEX Fouling
Angka kunci yang perlu diingat
Target: TA ~75–150 mg/L CaCO3 (minimum 25 mg/L) dan Ca hardness ~75–250 mg/L (www.fao.org; thefishsite.com). Penambahan ~10–20 kg CaCO3 per ha‑m menaikkan TA ~1–2 mg/L. Untuk dorongan cepat pH/TA, NaHCO3 efektif (≈820 mg HCO3− per gram) (www.globalseafood.org).
Di tambak udang, bila K+ <20 mg/L, suplai ke ~50–100 mg/L (contoh ~100–200 kg/ha KCl) untuk mencegah kerugian (www.globalseafood.org). Praktik pengapuran berimbang telah menghasilkan kenaikan produksi yang nyata: Azim dkk. mendapati hasil ikan signifikan lebih tinggi di kolam berkapur (TA/Hardness ~100 mg/L) dibanding kolam tanpa kapur (www.researchgate.net).
Intinya: dengan pengujian sistematis dan perlakuan yang tepat—limestone, gypsum, serta aditif mineral bertarget—pH bisa distabilkan, ion krusial (Ca, Mg, K, dll.) tercukupi, dan efisiensi pemupukan meningkat. Referensi praktis tersedia di manual FAO dan lembar fakta SRAC (www.fao.org; thefishsite.com). Setiap rekomendasi di atas didukung sumber tersebut (tautan in‑line seperti tercantum).
