Tembak jatuh mekar alga (algal bloom) bisa secepat hitungan hari dengan algaecide berbasis tembaga, tapi risikonya nyata bagi ikan dan ekosistem. Opsi biologis dan fisik lebih ramah, cenderung lebih lambat—kombinasinya menentukan hasil dan biaya.
Industri: Aquaculture | Proses: Disinfection_&_Water_Quality_Management
Di kolam budidaya, pertarungan melawan alga berbahaya adalah soal kecepatan versus keberlanjutan. Tembaga sulfat (CuSO₄·5H₂O) bisa menekan >90% biomassa fitoplankton dalam 1–2 minggu, bahkan studi melaporkan penurunan klorofil-a total 94–96% dan sianobakteri ~98% dalam 10–14 hari (www.researchgate.net). Chelated copper (mis. copper ethanolamine/produk seperti Cutrine‑Plus atau Captain®) menawarkan aksi lebih larut/panjang dan pada beberapa uji toksikologi lebih aman untuk ikan dibanding CuSO₄ murni—namun aditif seperti pati jagung atau surfaktan bisa meningkatkan toksisitas (www.researchgate.net).
Di sisi lain, aerasi dan sirkulasi air mencegah dominasi bloom dan anoksia malam, sementara kontrol biologis—dari ikan penyaring hingga probiotik—mengarahkan ekosistem ke kondisi lebih stabil, meski jarang “membunuh” bloom dalam hitungan hari. Regulasi juga membatasi pilihan: di AS hanya CuSO₄·5H₂O dan diuron (untuk senyawa rasa) yang disetujui untuk akuakultur (www.researchgate.net), sementara pedoman ASEAN mengizinkan copper sulfate dan melarang bahan toksik tertentu seperti malachite green (doczz.net). Praktik Indonesia umumnya memperbolehkan CuSO₄ di kolam udang/ikan dengan dosis terkontrol, mengikuti pedoman lokal dan waktu henti panen (withdrawal times).
Hot Break di Kettle: pH 5,2, Ca²⁺ & Carrageenan Pangkas Haze 10×
Algaecide berbasis tembaga dan pengoksidasi
CuSO₄ larut cepat dan efektif pada dosis rendah, lazimnya 0,5–2,0 g/m³ (0,5–2,0 ppm) di air kolam—setara ~0,1–0,4 mg/L Cu²⁺—diaplikasi mingguan atau sesuai kebutuhan (www.researchgate.net; www.globalseafood.org). Pada level ini, beberapa percobaan melaporkan penurunan biomassa fitoplankton >90% dalam hitungan hari hingga pekan (www.researchgate.net).
Formulasi chelated copper bisa lebih larut/berumur panjang dan dalam uji ikan—contoh fathead minnow—terukur 48‑jam LC50 (lethal concentration 50%, konsentrasi mematikan bagi 50% organisme uji) ~0,9 mg/L Cu²⁺ untuk chelate vs ~0,3 mg/L untuk formulasi dengan surfaktan (www.researchgate.net). Catatan: aditif seperti pati jagung/surfaktan dapat mendongkrak toksisitas bagi non-target (www.researchgate.net).
Kimia air sangat menentukan. pH dan kekerasan (hardness) tinggi mengendapkan ion Cu sehingga efek ke alga turun—namun toksisitas ke ikan juga ikut turun. Aturan praktis lapangan: dosis CuSO₄ ≈ alkalinitas total/100 (g/m³); misal alkalinitas 50 mg/L CaCO₃ ≈ 0,5 g/m³. Dalam kondisi keruh/berlumpur, ambang minimal ~0,8–1,0 g/m³ sering dibutuhkan, bahkan air sangat hijau (Secchi depth <15 cm) dapat memerlukan 1,5–2,0 g/m³ untuk mengeliminasi sianobakteri. Waktu aplikasi terbaik adalah pagi hari saat pH terendah (www.globalseafood.org; www.globalseafood.org; www.globalseafood.org).
Catatan penting: Cu membunuh non-selektif. Kolaps fitoplankton cepat, namun zooplankton juga crash dan pulih lebih lambat dibanding perlakuan hidrogen peroksida atau algaecide lain. Risiko susulan adalah deplesi oksigen terlarut (DO) saat alga mati membusuk (www.globalseafood.org; www.researchgate.net).
Alternatif kimia pengoksidasi—hidrogen peroksida maupun peracetic acid—bersifat oksidator kuat yang melisis sel alga. Aksinya cepat seperti tembaga namun terurai menjadi air dan oksigen tanpa residu jangka panjang; beberapa studi mencatat penurunan cepat sianobakteri dengan efek lanjutan minimal ke zooplankton, meski bloom cenderung muncul kembali setelah beberapa minggu. Produk ini berbahaya dalam bentuk pekat dan wajib penanganan hati‑hati (www.researchgate.net; www.researchgate.net).
Kontrol biologis dan biomanipulasi
Biomanipulasi dengan ikan penyaring (filter‑feeding) seperti silver carp (Hypophthalmichthys molitrix) dan bighead carp bisa memangkas alga besar. Klasiknya, silver carp hampir meniadakan fraksi fitoplankton >10 µm dengan pengurangan klorofil-a net‑plankton 90–95%—namun fraksi kecil (<10 µm) lolos dan justru dapat meningkat ~40–86% jika ikan dilepas bebas. Dengan pengurungan di balik jaring, pemangkasan alga besar tetap ~90% dan kenaikan nanoplankton hanya ~20% (www.tandfonline.com).
Studi lapangan di pengolahan air menunjukkan silver carp nyaris mengeliminasi koloni Microcystis (sianobakteri lazim), tetapi alga sel tunggal <5 µm bertahan dan sering mendominasi pasca‑grazing. Artinya, ikan penyaring paling cocok saat bloom didominasi koloni besar seperti Microcystis, dan kurang efektif jika perairan sudah didominasi alga kecil (www.researchgate.net).
Probiotik mikroba (mis. Bacillus spp., nitrifier, bakteri asam laktat) dipasarkan untuk memperbaiki kualitas air dan bersaing memperebutkan nutrien. Beberapa isolat Bacillus menghambat alga lewat sekresi senyawa atau kompetisi nutrien; varian “microbial modified clay” dengan Bacillus amyloliquefaciens yang diimobilisasi pada clay bahkan mengeliminasi >90% Heterosigma akashiwo pada dosis 0,1 g/L. Di praktik kolam, dosis 10⁷–10⁸ CFU/L lazim; efek terhadap alga filamen Cladophora tercatat penurunan klorofil dan bobot kering 10–30% dalam beberapa hari—namun efeknya lambat, perlu dosis tinggi, dan bukti lapangan beragam (www.frontiersin.org; www.researchgate.net).
Metode allelopati “tradisional” seperti jerami barley yang membusuk pada 25–50 g/m³ (atau jerami padi/kacang 10–30 g/m³) melepaskan senyawa penghambat alga; efeknya pencegahan musiman (~20–50% lebih rendah) dengan latensi beberapa minggu, bukan obat darurat. Penutupan permukaan oleh duckweed yang menaungi cahaya juga disebutkan sebagai penekan sedang. Opsi lain seperti keong/tanaman air atau mempromosikan zooplankton memiliki aplikasi terbatas di kolam intensif (link.springer.com).
Aerasi, pencampuran, dan praktik fisik

Aerator (paddlewheel/diffuser) menaikkan DO dan memutus stratifikasi. Pada kolam lebih dalam 1,8 m dengan aerasi permukaan+dasar, dominasi sianobakteri turun dan keanekaragaman fitoplankton naik 30–137% dibanding 1,2 m dengan aerasi permukaan saja; nitrogen total, amonia, fosfor, dan fosfat reaktif tercatat lebih rendah sepanjang musim. Praktik ini juga dilaporkan mengurangi Microcystis dan memperbaiki mutu air di budidaya udang galah (www.researchgate.net).
Praktik fisik lain: menjaga kedalaman moderat, pemasangan tirai bayangan atau pewarna untuk memangkas intensitas cahaya ~30–50%, pergantian/pelepasan air terukur untuk mengencerkan nutrien, dan pengangkatan mekanis anyaman alga mengambang. Untuk pengangkatan kontinu serpihan/mats, operator dapat memanfaatkan screen otomatis seperti automatic screen yang mengeluarkan debris >1 mm.
Pengerukan lumpur dasar sebelum tebar membantu memutus sumber nutrien. Pada sistem resirkulasi, aliran melalui biofilter/kanaI alga mengurangi nitrogen dan fosfat sebelum kembali ke kolam—mencegah bloom hilir. Secara umum, kontrol fisik bersifat pencegahan/mitigasi: praktik lapangan menunjukkan penurunan keparahan bloom ~20–50% dan mencegah kematian ikan akibat crash DO, namun jarang meniadakan bloom yang sudah mapan (www.researchgate.net).
Standar CIP RO Efektif: Pulihkan >90% Flux & Tekan OPEX Fouling
Pedoman dosis, waktu, dan keselamatan
Ukur dulu parameter kunci: alkalinitas total (TA, kapasitas penyangga bikarbonat), pH, dan hardness. Dosis praktis: Dose (g CuSO₄/m³) ≈ TA (mg/L CaCO₃)/100. Contoh TA=80 mg/L → ~0,8 g/m³ CuSO₄. Catatan: 0,8 g/m³ = 0,8 ppm CuSO₄, ~0,2 ppm Cu²⁺. Untuk bloom, pendekatan lapangan memakai minimum ~0,8–1,0 g/m³; kolam sangat keruh (Secchi <0,15 m) butuh ≥1,5–2,0 g/m³. Aplikasikan pagi hari, larutkan dan sebarkan merata sambil aerator menyala—hindari “slug” dosing lokal (www.globalseafood.org; www.globalseafood.org; www.globalseafood.org).
Untuk penginjeksian bahan kimia yang presisi sesuai perhitungan TA, operator dapat menggunakan pompa injeksi kimia seperti dosing pump yang memudahkan pengaturan debit larutan saat penyebaran keliling kolam.
Langkah pencegahan: uji area kecil dulu (ditutup terpal/jaring) untuk memantau respons ikan. Toleransi antar spesies berbeda; pada banyak ikan perairan hangat, toleransi Cu²⁺ sekitar ~0,3–0,7 mg/L, dan di air lunak/TA rendah, bahkan 0,2 mg/L bisa mematikan bagi spesies sensitif (www.researchgate.net; www.researchgate.net). Hentikan pakan 24 jam sebelum/sesudah aplikasi untuk menurunkan beban metabolik. Tingkatkan aerasi selama dan setelah aplikasi; hindari aplikasi saat DO rendah (<4 mg/L) atau jelang hujan lebat yang bisa mendadak mengubah kimia air (www.globalseafood.org).
Pascaperlakuan, minimalkan pembuangan air kolam 2–3 minggu. Selama periode ini, Cu²⁺ mengendap/terikat organik‑sedimen; studi di kolam lele menunjukkan tembaga total turun ke level latar dalam 48 jam dan jarang melebihi kriteria kronis EPA 0,013 mg Cu/L. Pengeluaran air manual (saat panen/penyurutan) bisa menggelontorkan padatan bersama tembaga; lebih aman menahan air agar sedimen mengendap (www.globalseafood.org; www.researchgate.net).
Jika pelepasan air tak terhindarkan, gunakan unit pengendapan. Opsi yang umum di fasilitas adalah bak pengendap atau clarifier untuk mengurangi padatan tersuspensi sebelum keluar. Untuk meningkatkan kapasitas tanpa memperbesar tapak, modul lamela dapat dipertimbangkan; tube settler menaikkan kapasitas klarifikasi 3–4x dengan pengurangan area yang signifikan.
Gunakan ulang kimia secara hemat. Paparan kronis dapat menyeleksi sianobakteri toleran tembaga dalam beberapa generasi; rotasi metode (mis. pergiliran tembaga dengan peroksida atau periode intensifikasi aerasi/pengurangan nutrien) menunda resistensi. Catat setiap aplikasi (dosis, tanggal, cuaca) dan patuhi pedoman/masa henti. Pedoman ASEAN dan praktik Indonesia mencantumkan CuSO₄ sebagai bahan yang diizinkan untuk kolam, sementara penggunaan serampangan atau di luar label dapat dikenai sanksi (www.globalseafood.org; www.globalseafood.org; doczz.net).
Kontrol pH Limbah Brewery Otomatis: Desain Sistem Netralisasi 6–9
Efektivitas relatif dan integrasi metode
Secara terukur, algaecide kimia memberikan penekanan bloom tercepat: perlakuan tembaga konsisten menurunkan fitoplankton >90% dalam hari‑pekan. Metode biologis/fisik biasanya lebih lambat/parsial namun berkontribusi pada stabilitas jangka panjang ekosistem kolam. Kombinasi cerdas—misal aerasi kontinu, kedalaman optimal, pengelolaan pakan/limbah, dan penggunaan kimia yang terukur—mengurangi frekuensi dan intensitas bloom sehingga ketergantungan pada algaecide menurun (www.researchgate.net).
