Cooling Fermenter Brewery: Glikol vs Ammonia & Kontrol PID

Dari “dimple jacket” hingga fuzzy‑logic, bir yang konsisten datang dari pendinginan yang presisi—dan kimia air yang dijaga ketat. Data menunjukkan direct ammonia bisa memangkas energi 30–40% dibanding loop glikol, namun keamanan dan fleksibilitas membuat banyak brewery tetap setia pada propylene glycol.

Industri: Brewery | Proses: Fermentation

Di balik buih dan aroma hop, ada perang senyap di dinding fermenter: memilih jaket pendingin, menata kontrol suhu, dan merawat loop glikol agar bebas korosi. Mayoritas fermenter modern mengandalkan jaket eksternal yang diatur PLC/PID, sementara beberapa pabrik besar beralih ke direct ammonia untuk efisiensi energi. Pada akhirnya, kualitas bir bertumpu pada beberapa derajat suhu dan beberapa ppm kimia air.

Riset industri dan studi kasus menyebutkan fermenter “cooled by coils or cooling jackets” dan diikat langsung ke loop kontrol otomatis oleh sensor suhu (“thermometers that directly feed automatic control loops”) (researchgate.net) (brewiki.org). Di balik layar, istilah teknisnya adalah RTD (resistance temperature detector) dan thermocouple untuk sensing; PID (proportional–integral–derivative) dan PLC (programmable logic controller) untuk kontrol; dan SCADA (supervisory control and data acquisition) untuk pemantauan terpusat.

Baca juga:

Pabrik Bir Tangkap CO₂ Fermentasi: Teknologi, Manfaat & ROI 1–5 Tahun

Desain jaket pendingin fermenter

Fermenter umumnya didinginkan oleh coil internal atau jaket eksternal. Coil internal—pipa spiral di dalam tank—semakin jarang karena area perpindahan panas terbatas dan sulit dibersihkan; mayoritas pabrik modern memilih jaket eksternal atau plate. Opsi eksternal meliputi “dimple (half‑pipe) jackets” dan jaket full atau multi‑zoned; cooling plates (panel datar yang dibaut ke tangki) juga dijumpai di beberapa desain (brewiki.org).

Dimpled/half‑pipe jackets (lembaran logam berprofil yang dilas ke dinding) memberi aliran turbulen dan kekuatan, sementara jaket bersegmen atau full‑face menawarkan area permukaan lebih besar. Banyak fermenter menggunakan wall jacket stainless steel dengan outer shell berinsulasi; coolant glikol bersirkulasi menyerap panas. Rasio luas‑permukaan‑terhadap‑volume khas cylindroconical disebut sekitar ~0,25–0,35 m²/L (angka rujukan teknis dari rangkuman riset).

Pemilihan tipe jaket kerap mengikuti jenis coolant: Brewiki mencatat dimple jackets lazim untuk refrigeran “isothermal” (mis. direct ammonia atau CO₂), sementara half‑pipe cocok untuk brine glikol (brewiki.org).

Sensor suhu, PID, dan contoh integrasi

Sensor suhu (RTD/thermocouple) dipasang di dalam bir pada beberapa titik; sinyalnya masuk ke PLC/PID yang memodulasi aliran ke jaket via valve atau pompa. Contoh konkret: sebuah craft brewery di London menggunakan Omron EC5 PID controllers pada sembilan fermenter, membuka/menutup solenoid valves di sirkuit jaket untuk menjaga setpoint (axiscontrols.co.uk). Banyak brewery mengintegrasikan kontrol ini ke SCADA atau software manajemen brewery untuk batch recipes dan alarm.

Intinya, kontrol modern memadukan wall jacket (atau coil) dengan pengendali elektronik—PID atau bahkan fuzzy‑logic—yang menggerakkan valve maupun pompa (researchgate.net) (brewiki.org).

Efisiensi: glikol vs refrigeran langsung

Cooling Fermenter Brewery: Glikol vs Ammonia & Kontrol PIDImage Jan 5, 2026, 09_29_31 AM

Kebanyakan craft brewery memakai sirkulasi glycol‑water (propylene glycol/PG) untuk pendinginan fermenter, tetapi pilihan lain tetap tersedia: direct refrigerant (ammonia brine) atau chilled water loop. Kelebihan glikol adalah proteksi beku (usable di bawah 0 °C) dan loop tertutup yang sederhana; kekurangannya kapasitas panas jenis lebih rendah dan butuh kerja pompa/kompresor tambahan.

Perbandingan kunci: glikol vs ammonia langsung. Sistem direct ammonia dapat disirkulasikan ke jaket tanpa loop glikol perantara. Gerlach (1995) melaporkan direct ammonia tidak memerlukan intermediate glycol loop, menjalankan kompresor pada temperatur evaporasi lebih tinggi, dan menghasilkan penghematan energi ~30–40% dibanding sistem glikol (brewiki.org). Alasannya: loop glikol menambah losses di heat‑exchanger dan daya pompa. Dalam praktik, sistem ammonia/natural refrigerant memakai kondensor dan motor pompa yang lebih kecil untuk duty pendinginan yang sama (rujukan: brewiki.org).

Analisis Lawrence Berkeley Lab menunjukkan brewery menengah‑besar kerap memasang engine‑driven atau absorption chillers; direct‑drive systems dapat menghemat 2–4 kBtu/barrel (~0,5–1 kWh/hL) dibanding desain lama (researchgate.net) (brewiki.org). Di iklim dingin, ice‑bank atau direct water cooling pernah populer, namun kini sebagian besar tergantikan oleh refrigerated glycol demi kontrol presisi.

Secara kuantitatif, loop glikol umumnya bersirkulasi 30–40% propylene glycol (berdasarkan volume) (info.kellerheartt.com). Ini menurunkan specific heat coolant (~0,88 kJ/kg·K untuk 30% glikol vs ~4,18 untuk air), sehingga glikol memerlukan kira‑kira 2–3× laju alir dibanding air murni untuk pengambilan panas yang sama. Namun titik bekunya krusial untuk cold‑crashing (mis. ~–35 °C untuk 30% PG). Ringkasnya, glycol chillers mengonsumsi listrik sedikit lebih tinggi (karena pompa tambahan dan heat‑exchanger lebih besar) dibanding sistem langsung yang ideal, namun menawarkan safety dan fleksibilitas. Data menunjukkan direct refrigerant dapat menurunkan energi chiller sekitar sepertiga dibanding loop glikol (brewiki.org).

Baca juga:

Sanitasi Cold Side Brewery: CIP, PAA, dan Purge Gas

Otomasi profil fermentasi

Kontrol suhu aktif adalah kunci konsistensi rasa: metabolisme ragi dan pembentukan ester/alkohol sangat bergantung temperatur. Brewery modern memprogram fermentation profiles—setpoint suhu terhadap waktu—ke dalam setiap resep batch. Contoh akademik: sebuah studi menggarisbawahi suhu sebagai parameter dominan dan menyesuaikan fuzzy‑logic controller untuk menahan tepat 16 °C, sesuai kondisi optimal Guinness Nigeria (researchgate.net). Dalam praktik, brewer memprogram multi‑step (mis. 12 °C untuk primary, lalu naik ke 18 °C) yang dieksekusi PLC via PID valves. Sambrooks Brewery (London) mengontrakkan panel terintegrasi menggunakan Omron EC5 dan PLC untuk “maintain accurate temperature control of [nine] fermentation tanks” dengan throttle valve coolant otomatis (axiscontrols.co.uk).

Manfaatnya: repeatability dan hemat tenaga kerja. Satu laporan menyatakan ~83% brewery 3–15 hL belum sepenuhnya otomatis (yolongbrewtech.com), sementara operasi besar secara universal menggunakan otomasi. Sains fermentasi menegaskan tight control (±0,1–0,5 °C) menekan variasi batch; kontrol PID mencegah overshoot suhu saat puncak evolusi CO₂, sehingga terhindar dari stuck fermentations dan off‑flavor. Sistem pemantauan fermentasi (sensor CO₂, hidrometer) dapat menjadi umpan balik untuk penyesuaian pendinginan. Profil terprogram juga memungkinkan strategi seperti durasi lager 7–10 hari pada 8–12 °C, atau membuat stream untuk blending, semua di bawah jadwal terkomputerisasi.

Perlakuan air loop glikol: korosi dan fouling

Loop glikol tertutup bergantung pada kimia air yang tepat untuk mencegah korosi, scale, dan biological fouling. Persyaratan utama: (1) kualitas air make‑up: gunakan demineralized atau softened water guna menekan konduktivitas, misalnya lewat sistem demineralizer atau softener; (2) corrosion inhibitors: paket inhibitor kompatibel pangan (nitrites, phosphates, azoles, dll.) untuk menaikkan pH dan mempasivasi logam; (3) kualitas glikol: gunakan food‑grade propylene glycol/PG dengan EG/DEG (ethylene/diethylene glycol) <0,1% sesuai ketentuan BPOM Indonesia (food.chemlinked.com); pertahankan konsentrasi PG sekitar 30–40%; (4) monitoring: uji rutin pH (sering ditargetkan ~9,0–9,5), reserve alkalinity, dan level inhibitor.

Contoh lapangan: sebuah brewery besar di Asia yang menggunakan inhibitor proprietari NCH (Chem‑Aqua 54766) menunjukkan bahwa menstabilkan pH, alkalinity, dan phosphate di loop “improved operational safety” dan memperpanjang umur peralatan secara dramatis (nchasia.com). Studi kasus yang sama melaporkan penghematan 500.000 L make‑up water dan 38.000 gal (143 m³) PG dengan mengurangi bleed‑and‑replace, sekaligus menjaga efisiensi heat‑exchanger pada desainnya (nchasia.com).

Tanpa treatment, loop rentan terhadap korosi carbon steel dan fouling tembaga; loop yang ditreatment menghindari sludge besi dan pinch‑off tembaga. Sistem tertutup dijaga sedikit bertekanan (menekan O₂ terlarut) dan biocide dapat diaplikasikan secara intermittent. Sebagai praktik terbaik, jalankan chiller glikol dengan “filtered deionized water” dan inhibitor organik yang terukur serta occasional reclamation (nchasia.com). Pilihan produksi air deionisasi kontinyu dapat mencakup EDI (electrodeionization) selain demineralisasi konvensional; untuk pengumpanan inhibitor/biocide yang akurat, peralatan seperti dosing pump relevan dalam sistem loop tertutup.

Catatan regulasi: air yang digunakan di brewery—termasuk make‑up chiller—wajib memenuhi standar air minum di banyak yurisdiksi. Di Indonesia, propylene glycol untuk kontak pangan diawasi ketat—BPOM mewajibkan EG/DEG <0,1% dalam PG food‑grade (food.chemlinked.com). Secara lingkungan, pembuangan spent glycol atau air yang mengandung logam berat dibatasi; karena itu sistem dibuat tertutup guna meminimalkan blowdown.

Baca juga:

Manajemen Ragi Bir: Teknik Panen dan Pitching untuk Konsistensi

Sumber dan angka rujukan

Rangkuman ini merujuk publikasi teknik dan studi kasus: ulasan teknologi brewing dan case study merinci desain jaket fermenter serta sistem kontrol (brewiki.org) (researchgate.net); studi water‑treatment 2025 mendokumentasikan penghematan spesifik dari penggunaan inhibitor di sistem glikol (nchasia.com) (nchasia.com). Riset kontrol fermentasi menyorot peran krusial manajemen suhu (researchgate.net), dan panduan vendor mengonfirmasi rasio glikol lazim (~60/40 PG/water) beserta titik bekunya (info.kellerheartt.com). Data hemat energi (mis. 30–40% vs glikol; 2–4 kBtu/barrel atau ~0,5–1 kWh/hL) serta volume penghematan (500.000 L air make‑up; 38.000 gal/143 m³ PG) tercantum di sumber terkait, menjadi landasan keputusan desain dan bisnis.

Chat on WhatsApp 2212122qwa