Ampas Malt Brewery: Dijual ke Peternak atau Dikeringkan Jadi Cuan?

Brewery menghasilkan ~20 kg ampas per 100 L bir—basah, berat, dan cepat rusak. Pilihannya: serahkan cepat ke peternak lokal atau investasi pengeringan untuk produk stabil bernilai lebih.

Industri: Brewery | Proses: Lautering

Di balik segelas bir, ada gunungan ampas gandum yang harus dibereskan setiap hari. Dari proses lautering, sekitar 20–31% bobot malt berubah menjadi ampas (brewers’ spent grain/BSG)—kira‑kira 20 kg per 100 liter bir yang diproduksi (www.sciencedirect.com). Skala globalnya masif: ~40 juta ton BSG per tahun (www.tetrapak.com).

Masalahnya, BSG sangat basah—sekitar 70–80% kelembapan, lazimnya 80–85%—sehingga mudah rusak (www.researchgate.net) (www.mdpi.com). Umur simpannya hanya ~7–10 hari pada suhu ruang (www.researchgate.net). Tak heran, hampir semua brewery harus mengeluarkan ampas ini secepatnya—diolah lagi atau dibuang, yang mana keduanya berbiaya dan berimplikasi regulasi; sekadar angkut ke TPA saja bisa setara ~US$16 per ton metrik per 8 km (www.researchgate.net).

Baca juga:

Aerasi Tambak Modern: Bandingkan Paddlewheel, Diffuser, Oksigen

 

Karakter BSG dan risiko penyimpanan

Secara nutrisi, pada basis bahan kering (dry matter/DM), BSG mengandung ~20–30% protein dan ~60–70% serat (www.sciencedirect.com) (www.researchgate.net). Tetapi karena kadar airnya sangat tinggi, ampas basah cepat rusak, apalagi di iklim hangat seperti Indonesia—kerusakan dapat muncul hanya dalam beberapa hari (www.researchgate.net).

Opsi 1: pakan ternak basah lokal

Rute tradisionalnya sederhana: BSG basah diserahkan atau dijual murah ke peternak sekitar sebagai pakan ternak. Tanpa pengeringan atau investasi modal—brewery cukup menyalurkan padatan mash segera (sering via penjemputan harian) untuk sapi atau babi. Ini saling menguntungkan: peternak mendapat suplemen protein‑serat murah, brewery menghindari biaya pembuangan dan biaya lingkungan. Banyak praktik menunjukkan brewery mengenakan biaya nol atau nominal (www.researchgate.net).

Secara formulasi, inklusi BSG basah pada 25–30% ransum sapi perah (basis DM) telah ditunjukkan meningkatkan konsumsi dan produksi susu (www.researchgate.net). Pemanfaatan di kandang juga mengurangi penggunaan TPA dan emisi metana dari pembusukan.

Biaya dan batasan logistik opsi basah

Karena ~80% air, BSG basah berat dan bulky. Peternak enggan menempuh jarak jauh; biasanya hanya puluhan kilometer. Penjemputan harus harian atau beberapa hari sekali agar tidak rusak. Biaya angkut signifikan; bahkan laju kerusakan bahan kering ~1–2% per hari berarti pada 30 °C, wet brewer’s grain (WBG) kehilangan ~10% bahan kering dalam satu hari (www.researchgate.net). Jika brewery harus menyediakan truk, biaya bahan bakar dan tenaga kerja bertambah. Imbal hasil finansial untuk brewery umumnya nihil.

Tren pasar dan regulasi

Secara global, reuse BSG sebagai pakan meluas. Studi pasar 2022 menyebut BSG kering adalah “staple” industri pakan karena profil protein/serat (www.futuremarketinsights.com). Brewer kerap memandang BSG sebagai “by‑product inti, bukan limbah” (www.researchgate.net). Regulasi bisa menajam: pada 2014, draf FDA di AS sempat mengusulkan BSG harus ditangani/dikeringkan sebelum digunakan di peternakan (time.com), meski menuai penolakan. Di Indonesia, tidak ditemukan larangan pemanfaatan limbah brewery sebagai pakan; inisiatif nasional justru mendorong pemakaian limbah agro lokal untuk menekan ketergantungan impor pakan (pressrelease.kontan.co.id).

Opsi 2: pengeringan dan produk bernilai tambah

ChatGPT Image Feb 11, 2026, 11_36_57 AM

Mengeringkan BSG ke ~5–10% kelembapan membuatnya stabil berbulan‑bulan dan mudah diangkut; massa berkurang drastis karena air keluar (~80%). Produk kering dapat dipres, dipellet, atau digiling jadi tepung—pasarnya meluas: pakan sapi/unggas/babi, bahan pakan hewan peliharaan, pupuk organik, hingga pangan “upcycled”. Pasar BSG kering diproyeksikan tumbuh ~4,7% CAGR hingga 2035 (www.futuremarketinsights.com). Anheuser‑Busch InBev berinvestasi mengekstrak protein/serat dari spent grain untuk aplikasi pangan (www.ft.com).

Studi menyebut pengeringan “menurunkan biaya transportasi dan penyimpanan” (www.researchgate.net), tetapi biayanya tidak kecil.

Biaya energi dan investasi pengeringan

Dryer industri (rotary drum, belt, fluidized bed) bernilai puluhan hingga ratusan ribu dolar AS, dengan kebutuhan energi tinggi. Mengeringkan 1 kg BSG 80% kelembapan ke ~10% butuh energi setara menguapkan ~0,7 kg air (~2–3 MJ; megajoule adalah satuan energi) (www.researchgate.net). Banyak kajian menekankan “biaya energi terkait pengeringan” tinggi dan bisa membebani brewery kecil—“kebanyakan craft brewery tidak memiliki fasilitas pengeringan” (www.researchgate.net).

Baca juga:

Teknologi Klarifikasi Air Akuakultur: Air Jernih, Risiko Penyakit Turun

 

Contoh finansial dan metrik komparatif

Secara nilai jual, BSG kering bisa bernilai tinggi: analisis pabrik tepung BSG mengasumsikan harga jual US$2,70–3,60/kg (www.mdpi.com). Dengan capex ~US$90.000, studi itu tetap layak finansial: NPV > 0 dan IRR (internal rate of return) 5‑tahun ~12,7% dengan payback ~4 tahun (www.mdpi.com), asumsi output kering ~6,6 ton/bulan dengan biaya bulanan ~US$3–4 ribu (www.mdpi.com) (www.mdpi.com).

Metrik praktis: 1 ton metrik BSG basah (~80% air) berisi ~200 kg padatan kering. Jika diserahkan basah, brewery hanya menghindari biaya pembuangan (mis. US$16). Jika dikeringkan, 1 ton basah menjadi ~200 kg kering; pada US$3/kg, itu US$600 pendapatan. Namun mengeringkan ~800 kg air butuh ~50 m³ gas alam (~US$25–US$50) plus listrik—mudah melampaui US$50 biaya bahan bakar. Studi MDPI memperkirakan biaya operasi bulanan ~US$3.500 untuk mengeringkan ~6.600 kg/bulan (www.mdpi.com), setara ~US$0,53/kg produk kering sebelum memperhitungkan modal. Artinya harga jual harus beberapa dolar per kg agar ekonomis. Banyak pengalaman dan analisis menyimpulkan pengeringan masuk akal pada volume cukup besar atau pasar harga tinggi (payback 3–5 tahun) (www.mdpi.com).

Konveyor dan evakuasi ampas dari brewhouse

Apa pun rute pemanfaatannya, BSG harus dikeluarkan cepat dan rapi. Karena sifatnya basah dan viskos, sistem konveyor wajib robust. Pola umum: konveyor ulir (screw/auger) di bawah lauter tun mendorong ampas ke hopper penerima. Contohnya, sistem “iExpel” dari IndPro memasang ulir pitch variabel di bawah tun dan menyertakan saringan terintegrasi untuk pra‑drain (www.indpro.com). Unit semacam ini kerap tersambung ke jalur pneumatik bertekanan untuk transfer lanjut.

Konveyor pneumatik tipe plug menggabungkan feed screw dan injeksi udara bertekanan untuk mendorong “plug” BSG dalam pipa ke silo basah hingga ~200 meter (making.com). Fitur katup “no‑back” mencegah overpressure (making.com). INDPRO menyebut iExpel memakai motor 22 kW dan bisa menangani ~20 ton/jam (www.indpro.com), dengan transfer tertutup, senyap, dan higienis.

Untuk jarak pendek, konveyor sabuk miring atau flexible screw (ulir fleksibel di dalam tabung) populer karena perawatan rendah dan mudah dibersihkan (www.spiroflow.com). Di hilir, hopper buffer menyeimbangkan aliran, lalu bahan dimasukkan ke silo, auto‑tailer, atau langsung memuat ke truk. Desain baik meminimalkan handling manual, misalnya pengisian truk di bawah spout tetap (www.indpro.com).

Desain higienis, washdown, dan pemantauan

Hal krusial: cleanability (tanpa dead zone), resistensi korosi (baja nirkarat atau coating food‑grade), dan operasi sanitasi untuk menghindari bau/serangga. Banyak sistem profesional memasang nozzle semprot atau kemampuan CIP (clean‑in‑place) untuk washdown; perangkat pendukung untuk water treatment yang relevan tersedia sebagai water treatment ancillaries. Sensor atau port visual untuk deteksi sumbatan disarankan; beberapa referensi menyoroti integrasi pemantauan real‑time guna mengatasi bridging sejak dini (datacalculus.com).

Ukuran sistem harus mengikuti puncak output satu brew—di operasi besar, laju bisa ratusan kilogram per menit. Pemasok mengiklankan kapasitas hingga ~20 t/jam (www.indpro.com), menegaskan beban tinggi pun bisa ditangani. Tujuannya selalu sama: membersihkan ampas cepat di jeda antar brew tanpa tumpah atau macet.

Baca juga:

Sludge Tambak: Vacuum Kilat vs Probiotik, Mana Paling Untung?

 

Ringkasan keputusan: murah‑cepat vs mahal‑bernilai

Tanpa pengeringan, hampir semua brewery skala kecil mengandalkan penyerahan basah atau ensiling (www.researchgate.net). Opsi ini praktis, murah, dan ramah lingkungan dibanding TPA (www.researchgate.net). Sebaliknya, pengeringan membutuhkan CAPEX dan energi besar, namun membuka pendapatan per kilogram—layak jika volume dan pasar memadai, dengan beberapa studi menunjukkan payback 3–5 tahun pada asumsi harga optimistis (www.futuremarketinsights.com) (www.mdpi.com).

Chat on WhatsApp 2212122qwa