Teknologi Wort Boiling Hemat Energi: Calandria, Vacuum & TVR

Wort boiling adalah langkah paling boros energi di brewhouse—tapi kini ada jalan pintasnya.

Dari kettle atmosferik ke calandria, low‑pressure/vacuum, hingga thermal vapor recompression (TVR), penghematan uap 20–75% bukan lagi wacana.

Industri: Brewery | Proses: Boiling

Baseline energi dan pendorong efisiensi

Wort boiling (merebus cairan pra‑fermentasi dari mash, disebut “wort”) adalah langkah paling intensif energi di brewhouse (www.researchgate.net). Dalam sistem konvensional sekitar 8–12% volume wort diuapkan selama 1–1,5 jam (www.researchgate.net) (www.newfoodmagazine.com), menuntut sekitar 44–46 kBtu/barrel (kilo British thermal units per barrel; ≈11,5–12 kWh/hektoliter) uap (www.researchgate.net).

Untuk konteks, brewhouse tipikal memakai sekitar 18–22 kWhₜₕ per hektoliter bir, dari total konsumsi pabrik sekitar 50–60 kWhₜₕ/hl (www.thefreelibrary.com). Di AS, bahan bakar menyumbang ≈38% biaya produksi brewing (www.researchgate.net). Di Indonesia, audit menunjukkan potensi penghematan 10–30% dan aturan baru mendorong manajemen energi di manufaktur (www.esdm.go.id) (www.esdm.go.id).

Kettle atmosferik konvensional

Kettle klasik beroperasi nyaris pada tekanan atmosfer. Uap pada ~0,6–1 bar memanaskan wort ke 100°C; uap hasil rebusan tidak dipulihkan (www.researchgate.net). Evaporasi tipikal 8–12% selama 60–90 menit, dengan kebutuhan uap ~11–12 kWh/hl (www.researchgate.net).

Desain termosifon (thermosiphon; sirkulasi alami) ini rentan aliran berdenyut dan pemanasan lokal berlebih pada tabung, memicu fouling dan CIP (clean‑in‑place) lebih sering (www.newfoodmagazine.com). Selain itu, seluruh kalor laten uap terbuang dan wort dingin (≈74°C) tidak dipra‑panaskan—hilir sering butuh tekanan uap lebih tinggi dan waktu rebus lebih lama. Sederhana dan tangguh, tetapi inilah “baseline” tagihan uap industri (www.researchgate.net) (www.researchgate.net).

Internal calandria modern

Internal calandria (bundle pipa pemanas di dalam kettle) memurnikan desain klasik. Sistem seperti “Wortifier” memompa wort melalui rangkaian pipa vertikal di semua level agar terbentuk thin‑film boiling yang seragam (www.banke.de) (www.newfoodmagazine.com). Ini menghilangkan “pulsing” dan menekan tegangan termal.

Pemasok melaporkan laju evaporasi sangat rendah (<4%) dan pemakaian uap turun, dengan kualitas wort lebih baik (pemisahan volatil, DMS lebih rendah, kestabilan foam meningkat) (www.banke.de). Pompa sirkulasi dan deflektor memastikan aliran lembut di atas coil internal (www.banke.de) (www.newfoodmagazine.com), sehingga tekanan uap bisa diturunkan (sering ≈0,1 MPa) dan transfer kalor lebih merata. Laporan independen menyebut frekuensi cleaning berkurang (mis. >30 batch antara CIP) dan “low energy requirements” (www.banke.de).

Untuk brewery menengah (≥200 hl per batch), internal calandria kini lazim: penambahan capex minimal, perawatan kecil, dan efektif dengan low‑pressure steam (www.brewerybeerequipment.com) (www.banke.de).

External calandria dan kettle‑boiler

 

External calandria (pemanas di luar kettle, tipe plate atau shell‑and‑tube) mengalirkan wort berkecepatan tinggi melalui penukar kalor lalu kembali ke kettle. Sirkulasi 8–10 kali per jam dilaporkan (microbrewerysystem.com) dan karena bertekanan, pendidihan dapat terjadi pada 107–110°C.

Satu pemasok menyebut waktu didih lebih pendek ~20–30% dibanding coil uap—implikasinya penghematan uap serupa (microbrewerysystem.com). Tekanan uap yang dibutuhkan sering hanya ~0,3 MPa, lebih rendah dari coil statis (microbrewerysystem.com). Konsekuensinya, ada konsumsi listrik pompa dan desain harus mencegah shear berlebih pada wort (microbrewerysystem.com). Banyak kasus menunjukkan pemakaian uap turun 20–30% untuk evaporasi yang sama, dan fleksibilitas ukuran batch meningkat. Kombinasi coil internal dengan forced‑boiler eksternal lazim di throughput tinggi.

Pra‑pemanasan wort dan pemulihan kalor

Tren kunci: pra‑panas wort menggunakan kalor uap hasil rebusan. Plate heat exchanger dapat menaikkan wort 72°C menuju 95–98°C memakai hot water dari kondensasi uap rebus (www.newfoodmagazine.com). Kondensat uap disimpan (~78°C) lalu dipanaskan ulang oleh uap brew berikutnya—membentuk closed heat loop.

Pendekatan “energy recovery” seperti ini (mis. Rolec ESS atau Kaspar Schulz “GentleBoil”) memangkas kebutuhan uap baru secara drastis. Perhitungan termosifon menunjukkan: mengurangi evaporasi dari ~12% ke ~6% pada batch 500 hl menghemat sekitar 6,8 GJ per batch (www.newfoodmagazine.com). (Even accepting a typographical “MJ” in the source, the point is ~1900 kWh per brew (www.newfoodmagazine.com).) Praktisnya, pemulihan kalor laten uap bisa melampaui setengah energi uap.

Saat kondensat dan hot water dari rebusan hendak dipakai ulang, beberapa pabrik menambahkan tahap pemolesan kondensat untuk menjaga mutu utilitas. Unit seperti condensate polisher kerap dipakai sebagai bagian dari loop panas tersebut. Untuk pretreatment air panas reuse yang bersentuhan dengan peralatan makanan/minuman, opsi seperti ultrafiltration dan housing higienis stainless steel cartridge dapat dipertimbangkan. Jika volatil wort terkondensasi menjadi “waste” water, penyerapan organik dengan activated carbon juga umum sebelum integrasi ulang ke utilitas.

Operasi tekanan rendah dan vakum

Teknologi low‑pressure wort boiling (termasuk vakum) menurunkan kebutuhan driving force kalor. Bejana ber-rating ~0,6 bar (≈113°C) memungkinkan rebusan lebih hemat. Sistem “dinamis” tekanan rendah (komersial sejak pertengahan 1990‑an) biasanya hanya memerlukan 4,5–6% evaporasi untuk kualitas lager yang setara (www.researchgate.net).

Di rezim ini, pemakaian uap turun ke sekitar 26–28 kBtu/barrel (~7–7,5 kWh/hl) (www.researchgate.net)—sekitar 40–50% lebih rendah dari atmosferik. Karena porsi besar uap dikondensasikan (dapat didaur ke lauter water atau CIP), utilisasi kalor efektif tinggi. Sistem ini paling cocok untuk pabrik dengan banyak brew/hari (capex lebih mudah terbayar) (www.researchgate.net).

Rekompresi uap: TVR dan MVR

Strategi paling agresif adalah vapor recompression—mengompresi uap wort untuk dipakai ulang sebagai panas. Thermal vapor recompression (TVR; ejector uap bertekanan tinggi) memanfaatkan live steam 6–18 bar untuk menghisap dan mengompresi uap rebusan (www.researchgate.net). Uap naik ke ~0,1–0,4 bar overpressure dan entalpinya didaur ulang.

Dalam praktik industri, sekitar 60–80% uap dikembalikan ke pemanas rebus dan ~20–40% dikondensasikan menjadi hot water recovery (www.researchgate.net), dengan sekitar 30–35% kalor radiasi kembali sebagai process hot water (www.researchgate.net). TVR relatif low‑maintenance dan scalable (www.researchgate.net), tetapi menuntut uap bertekanan tinggi dan permukaan penukar kalor besar, serta menghasilkan kondensat “waste” yang harus dipakai ulang atau ditangani (www.researchgate.net).

Mechanical vapor recompression (MVR; kompresor/blower bertenaga motor) menaikkan tekanan uap ke ~0,3–0,4 bar (www.researchgate.net) dan mendaur ulang seluruh uap ke pemanas. Studi pilot (internal calandria + kontrol otomatis) menunjukkan MVR memangkas kebutuhan uap ~40%: bahan bakar untuk wort boiling dan mashing turun dari ~44–46 kBtu/barrel menjadi ~27 kBtu/barrel (≈6,7 kWh/hl) dengan konsumsi listrik teruji ~0,02 kWh/barrel (www.researchgate.net) (www.researchgate.net).

Catat sisi beratnya: MVR berkapital besar dan kompleks; kasus lapangan menyoroti kebisingan, vibrasi, dan biaya perawatan kompresor, plus risiko lonjakan beban listrik puncak (www.researchgate.net). Di sisi higienitas utilitas, disinfeksi air panas reuse kerap dilakukan—opsi tanpa bahan kimia seperti ultraviolet sering dipilih pada fasilitas makanan/minuman.

Angka kinerja dan contoh komersial

ChatGPT Image Jan 14, 2026, 10_46_35 AM

Implementasi recompression sudah terbukti besar pengaruhnya. Steinecker “Merlin” (evaporator eksternal bergaya MVR) mengklaim total evaporasi ≈4% dan penurunan konsumsi bahan bakar 65–75% (www.researchgate.net). Analisis independen mendapati reaktor Merlin di ~22 kBtu/barrel (≈5,5 kWh/hl) vs 36 kBtu pada kettle konvensional—dan dengan thermal storage mencapai ~12 kBtu/barrel (www.researchgate.net). Sistem TVR seperti Huppmann dilaporkan di kisaran ~26–28 kBtu/barrel (www.researchgate.net).

Biaya, manfaat, dan payback

Masing‑masing opsi berbeda secara biaya dan ROI. Upgrade kettle konvensional ke internal coil relatif murah (puluhan ribu USD) dengan penghematan kecil‑menengah (boil lebih lembut, tekanan uap sedikit lebih rendah). External calandria/boiler tambahan butuh ~US$10–50 ribu dan menghemat ~20–30% uap rebus; payback 2–5 tahun tergantung volume brew dan harga bahan bakar.

Contoh: Hofbrauhaus Wolters (25 hl per batch) memasang coil internal “Jetstar” plus kondensor baru dan pra‑pemanas wort; evaporasi turun dari ~10% ke 5%. Retrofit €400 ribu diproyeksikan balik modal ~3 tahun dari penghematan panas dan listrik (www.campdenbri.co.uk). Sistem plate‑preheating sering mencatat payback 2–4 tahun.

TVR lebih murah dipasang daripada MVR: satu steam ejector ~US$30–100 ribu plus pemipaan, dan berjalan di atas utilitas uap yang ada. Mean Time to Break‑even dilaporkan singkat (sering ~2–3 tahun) saat kondensat uap dipakai untuk pemanasan dan pra‑pemanasan (www.researchgate.net) (www.researchgate.net). Jet kompresor menambah konsumsi sebagai high‑pressure steam beberapa persen saja, tetapi memangkas kebutuhan “new steam” sekitar separuh.

MVR berharga lebih tinggi (~US$100–300 ribu atau lebih) namun diimbangi penghematan ~40–60%. O&M MVR dilaporkan ~2–7% dari capex per tahun (www.researchgate.net). Dengan listrik relatif murah di Indonesia dibanding bahan bakar, payback MVR bisa menarik jika harga uap tinggi. Berbagai publikasi menunjukkan brewery besar memulihkan investasi VR dalam 2–5 tahun.

Snapshot perhitungan energi

Contoh konkret: batch 100 hl dengan kehilangan 10% selama boil (10 hl menguap). Pada kalor laten 3,6 MJ/kg, itu ≈36 GJ (10 GWh) per batch; jika dibelah dua, hemat ~18 GJ. Dengan biaya gas boiler Indonesia ~$4–8/GJ, satu batch menghemat ~$70–150. Dalam setahun 2000 batch, penghematan $140–300 ribu; investasi $100–300 ribu pun balik modal dalam beberapa tahun. Pada kasus nyata, Hofbrauhaus Wolters menghitung penurunan boil loss dari 10% ke 5% cukup untuk membuat upgrade €400 ribu balik modal ~3 tahun (www.campdenbri.co.uk). Steinecker juga melaporkan bahwa mengurangi uap rebus total dari 8% ke 4% menghemat hampir 6,8 GJ per brew 500 hl (www.newfoodmagazine.com).

Rangkuman hasil dan tren

Peralihan dari kettle atmosferik ke teknologi modern dapat memangkas uap rebus ~10–75%, tergantung pilihan sistem. Internal coil dan external heater lazimnya menurunkan ~20–40%. Low‑pressure/vacuum dan heat‑recovery preheater bisa mencapai ~4–7 kWh/hl (www.researchgate.net) (www.researchgate.net).

Kasus vapor recompression menunjukkan penghematan ~40–65% (mis. 11 kWh/hl turun menjadi 3–6 kWh/hl) (www.researchgate.net) (www.researchgate.net). Tiap persen uap yang dihemat langsung menurunkan biaya bahan bakar dan emisi CO₂. Dengan harga energi tinggi dan mandat efisiensi yang makin ketat di Indonesia (www.esdm.go.id) (www.esdm.go.id), upgrade konservatif seperti kondensor dan pra‑pemanas wort biasanya cepat berbuah. Pada loop utilitas panas tersebut, housekeeping kualitas air proses kerap mengikutsertakan perangkat seperti dosing pump untuk kontrol bahan kimia yang presisi.

Catatan sumber dan konteks

Angka dan klaim di atas bersandar pada studi teknik dan laporan industri yang mengukur beban kalor rebusan dan pemulihannya—termasuk permintaan uap dan persentase evaporasi (www.researchgate.net) (www.researchgate.net), angka investasi kasus (www.campdenbri.co.uk), dan penghematan energi terukur dari berbagai teknologi (www.researchgate.net) (www.researchgate.net). Konteks kebijakan Indonesia diambil dari publikasi Kementerian ESDM (www.esdm.go.id) (www.esdm.go.id).

Chat on WhatsApp 2212122qwa