HDS AMD Nikel: Lumpur Padat, Filter Press vs Geotube, Recovery Ni/Co

Proses high‑density sludge (HDS) memadatkan lumpur AMD hingga 15–70% padatan—dibanding ~5% pada netralisasi sekali lewat—namun mewariskan TDS/sulfat yang naik dan residu logam bernilai. Tarik ulur itu kini mendorong pilihan dewatering cerdas dan pemulihan Ni/Co.

Industri: Nickel_Mining | Proses: Acid_Mine_Drainage_(AMD)_Treatment

Acid mine drainage (AMD, air asam tambang) mengharuskan netralisasi cepat, tapi konsekuensinya adalah lumpur dalam jumlah besar. Dengan high‑density sludge atau HDS (proses resirkulasi lumpur untuk densifikasi), kandungan padatan melonjak 15–70% dengan densitas curah kering ~1050–1370 kg/m³—dibanding ~5% pada pengolahan kapur satu lintasan (www.mdpi.com).

Skala dampaknya nyata: Maree dkk. memperkirakan ~20 ton HDS per megaliter (ML) AMD yang dinetralkan; mengolah 360 ML/hari menghasilkan ≈7.200 ton HDS/hari (www.mdpi.com). Kuncinya adalah resirkulasi lumpur terklarifikasi ke tahap reaksi sehingga permukaan nukleasi berlimpah untuk kopresipitasi gipsum, hidroksida besi, dan hidroksida logam lain (www.mdpi.com).

Baca juga:

Dua Barrier Intake Akuakultur: Filtrasi + Ozon + UV Kunci Patogen

Implementasi HDS dan implikasi kualitas air

Proyek AMD Eastern Basin di Afrika Selatan mengoperasikan fasilitas HDS 108 ML/hari (investasi 1 miliar ZAR) sejak 2016 (scielo.org.za). Skemanya adalah netralisasi bertahap (pra‑netralisasi batu kapur diikuti kapur) plus resirkulasi lumpur.

Hasilnya: besi dan nutrien turun, tetapi konduktivitas dan sulfat di hilir meningkat signifikan ke level “tidak dapat diterima”—operator kini mengevaluasi desalinasi sekunder untuk mencegah dampak salinitas (scielo.org.za). Pada level unit, pengendapan dan pemadatan biasanya memerlukan peralatan seperti clarifier, dan penguatan pembentukan flok dengan polimer flocculants memang lazim di klarifier HDS maupun saat dewatering geotube (lihat bagian di bawah).

Penguat densifikasi: CKD dan polimer

Penggunaan bahan alkali samping dapat mengubah permainan. Studi bangku menunjukkan penggantian kapur tohor (slaked lime) dengan cement kiln dust atau CKD (debu kiln semen sebagai alkali proses) dalam HDS secara tajam meningkatkan dewatering. Mackie & Walsh (2015) melaporkan CKD‑HDS menghasilkan lumpur dengan sludge volume index/ SVI (indeks volume lumpur—indikator kemudahan mengendap) 25–88% lebih rendah dan 2–9× lebih tinggi persen padatan basah serta 10–20× lebih tinggi persen padatan kering dibanding HDS berbasis kapur (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov).

Kecepatan pengendapan pun melonjak: 1,3 cm/detik vs 0,3 cm/detik pada kapur (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov). Secara praktis, polimer flokulan seperti polyacrylamide lazim ditambahkan pada klarifier HDS untuk menangkap padatan dan kompaksi—persis seperti kebutuhannya pada dewatering geotube (www.mdpi.com).

Karakter lumpur HDS dan klasifikasi limbah

ChatGPT Image Feb 13, 2026, 10_11_20 AM

Lumpur HDS umumnya membawa gipsum dan oksohidroksida Fe/Mn amorf yang “menyapu” logam jejak. Karakterisasi (mis. Sukati dkk.) menunjukkan HDS dari pengolahan batu kapur saja bisa kaya Mn dan Ni terlarut (www.mdpi.com) (www.mdpi.com).

Di beberapa rezim, sludge seperti itu dikategorikan “berbahaya”: regulasi Afrika Selatan menandai kelarutan Ni dan Mn pada sludge batu kapur sebagai Type 0 (risiko sangat tinggi), butuh retreatment sebelum landfill (www.mdpi.com). Sebaliknya, HDS berbasis kapur (pH lebih tinggi) cenderung mengoksidasi Mn menjadi oksida inert, menurunkan kelarutan Mn (www.mdpi.com) (www.mdpi.com). Intinya: HDS meminimalkan volume tetapi memusatkan logam; rencana pembuangan harus mengantisipasi residu kaya logam.
Baca juga: 

Desain Intake Air Budidaya Tahan Monsun: Settling Pond, Sensor, Cadangan

Dewatering: filter press vs geotube

Sesudah HDS atau netralisasi konvensional, lumpur perlu ditiriskan. Filter press (plate‑and‑frame/diaphragm) memeras sludge bertekanan tinggi, menghasilkan cake yang sangat kering—“paling kering” dibanding metode lain (www.climate-policy-watcher.org). Tipikal padatan cake 35–50% basis basah (www.climate-policy-watcher.org), bisa lebih (60%+) dengan “squeeze” atau siklus pengeringan udara.

Unit besar memproses beberapa ton/jam, namun CAPEX signifikan (ratusan ribu–jutaan USD) dan perawatan pelat—operasi batch 2–4 jam/siklus (www.climate-policy-watcher.org) (www.climate-policy-watcher.org).

Geotextile tubes mengandalkan gravitasi; slurry dipompa ke tabung kain berpori, air merembes keluar. Biasanya perlu kondisioning polimer agar terbentuk cake permeabel di dalam tabung (www.mdpi.com). Biaya modal rendah (sekitar 10–30% dari press), tetapi cake lebih basah (sering 30–50% padatan); studi lab mencatat geotube menghasilkan persen padatan lebih tinggi daripada dewatering mekanik untuk sludge air minum, namun cake akhir hanya ~40% padatan (www.mdpi.com).

Dalam praktik, geotube unggul untuk volume besar sludge encer—pengisian jam‑hari, drainase hari‑minggu—dengan kebutuhan ruang lebih dan manajemen polimer/efluen. Polimer flocculants menjadi penentu kinerja geotube pada slurry halus (www.mdpi.com).

  • Filter Press (Plate Press): operasi batch, tekanan tinggi (40–300 psi), cake ~35–50+% padatan, filtrat TSS sangat rendah, CAPEX/OPEX tinggi, tertutup (kontrol bau baik).
  • Geotextile Tubes: isi/surut kontinu, perlu polimer, cake 30–50% padatan, kejernihan efluen dikendalikan dengan presipitasi, CAPEX sangat rendah, skala mudah, tapak besar, waktu dewatering lebih lama (www.mdpi.com).

Contoh hasil: press dapat menurunkan slurry 5% menjadi cake 50% (reduksi volume ~90%). Geotube pada feed sama bisa berakhir 40% padatan, reduksi ~3×. Ardila dkk. melaporkan geotube memenuhi standar kekeruhan efluen sambil melampaui padatan dewatering mekanik (www.mdpi.com).

Metode lain: centrifuge (decanter/disc) kontinu mencapai ~20–40% cake (untuk sludge terflokulasi), belt press ~20–60% kontinu. Secara umum, filter press menghasilkan cake paling kering (hingga 60–80% pada slurry mineral halus), sedangkan geotube dan belt press memberi padatan lebih rendah (~30–50%).

Pemulihan Ni/Co dari sludge AMD

Lumpur AMD di area nikel menyimpan Ni dan Co meski pada kadar rendah. Studi melaporkan sludge AMD batubara berisi ~0,03 wt.% Ni dan 0,02 wt.% Co (≈300 dan 200 mg/kg) (www.mdpi.com). Dokumen yang sama mengembangkan flowsheet hidrometalurgi (leaching dan presipitasi bertahap) untuk menghasilkan konsentrat—produk Ni campuran sulfida ~14% Ni dan intermediate terpisah ~9,9% Co berat (www.mdpi.com), sebuah pengayaan seratus kali lipat dari feed.

Umumnya: (1) larutkan logam dari sludge secara kimia (mis. H₂SO₄ atau HCl), (2) presipitasi/kemurnian selektif. Fe/Al diambil dengan penaikan pH sebagai hidroksida, menyisakan likuor kaya Ni/Co; presipitasi berbasis pH atau sulfida selanjutnya memisahkan Co/Ni atau Mn. Solvent extraction/SX dan ion exchange juga opsi untuk pemurnian Ni/Co; pada opsi ini, resin seperti ion-exchange resin diaplikasikan melalui sistem Ion Exchange. Metode terbitan (mis. Agudelo dkk.) memakai penambahan reagen sekuensial (NaOH, Na₂S, dll.) untuk memfraksinasi Co, Ni, Mn dan memproduksi gram‑level sulfida Ni/Co (www.mdpi.com).

Biaya reagen/energi membuat keekonomian bergantung komposisi dan skala; pada sludge AMD nikel, Ni/Co biasanya ppm–% rendah, sehingga pemulihan paling masuk akal jika volume besar dan biaya dapat ditekan. Di beberapa kasus, sludge dipandang sebagai “tailings” untuk Ni/Co; re‑mining tailings basah/lumpur lewat hidrometalurgi telah didemonstrasikan pada tailings laterit nikel di tempat lain (www.mdpi.com).

Regulasi pembuangan dan standar

Di Indonesia, air tambang wajib memenuhi baku mutu, dengan pengelolaan on‑site seperti kolam sedimentasi mengacu pada regulasi Kementerian Lingkungan Hidup (implementasi PP 82/2001) (www.nawasis.org). Untuk sludge, aturan limbah padat umum berlaku; jika diklasifikasikan berbahaya (mis. Ni tinggi), wajib landfill berlapis.

Internasionalnya bervariasi: U.S. EPA mengklasifikasikan sludge berdasarkan TCLP; Ni tidak ada di daftar “hazardous characteristic”, sehingga sludge AMD berkadar Ni kerap berstatus non‑hazardous (Fe dan Mn absen) (www.mdpi.com) (www.mdpi.com). Kanada/Tiongkok mencantumkan Ni, sehingga sludge HDS batu kapur pernah ditandai berdasarkan kelarutan Ni (www.mdpi.com) (www.mdpi.com). Di Afrika Selatan, batas LCT0 yang sangat ketat membuat HDS batu kapur berstatus Type 0 (berbahaya) akibat Ni dan Mn terlarut (www.mdpi.com).

Ini menegaskan: bila fasilitas Indonesia mengadopsi HDS berbatu kapur, sludge mengandung ~300 mg/kg Ni (www.mdpi.com) berpotensi dinilai berbahaya menurut beberapa rezim. Setiap proses pemulihan logam akan dipandang positif karena menurunkan kandungan logam dan kuantitas limbah.

Baca juga:

Traveling Screen vs Wedge-Wire Intake Akuakultur: Patuh Regulasi & Aman Ikan

Ringkasan angka kunci dan implikasi desain

HDS memadatkan sludge ke 15–70% padatan (densitas curah kering ~1050–1370 kg/m³) vs ~5% pada netralisasi kapur satu lintasan (www.mdpi.com); menghasilkan ~20 t HDS/ML AMD—360 ML/hari ≈7.200 t/hari (www.mdpi.com). Filter press memberi cake 35–50%+ (hingga 60%+), batch 2–4 jam, dengan CAPEX/OPEX tinggi (www.climate-policy-watcher.org) (www.climate-policy-watcher.org); geotube 30–50% (≈40% pada studi), CAPEX 10–30% dari press (www.mdpi.com).

Pemulihan Ni/Co dari sludge: feed ~0,03 wt.% Ni/~0,02 wt.% Co (300/200 mg/kg) dapat diperkaya ke produk ~14% Ni dan ~9,9% Co via flowsheet leach‑presipitasi, SX/ion exchange sebagai opsi pemurnian (www.mdpi.com) (www.mdpi.com). Untuk pengendapan/pengendapan awal dan kompaksi, unit seperti clarifier dan polimer flocculants menjadi bagian integral dari skema HDS dan dewatering yang disebutkan di atas.

Chat on WhatsApp 2212122qwa