Di ruang mash, nasib konversi pati ditentukan oleh ion keras: kalsium (Ca²⁺) dan magnesium (Mg²⁺). Mengelola Ca²⁺ di kisaran 50–150 ppm, menyeimbangkan sulfat dan klorida, serta mengunci pH sekitar 5,2 adalah resep yang didukung data.
Industri: Brewery | Proses: Milling_&_Mashing
Di pabrik bir, kimia air bukan sekadar angka di laporan; ia menentukan apakah enzim pengonversi pati (α‑amylase dan β‑amylase; enzim pemecah pati menjadi gula fermentabel) bekerja maksimal atau tersandung. Produsen menargetkan Ca²⁺ mash di 50–150 ppm, menjaga pH mash di 5,2–5,5, dan mengatur rasio sulfat:klorida untuk menyesuaikan sensori—itu semua berkelindan menjadi performa enzim dan gaya bir yang tepat (www.horiba.com).
Calcium adalah aktor utama: tanpa Ca²⁺, α‑amylase cepat rusak pada suhu mash. Magnesium membantu, tapi terlalu banyak bisa menambah kekasaran rasa. Dan ya, garam brewing seperti gypsum (CaSO₄·2H₂O) dan calcium chloride (CaCl₂·2H₂O) bukan sekadar “bumbu”—keduanya mesin setelan untuk pH mash, stabilitas enzim, hingga profil rasa.
Kontrol pH Mash 5,2–5,6: Panduan Asam, Buffer, dan Garam Brewing
Peran ion keras pada enzim mash
Ion kekerasan air berperan kunci dalam konversi mash. Calcium secara khusus krusial. Ca²⁺ menstabilkan α‑amylase; tanpa Ca²⁺ yang memadai, α‑amylase pada malt cepat terdenaturasi di suhu istirahat mash. Murphy & Son menyatakan, “in the mash, calcium is essential for the stabilization of α‑amylase… without Ca²⁺, α‑amylase is rapidly destroyed at normal mashing temperatures” (www.murphyandson.co.uk).
Dalam praktik, brewer biasanya menargetkan 50–150 ppm Ca²⁺ di air mash (www.horiba.com). Air brewing keras klasik—misalnya Burton—mencapai 200–300 ppm Ca (catatan: ini dicatat pada homebrew.stackexchange.com dan www.horiba.com).
Tambahan Ca²⁺ juga menurunkan pH mash dengan mengendapkan fosfat wort: Ca²⁺ + (phosphate) → Ca‑phosphate (padat) + H⁺; ini membantu mendorong pH mash ke rentang 5,2–5,5 yang optimal untuk enzim (www.murphyandson.co.uk; www.horiba.com).
Kontrasnya, β‑amylase tidak memerlukan Ca²⁺ tambahan dan justru dihambat oleh level Ca²⁺/Mg²⁺ yang sangat tinggi. Data laboratorium menunjukkan β‑amylase barley terinhibisi signifikan hanya pada kadar ion yang tinggi (misalnya Ki≈13 mM Ca²⁺, Ki≈18 mM Mg²⁺; Ki adalah konstanta inhibisi, parameter kekuatan penghambatan) (www.researchgate.net)—jauh di atas tipikal air brewing. Karena itu Ca²⁺ brewing normal (≪500 mg/L) paling jauh hanya sedikit memperlambat β‑amylase. Ringkasnya, pastikan setidaknya ≈50 ppm Ca²⁺ di mash untuk stabilitas α‑amylase (www.horiba.com; homebrew.stackexchange.com), dan hindari kekerasan ekstrem yang bisa menginhibisi β‑amylase (www.researchgate.net).
Magnesium berperilaku serupa namun lebih lemah. Mg²⁺ juga membentuk endapan (Mg‑phosphate) sehingga menurunkan pH (meski garam magnesium sangat larut sehingga efek pH‑nya moderat) (brewingforward.com). Brewer umumnya mendapati ~10–30 ppm Mg²⁺ (dari malt) sudah cukup; kelebihan Mg (>40 ppm) dapat memberi kesan pahit yang keras (brewingforward.com). Mg²⁺ terutama dipakai ragi (yeast) untuk nutrisi enzim; untuk konversi pati perannya sekunder.
Penyesuaian Ca dengan gypsum dan CaCl₂

Untuk mencapai target Ca²⁺, brewer menambahkan garam kalsium ke mash. Dua garam paling umum adalah gypsum (CaSO₄·2H₂O) dan calcium chloride (CaCl₂·2H₂O). Keduanya menaikkan Ca²⁺, namun membawa anion berbeda yang memengaruhi rasa dan pH.
Gypsum menambah sulfat (SO₄²⁻) bersama Ca²⁺, yang menguatkan kepahitan hop dan kesan dry (www.murphyandson.co.uk). Contoh: ~1 g gypsum per gallon air menyuplai ≈61,5 ppm Ca²⁺ dan 147,5 ppm SO₄²⁻ (www.brewersupporter.com) (kira‑kira 16 ppm Ca²⁺ dan 38 ppm SO₄²⁻ per liter). Brewer memakai gypsum untuk menaikkan kekerasan dan sulfat pada pale ales/IPAs.
CaCl₂ menambah klorida: ~1 g CaCl₂ per gallon memberi ≈72 ppm Ca²⁺ (dan kenaikan Cl⁻ serupa) [typical literature value]. Klorida meningkatkan kemanisan dan fullness malt (www.murphyandson.co.uk). Dalam praktik, brewer menyeimbangkan garam‑garam ini untuk mencapai rasio SO₄²⁻:Cl⁻ sesuai gaya (misalnya ~2:1 SO₄:Cl untuk bir sangat pahit/hoppy, vs ~1:2 untuk bir malty; www.murphyandson.co.uk).
Kedua garam ini serentak membantu keasaman mash: Ca²⁺ tambahan akan mengendapkan lebih banyak fosfat malt dan mendorong pH mash menuju ≈5,3 (www.murphyandson.co.uk; www.horiba.com), yang memaksimalkan aktivitas enzim. Garam ditambahkan ke mash atau kettle (bukan ke air sparge) agar masuk ke zona enzim. Catatan: jangan gunakan kapur atau kapur tohor (chalk CaCO₃ atau lime Ca(OH)₂) untuk setelan mash—keduanya sukar larut di wort (brewingforward.com). Sebagai gantinya, acid dosing atau carbon filtration dipakai bila harus memangkas alkalinitas ekstrem.
pH mash dan kinetika enzim
Efek bersih Ca²⁺ dan Mg²⁺ adalah membawa pH mash ke rentang yang tepat. Aktivitas optimal α‑amylase dan β‑amylase terjadi sekitar pH 5,2–5,5 (www.horiba.com). Dalam praktik laboratorium modern dan industri, konversi pati terbaik terlihat saat pH mash ≈5,2 (batas bawah rentang) (www.horiba.com).
Brewer mengukur dan mengatur pH mash (sering dengan garam plus asam food‑grade seperti lactic/phosphoric) karena deviasi 0,1–0,2 unit pH saja bisa mengubah laju enzim secara nyata. Misalnya, pH terlalu tinggi (>5,8) memperlambat α‑amylase. Praktik brewing berbasis data (dan panduan teknis Horiba) merekomendasikan menargetkan pH≈5,2 secara presisi “for improved enzyme activity leading to optimal conversion” (www.horiba.com).
Untuk carbon filtration, media activated carbon lazim dipakai di lini pengolahan air proses. Untuk acid dosing yang presisi di lini mash atau liquor treatment, fasilitas industri biasanya memasang dosing pump agar takaran asam food‑grade konsisten dari batch ke batch.
Strategi Pretreatment SWRO untuk SDI Rendah dan Stabil
Membangun profil air per gaya
Brewer menyesuaikan profil ion (Ca, Mg, SO₄, Cl, alkalinitas—kapasitas buffer basa) sesuai gaya bir. Tabel dan perangkat lunak menyediakan target spesifik. Contoh rekomendasi aplikasi Brewfather (ppm):
- Light lagers/Pilsners: Ca ≈50–75, alkalinity <50, SO₄≈25–50, Cl≈25–50; air lembut ideal (docs.brewfather.app).
- Hoppy pale ales/IPAs: Ca ≈75–150, alkalinity <50, SO₄≈150–300, Cl≈50–100 (rasio SO₄:Cl tinggi) (docs.brewfather.app).
- Malty beers (Munich, Bock): Ca ≈50–100, alkalinity 50–150, SO₄≈25–75, Cl≈50–100 (Cl:SO₄ lebih tinggi) (docs.brewfather.app).
- Dark beers (Stout/Porter): Ca ≈75–150, alkalinity 100–300 (menetralkan keasaman roast), SO₄≈50–150, Cl≈50–150 (seimbang atau condong Cl) (docs.brewfather.app).
- Wheat/Belgian beers: Ca ≈50–100, alkalinity 50–100, SO₄≈10–30, Cl≈50–100 (SO₄ sangat rendah untuk profil lembut) (docs.brewfather.app).
Angka‑angka ini selaras dengan contoh historis. Murphy & Son mencatat air “bitter” (pale ale) klasik sekitar ~170 ppm Ca, 15 ppm Mg, 25 ppm bikarbonat, 200 ppm Cl, 400 ppm SO₄ (∼2:1 SO₄:Cl) (www.murphyandson.co.uk)—sangat keras dan tinggi sulfat. Sebaliknya, air gaya Pilsner hanya ~50 ppm Ca, 10 ppm Mg, 25 ppm HCO₃, 10 ppm Cl dan SO₄ (www.murphyandson.co.uk)—sangat lembut. Brewer membangun ke arah target‑target ini dengan menghitung addition garam: setiap gram gypsum atau CaCl₂ menghasilkan puluhan ppm Ca serta SO₄/Cl sesuai kebutuhan (www.brewersupporter.com).
Implementasi operasional di fasilitas
Langkah praktisnya: optimalkan aktivitas α/β‑amylase dengan mengendalikan pH mash (≈5,2), memastikan Ca memadai untuk stabilitas α‑amylase, dan menyesuaikan sulfat vs klorida mengikuti gaya. Ca²⁺ mash yang menjaga enzim umumnya ~50–150 ppm (www.horiba.com), Mg²⁺ ~10–30 ppm, dan rasio SO₄:Cl berkisar ≈2:1 pada bir pale kering hingga ≈1:2 pada bir malty berbodi penuh (www.murphyandson.co.uk; docs.brewfather.app).
Brewer menggunakan laporan kualitas air serta kalkulator (misalnya Bru’n Water, Brewfather) untuk menghitung addition garam. Hasil terukur meliputi pH mash, attenuation, dan fermentability: sebagai contoh, mash kaya Ca yang terasidifikasi dengan baik dapat mencapai efisiensi konversi nyaris 100% pada kondisi infusion, sedangkan air dengan alkalinitas tinggi tanpa penyesuaian dapat membuat enzim tersendat dan meninggalkan pati tak terkonversi (ekstrak lebih rendah, viskositas lebih tinggi). Penyetelan presisi Ca dan Mg (dengan gypsum/CaCl₂ dan sesekali Epsom salt—magnesium sulfate) adalah alat berbasis data untuk memaksimalkan konversi pati dan mencapai profil rasa yang dituju (www.murphyandson.co.uk; www.horiba.com).
Sebelum kalkulasi mineral, banyak fasilitas memastikan air dasar bersih dan laik minum; untuk konteks Indonesia, air brewing perlu memenuhi standar air minum (misalnya regulasi Permenkes) (www.murphyandson.co.uk). Pada sumber permukaan atau sumur, pretreatment seperti ultrafiltration umum dipakai menuju kualitas air minum sebagai basis blending mineral.
Mash Gummy Brewery: Enzim β-Glukanase & Sekam Padi Percepat Lauter
Catatan sumber dan referensi
Industri dan sumber akademik brewing digunakan. Data kunci berasal dari artikel teknis Murphy & Son (www.murphyandson.co.uk; www.murphyandson.co.uk), panduan air brewing Horiba (www.horiba.com; www.horiba.com), dan referensi kimia brewing (mis. Comrie, Palmer, Evans) yang dihimpun oleh BrewingForward dan manual Brewfather (docs.brewfather.app; docs.brewfather.app; docs.brewfather.app). Efek ion pada kinetika enzim didokumentasikan pada studi enzim (www.researchgate.net) dan handbook brewing (www.horiba.com). Semua angka ion dan kalkulasi addition garam diambil dari sumber‑sumber tersebut (www.brewersupporter.com; www.murphyandson.co.uk), dengan standar air minum Indonesia diperhatikan sesuai kebutuhan (www.murphyandson.co.uk).
