Dry Stack Tailing Nikel: Desain TSF Aman, Hemat Air, Minim Risiko

Industri nikel menumpuk ratusan juta ton tailing basah setiap tahun—dan air terbukti menjadi akar masalah terbesar. Tren beralih ke tailing terdewater (dry‑stack) kian kuat, didorong kebutuhan keselamatan, kepatuhan, dan penghematan air.

Industri: Nickel_Mining | Proses: Tailings_Thickening_&_Disposal

Pada 2018, penambangan nikel global menghasilkan ~228 juta ton tailing (www.statista.com). Tailing umumnya berupa slurry pasir dengan kadar padatan rendah yang menuntut kolam raksasa. Kecelakaan bendungan tailing memang jarang, tetapi dampaknya katastropik—63 kejadian sejak 1970 (prosiding.perhapi.or.id)—dan semua punya akar penyebab yang sama: air (www.tailings.info).

Di Indonesia—produsen nikel terbesar dunia—pertambangan logam kini menghasilkan “ratusan juta ton” tailing per tahun (prosiding.perhapi.or.id). Saat ini ~11 perusahaan mengoperasikan bendungan tailing (prosiding.perhapi.or.idprosiding.perhapi.or.id). Meski belum ada larangan dalam undang‑undang, kebijakan pemerintah kini melarang penerbitan izin pembuangan tailing baru ke laut (independensi.com), membuat penyimpanan darat dan dewatering kian wajib, apalagi di iklim tropis dengan badai musiman dan risiko gempa.

Baca juga:

Panduan Nutrisi Ragi: FAN 130 mg/L, Zinc 0,15 mg/L untuk Fermentasi

Karakterisasi lokasi dan material TSF

TSF (tailings storage facility: fasilitas penyimpanan tailing) yang andal dimulai dari investigasi lokasi yang rinci—geologi, hidrogeologi, seismisitas, curah hujan—serta karakterisasi geokimia tailing. Pedoman ICMM/ICOLD menekankan pendokumentasian iklim (mis. badai 100‑tahunan), topografi, dan perilaku material untuk desain sepanjang umur tambang, termasuk penutupan. Praktik Kanada (Canadian Dam Association) dan ICOLD diperbarui pascakegagalan terbaru (klohn.com; klohn.com).

Pemilihan tipe konstruksi tanggul

Bendungan tipe upstream‑raised (menaikkan tanggul memakai tailing di puncak tanggul) lebih murah namun rentan likuifaksi saat gempa (klohn.com). Di wilayah basah/berguncang seperti Indonesia, tipe downstream atau centerline—menggunakan timbunan rekayasa dan drainase internal—umumnya lebih aman (klohn.com; klohn.com). Penempatan tailing kasar hasil siklon (cycloned coarse tailings) sebagai “zona pasir” hulu/hilir inti kedap memberi filtrasi alami. Praktik modern di negara basah/aktif gempa (mis. China, Chile) kian melarang metode upstream.

Stabilitas lereng dan material inti

Faktor keamanan lereng/fondasi wajib memadai; mode kegagalan kunci adalah longsor lereng dan erosi internal (klohn.com). Fondasi perlu investigasi penuh dan perbaikan (grouting/cutoff) bila terdapat lapisan lemah. Timbunan harus dipadatkan terkendali; zona inti kedap (lempung atau membran) diapit zona filter/transisi untuk menangkap rembesan. Mahkota tanggul dibuat lebar (sering beberapa meter) guna mencegah slump. Praktik terbaik menegaskan “meminimalkan air yang disimpan di TSF” dan menggunakan tailing yang di‑thickening/di‑filter sebagai prioritas untuk menurunkan beban hidrologis (klohn.com).

Spillway, bypass, dan redundansi

Dua spillway atau kanal bypass di sisi non‑kritis menangani aliran ekstrem, ditambah spillway darurat jauh di atas kisaran decant normal guna mencegah overtopping. Rekomendasi ahli: tambahkan spillway redundan dan bangun beberapa garis pertahanan (klohn.com).

Instrumentasi dan tinjauan independen

Monitoring real‑time mencakup piezometer (memantau tekanan pori), inclinometer (deformasi), dan pengukur muka air. Kandungan air tanggul, pergerakan lereng, serta rembesan diukur berkala, dan insinyur keselamatan bendungan independen meninjau desain/operasi secara periodik—sejalan dengan Global Tailings Standard dari ICMM yang mewajibkan review berkelanjutan oleh profesional berkualifikasi.

Konstruksi bertahap dan deposisi

Peninggian tanggul dilakukan bertahap dengan kontrol ketat setiap lift. Hindari menaruh slurry tailing di mahkota sebelum siap desain. Deposisi upstream (beaching ke arah luar) hanya layak saat risiko rendah; pendekatan centerline/downstream kini lebih lazim.

Sifat material tailing dan stabilisasi

Ukur ukuran partikel, perilaku pemadatan, dan kimia. Jika berpotensi menghasilkan asam, desain pencegahan oksidasi (mis. lapisan penutup reduktif atau penyimpanan sub‑aqueous). Stabilizer dapat ditambahkan sesuai kebutuhan. Untuk fraksi halus, pelapisan dengan pasir hasil siklon yang lebih kasar membantu drainase.

Pengentalan dan filtrasi tailing

tailings-indonesia

Thickener modern—high‑rate hingga paste thickener—menargetkan >60% padatan sebelum pembuangan. Contoh: proyek laterit HPAL (high pressure acid leach: pelindian asam bertekanan tinggi) di Pulau Obi, Metso Outotec memasok 25 thickener mutakhir (high‑rate, high‑compression, dan paste) untuk memaksimalkan pemulihan air (www.miningmetalnews.com; cakupan termasuk sistem Reactorwell pada titik tertentu, www.miningmetalnews.com). Thickening menurunkan volume slurry dan beban neraca air pada TSF.

Di banyak pabrik, pengendalian flokulasi dan koagulasi dilakukan terukur; perangkat seperti dosing pump mempermudah penakaran bahan kimia, sementara opsi flocculants dan coagulants kerap dipertimbangkan untuk membantu pemisahan padatan‑cairan di tahap pengentalan. Air jernih hasil pemulihan dapat dipoles lebih lanjut melalui unit seperti clarifier atau lamella settler bila kualitas proses menuntut klarifikasi tambahan.

Penutupan dan rehabilitasi

Desain penutupan disiapkan sejak awal: bentuk lahan jangka panjang dengan lereng landai dan penutup vegetasi, plus rencana evakuasi air (kolam evaporasi atau dewatering penuh). Target saat penutupan: menyisakan air tersimpan nyaris nol. Catatan pakar Indonesia: ada tantangan kejelasan tanggung jawab pascapenutupan (prosiding.perhapi.or.id), namun tujuannya tetap deposit yang stabil dan inert.

Baca juga:

RO vs BSR: Cara Efektif Turunkan Sulfat Air Tambang Nikel

Pengelolaan air operasional TSF

Fakta lapangan menunjukkan kendali air mencegah sebagian besar kegagalan: “no water – no problem” sering digaungkan—menjaga supernatant seminimal mungkin meniadakan overtopping dan menurunkan isu rembesan (www.tailings.info). Praktiknya, air harus direklamasi kontinu lewat sistem decant (menara/barge apung) kembali ke pabrik, dengan kapasitas yang mampu menyurutkan limpasan badai dalam 2–4 minggu setelah banjir (WMC 1998; www.tailings.info). Di iklim monsun Indonesia, pompa decant kerap beroperasi sepanjang tahun.

Daya dan pompa cadangan krusial: generator siaga dan pompa spare menjamin decant tetap berjalan saat listrik padam—diesel menjadi penopang kunci (www.tailings.info). Sebagian air bisa dialihkan ke kolam evaporasi berlapis atau diolah/dibuang jika tidak dapat kembali ke proses; neraca air lokal diperbarui harian agar asupan pabrik selaras dengan level kolam.

Freeboard (jarak vertikal dari muka air ke puncak tanggul) dipertahankan memadai, dengan desain umumnya mengacu pada inflow design flood mis. hujan 100‑tahunan 24 jam plus margin keamanan. Posisi dan luas kolam dipaksa sejauh mungkin dari tubuh tanggul untuk meminimalkan beban hidraulik (www.tailings.info). Overtopping tak boleh terjadi.

Rembesan dikontrol via drain internal (chimney/toe drains) dan dipantau dengan “nest” piezometer; rembesan yang tertangkap dapat dipompa kembali ke proses atau ke unit pengolahan. Diversi limpasan hujan dan aliran hulu diupayakan mengitari TSF, mengingat curah hujan tahunan di Indonesia kerap >1.000 mm—tanpa pengendalian, TSF bisa cepat tergenang. Prasarana seperti kanal diversional dan “wing walls” relokasi membantu menjauhkan air dari zona tanggul kritis (www.tailings.info). Untuk kebersihan hidrolik pada saluran masuk, perangkat penyisih padatan kasar otomatis dapat dipertimbangkan, misalnya automatic screen pada parit bypass.

Rencana tanggap darurat disiapkan dan dilatihkan, dengan trigger jelas (kenaikan cepat muka kolam, tekanan pori berlebih) untuk evakuasi atau pemompaan darurat. Pengawasan freeboard yang disiplin penting—banyak regulator mensyaratkan, misalnya, 1–1,5 m freeboard di atas muka air maksimum plus kapasitas badai—dan www.tailings.info menegaskan pengelolaan supernatant pond adalah “salah satu kontrol keselamatan yang paling penting.”

Sebagai bagian dari pengelolaan air balik proses, beberapa operator menambahkan flotasi udara terlarut seperti DAF untuk mengurangi padatan tersuspensi, atau pretreatment membran seperti ultrafiltration (UF) bila kualitas air balik perlu dijaga konsisten. Peralatan pendukung—mis. water treatment ancillaries—memenuhi kebutuhan instrumentasi dan integrasi antarunit.

Tren tailing terdewater (dry‑stack)

Untuk menghilangkan risiko kolam slurry besar dan menjawab kelangkaan air, industri beralih ke tailing terdewater/dry‑stack: tailing difiltrasi hingga pasta 65–75% padatan, lalu ditata sebagai tumpukan rekayasa tanpa kolam air. Ini menghapuskan risiko impoundment slurry. Filter press modern memulihkan ~90–95% air proses (www.miningmagazine.com); demonstrasi di Chile untuk 10.000 t/hari tailing menunjukkan makeup water hanya 0,2 m³/t pada DST, dibanding ~0,7 m³/t pada dam pasir konvensional—pengurangan 70% asupan air segar berarti >90% air dipakai ulang (www.miningmagazine.com; www.miningmagazine.com).

Dari sisi keselamatan, tanpa supernatant pond peluang kegagalan aliran katastropik praktis nol; cake terfilter bersifat kohesif dan stabil, serta lebih tahan likuifaksi di area seismik tinggi (www.miningmagazine.com). Jejak lahan lebih kecil—sekitar separuh area impoundment slurry ekuivalen—dan dapat direklamasi bertahap; mendekati penutupan, kekuatan geoteknik sudah tinggi dengan kebutuhan konsolidasi/penutupan minimal (www.miningmagazine.com). Dengan air bebas jauh lebih sedikit, kuantitas rembesan dan mobilitas kontaminan turun tajam, dampak ke air tanah lebih mudah dikelola, dan monitoring sederhana (www.miningmagazine.com).

Adopsi industri dan implikasi biaya

Dulu feasible untuk kapasitas kecil, kini DST berskala sangat besar dimungkinkan: unit filtrasi “kolosal” seperti AFP‑IV menangani >100.000 t/hari (www.miningmagazine.com). Todd Wisdom (FLS) menyatakan sistem DST lengkap sudah “feasible secara teknologi pada skala besar—bahkan untuk tonase tinggi, dengan pemulihan air 90–95%” (www.miningmagazine.com). Proyek nikel baru mengarah ke DST: Twin Metals Cu–Ni (US/Sino) merencanakan pembuangan dry‑stack penuh, sementara smelter nikel Indonesia (PT Huafei, NiPlats, dll.) memasang pressure filter dan conveyor. Tren kebijakan—praktis melarang izin pembuangan tailing baru ke laut (independensi.com)—mendorong smelter ke dry‑stack atau reklamasi penuh di darat.

Implementasi DST menuntut modal dan strategi operasi baru: plant filter dan conveyor/stacker menambah biaya. Namun jika memperhitungkan penghindaran biaya rekayasa bendungan besar, lahan, pengolahan air, dan risiko, DST bisa kompetitif. Otoritas pertambangan Chile memproyeksikan permintaan air naik 38% pada 2021, membenarkan biaya desalinasi >US$5/m³; DST menawarkan pemakaian ulang air serupa tanpa beban sosial/energi sistem air laut (www.miningmagazine.com).

Baca juga:

Nickel SX–EW: Cara Tekan O-in-A <0,5% dengan Settler & PDA

Manajemen air terintegrasi dan target operasional

Apapun tipenya, TSF bergantung pada neraca air yang disiplin—input (proses, hujan, limpasan), output (proses, evaporasi, rembesan). Praktik terbaik meliputi: desain “no ponding” dengan memaksimalkan beach tailing; “Active Reefilling Pumps”—pompa decant beroperasi kontinu dan disesuaikan ketinggiannya; kontrol badai lewat spillway dan kolam surplus; pengawasan freeboard konsisten; pemulihan rembesan via under‑drain/sumur interseptor; perbaikan berkelanjutan lewat audit tahunan neraca air, kalkulasi ulang transport padatan pada operasi thickened/paste untuk mengantisipasi bleed water, dan sensor curah hujan/volume kolam real‑time untuk alarm otomatis apabila laju kenaikan kolam melampaui kapasitas pompa (www.tailings.info).

Kesimpulan operasionalnya sederhana: “minimize water, maximize safety.” Sasaran kuantitatif yang masuk akal untuk ditrack: >90% pemakaian ulang air dan <10% area kolam dari total permukaan TSF, sembari memastikan desain drainase dan spillway yang kuat. Bukti dan tren (www.miningmagazine.com; www.miningmagazine.com) menunjukkan investasi pada thickening canggih dan dry‑stack menurunkan kebutuhan air segar secara dramatis dan hampir meniadakan risiko kegagalan bendungan—selaras dengan kaidah rekayasa dan ketahanan bisnis.

Chat on WhatsApp 2212122qwa