Desain UPW Fab: Double Pass RO & CEDI Capai 18 MΩ·cm

Permintaan air ultrapure di industri chip meroket—IDTechEx memproyeksikan dua kali lipat pada 2035. Inilah rancangan pabrik UPW end‑to‑end yang menarget resistivitas ≥18.0 MΩ·cm dengan pemulihan tinggi dan loop daur ulang agresif.

Industri: Semiconductor | Proses: Wafer_Fabrication

Skala konsumsi air di fabrikasi wafer tak main‑main. IDTechEx mencatat penggunaan air semikonduktor diproyeksikan akan dua kali lipat pada 2035, dengan TSMC sendiri menarik ~101×10^6 m³ pada 2023 (idtechex.com). Laporan lain menyebut “typical fab” memakai sekitar 3.78×10^7 L/hari UPW (ultra‑pure water, air ultrapure untuk proses wafer) (businesstoday.com.my).

Hampir semua air baku yang masuk fab akan keluar sebagai wastewater; kehilangan “sesungguhnya” didominasi evaporasi—>90–95% air proses didaur ulang di dalam loop (catatan praktik) (semiengineering.com) (semiengineering.com). SK Hynix, misalnya, meningkatkan reused water sebesar 51% dari 2020–2023 (idtechex.com), dan pelaku seperti NXP/Onsemi rutin memanfaatkan wastewater (mis. untuk cooling).

Baca juga:

Panduan Aman Kimia Cleaning Wafer: Dari Gudang ke Limbah B3
 

 

Konteks kapasitas dan target pemulihan

Rancangan kapasitas harus mengejar kebutuhan multi‑kiloliter/hari—untuk fab besar, hingga 10^4–10^5 m³/hari—dengan pemulihan >90%. Ini menuntut pasok andal pada kemurnian sangat tinggi sekaligus strategi recycle/reuse agresif (loop reuse >90–95% di praktik, konsumsi bersih terutama dari cooling tower/kehilangan metabolik).

Pretreatment multi‑tahap umpan RO

Langkah awal adalah “membersihkan” air baku (air tanah, permukaan, atau air kota) agar aman untuk membran. Tahap klarifikasi/sedimentasi mengeliminasi pasir dan TSS; skema yang baik menurunkan >70–80% padatan tersuspensi, menyisakan kekeruhan (turbidity, satuan NTU) beberapa NTU. Regulasi air minum Indonesia mensyaratkan ≤5 NTU (grinviro-global.com); pretreatment high‑end menarget ≲0.2 NTU ke RO.

Unit klarifikasi dapat diwujudkan dengan clarifier, dikombinasikan koagulasi terukur menggunakan koagulan berbasis PAC dan kontrol dosis via dosing pump untuk stabilitas operasi. Setelah itu, multimedia filter (pasir/kerikil) memoles partikel sisa—umumnya menurunkan turbidity ke <0.5 NTU (sering <0.2 NTU). Media seperti sand silica dan anthracite lazim digunakan untuk lapisan filtrasi berjenjang.

Untuk partikel halus, ultrafiltrasi (UF, membran mikro 0,01–0,1 µm secara umum) efektif: studi menunjukkan UF dapat menghilangkan ≈98–99% turbidity (researchgate.net). Kombinasi sand + UF praktis meniadakan partikel; modul ultrafiltration kerap dijadikan pretreatment RO.

Activated carbon (GAC) menghilangkan klorin, organik, dan logam adsorbabel—umum mencapai ~80–90% penurunan klorin residual serta prekursor organik, mencegah oksidasi/fouling membran. Karena klorin merusak membran RO poliamida, polishing karbon pasca‑oksidasi adalah standar; media activated carbon menjadi pilihan utama.

Penghilangan hardness (Ca/Mg) dilakukan via penukar ion/softener. Softeners berbasis garam menurunkan kesadahan CaCO₃ ke ≪1 mg/L (≈<17 mg/L sebagai CaCO₃); kaidah desain lazim membatasi Ca hardness ≈1 grain/gal (17.1 mg/L sebagai CaCO₃) untuk mencegah scaling (researchgate.net). Target pretreatment: hardness <0.1–1 mg/L, dengan inhibitor skala didosis bila perlu (tipikal dikalibrasi ke <0.1 meq/L). Unit softener dan resin ion exchange menjadi tulang punggung pengendalian Ca/Mg.

Hasilnya, umpan RO dipertahankan pada turbidity ≲0.1–0.2 NTU, klorin bebas ≈0, beban organik rendah—prasyarat untuk recovery RO sangat tinggi.

Purifikasi primer: double‑pass RO dan CEDI

Setelah pretreatment, sistem menggunakan reverse osmosis (RO, pemisahan terlarut melalui membran bertekanan) dua tahap untuk menurunkan ion. Desain modern mencapai >90–95% total salt rejection. Umumnya RO pass‑1 beroperasi pada recovery ≈80–90%, permeatenya masuk RO pass‑2 (recovery lebih rendah), menghasilkan ~70–80% recovery RO total (researchgate.net). Platform brackish‑water RO banyak dipakai untuk TDS sedang.

Contoh: pada studi wastewater CMP dengan UF+RO, permeat RO mencapai konduktivitas ~6 μS/cm (~0.17 MΩ); dua pass akan menurunkannya lagi ke level single‑μS atau sub‑μS (researchgate.net). Permeat RO (tipikal <50 mg/L TDS, total dissolved solids) lalu dipoles dengan continuous electrodeionization, CEDI (elektrodeionisasi kontinu tanpa regenerasi bahan kimia) untuk dorong resistivitas ~15–17 MΩ·cm konsisten (felitecn.com). Unit EDI berjalan 24/7, berbeda dengan mixed‑bed DI yang memang bisa mencapai ~18.2 MΩ·cm di puncaknya namun butuh regenerasi kimia dan downtime (felitecn.com).

Standar ITRS mensyaratkan >18.0 MΩ·cm (25°C) untuk UPW (mks.com). Mencapai 18.0+ perlu penghilangan gas akhir: CO₂ terlarut harus dilucuti (degasser/membrane degas) dan ion sisa dikurangi. Dalam praktik, double‑RO + CEDI yang dirancang baik menghasilkan ≥15 MΩ dari CEDI dan >18 MΩ setelah degassing/UV polishing.

MetriK primer: RO kinerja tinggi menghilangkan ~99% garam ekuivalen NaCl dan partikel/organik (dengan pretreatment). Jika TDS umpan ~500 mg/L, double‑pass RO menurunkannya ke <10 mg/L (≪0.1 mS/cm). Target keluaran setelah CEDI adalah resistivitas ~18.0–18.2 MΩ·cm, dengan recovery aliran ~70–80%.

Loop polishing dan distribusi UPW

19f89424-0ebe-4fd7-8596-96e41472bb28 (1)

Setelah RO/CEDI, loop polishing menjaga sterilitas dan stabilitas kualitas: UV oxidation pada 185/254 nm (oksidasi organik/sterilisasi), ultrafiltration kelas <0.1 µm untuk menangkap koloid/bakteri, serta degasifikasi (sering membran) untuk melucuti CO₂ dan oksigen. Unit UV dan modul UF menjadi pasangan tipikal pada loop ini.

UPW jadi disimpan di tangki tertutup (sering stainless steel) dan disirkulasikan dalam ring distribusi pipa stainless berkelas ultrapure. Di sepanjang loop dan di antarmuka setiap tool, point‑of‑use filter 0.1–0.2 µm bertindak sebagai penghalang akhir—housing stainless seperti SS cartridge housing lazim, dengan elemen cartridge filter sebagai media filtrasi.

Dalam praktik, UV lampu merkuri + UF dapat mencapai kekeruhan tak terdeteksi (<0.01 NTU) dan TOC (total organic carbon) hanya berasal dari air/karbonat. Satu studi menunjukkan RO+UF menghasilkan turbidity ≈0.01 NTU (researchgate.net). Laporan industri menegaskan kombinasi RO/ion‑exchange/UV/degass dipakai untuk menurunkan TOC ke level yang dapat diterima di UPW (mks.com). Target mikroba dijaga <1 CFU/100 mL (CFU, colony‑forming units).

Baca juga: 

Rancangan Limbah Semikonduktor: Netralisasi, Presipitasi & IX
 

 

Kinerja, pemulihan, dan kontrol operasi

Sasaran terukur: resistivitas akhir ≥18.0 MΩ·cm, TOC <10 ppb (tipikal), turbidity ~0.01 NTU, dan mikroba <1 CFU/100 mL. Recovery total sistem (termasuk RO dan CEDI) berada di kisaran 75–80%, sehingga hanya ~20–25% air baku yang terbuang sebagai brine. Untuk output 10,000 m³/hari, limbah cair setara ~2.5–3.3×10^3 m³/hari.

Dibanding mixed‑bed DI (butuh regenerasi kimia dan downtime), sistem CEDI berjalan kontinu 24/7 (felitecn.com). Pada sistem UPW besar (>150 L/menit), operasi tanpa bahan kimia ini umumnya menutup biaya modalnya; praktik industri menunjukkan titik impas pada aliran sekitar 40–50 GPM. Perangkat bantu seperti ancillaries serta ketersediaan spare part & consumables menunjang keandalan.

Pengendalian proses canggih dan monitoring real‑time (digital Twin/SCADA) memastikan metrik tersebut konsisten tercapai, dengan instrumen seperti online resistivity, UV254, TOC analyzer, dan flow meters.

Daur ulang proses dan efisiensi air

Pemakaian bersih dapat ditekan signifikan dengan mendaur ulang rinse dan scrub effluent. Contoh, re‑proses spent CMP rinse via RO/UF menghasilkan ~90% reuse pada loop non‑kritis (researchgate.net). Banyak perusahaan kini menarget daur ulang >50% dari total penggunaan air (idtechex.com). Ini, dipadu UPW generation yang efisien, mengurangi tekanan pada sumber lokal dan biaya utilitas.

Kepatuhan regulasi Indonesia

Sistem UPW jauh melampaui standar air minum/limbah umum, tetapi tetap wajib patuh regulasi. Standar air minum Indonesia (Permenkes 492/2010 dan pembaruan) mensyaratkan turbidity ≤5 NTU (grinviro-global.com) dan nol koliform/E. coli; pretreatment dan filtrasi akhir di sini menghasilkan ~0.1 NTU dan air yang efektif steril, sehingga mudah memenuhi. Untuk buangan (mis. brine EDI/RO concentrate), ambang PermenLH 68/2016 terkait BOD, COD, dan logam berat (tabel Kementerian memuat batas ketat untuk Cu, Pb, Ni, Zn, dll.) harus ditaati (intilab.com). Walau konsentrasi residu pasca‑purifikasi sangat kecil, unit pengolahan limbah (netralisasi, polishing) tetap disiapkan agar setiap pembuangan memenuhi baku mutu.

Baca juga: 

Panduan Aman Bahan Pembersih Wafer: dari TPS‑B3 hingga Pembuangan Limbah
 

 

Ringkasan desain dan spesifikasi target

Rancangan ini menarget keluaran 18+ MΩ·cm, TOC <50 ppb, turbidity <0.01 NTU, dan mikroba <1 CFU/100 mL; umpan berasal dari pasok yang teroksidasi baik (<5 NTU, grinviro-global.com) dan melewati multi‑barrier treatment. Semua parameter kunci dipantau kontinu (online resistivity, UV254, TOC analyzer, flow meters). Data‑driven design ini—bersandar pada tren pemakaian fab dan standar industri (idtechex.com) (mks.com)—dirancang untuk menjaga yield/stabilitas yield sembari selaras dengan regulasi lingkungan dan air di Indonesia.

Chat on WhatsApp