Saringan kasar di intake laut bekerja dua tahap: bar rack untuk sampah besar, traveling band screen untuk penyisihan halus—keduanya kini dibangun dari super‑duplex stainless demi bertahan di air asin dan melindungi ikan kembali ke laut.
Industri: Desalination | Proses: Seawater_Intake_&_Screening
Intake air laut adalah garis depan sebuah pabrik SWRO (sea water reverse osmosis, desalinasi membran untuk air laut). Hampir di semua fasilitas besar, alur baku adalah dua tahap: bar rack (saringan bilah kasar) di forebay untuk menyetop sampah besar, diikuti traveling band screen (saringan berjalan) yang lebih halus dan membersihkan diri otomatis (vdoc.pub).
Dominasi traveling screen terlihat di survei EPA: sekitar 89% fasilitas intake industri besar menggunakannya untuk kendali sampah (nepis.epa.gov). Alasan bisnisnya gamblang: otomatis, kapasitas tinggi, dan head loss (kehilangan tekan) lebih rendah dibanding perontok reciprocating rake.
Namun kuncinya justru bahan. Pengalaman menunjukkan baja biasa atau 300‑series seperti 304/316L cepat gagal di laut terbuka, mendorong peralihan industri ke duplex dan super‑duplex stainless steel (SS) untuk semua komponen kritis intake (stainless-steel-world.net).
Biofouling pada Desalinasi Air Laut: Peran Penting Chlorination
Konfigurasi layar kasar dua tahap
Pada tahap primer (coarse screen, saringan kasar), bar rack statis dengan jarak antar bilah lebar—umumnya 50–300 mm—menahan gulma laut dan benda besar. Desain menargetkan through‑screen velocity (kecepatan aliran menembus screen) di kisaran 0,10–0,15 m/s; dipilih lebih rendah (~0,1 m/s atau kurang) jika beban ubur‑ubur/organisme tinggi agar fauna rentan tidak membentur screen (vdoc.pub).
Panjang bilah per segmen lazimnya 1–3 m. Perancang mengantisipasi fouling—kerang/tiram dan sampah—dengan oversizing agar 50% open area (luasan terbuka) tetap tersedia pasca pertumbuhan organisme. Di satu telaah, open area rak diasumsikan turun ~30–50% setiap 18–24 bulan, sehingga butuh siklus pembersihan mekanis atau penyelaman rutin (vdoc.pub) (vdoc.pub).
Untuk kelas perangkat serupa di kanal atau bypass, tersedia opsi saringan manual yang mengangkat debris >1 mm seperti manual screen; namun di intake laut, bar rack berfungsi sebagai pengawal bulk trash sebelum tahap halus.
Traveling screen: kapasitas dan otomasi
Tahap sekunder memakai traveling band screen—rantai panel perforasi 2–10 mm yang bergerak kontinu (self‑cleaning) dan otomatis membawa sampah serta ikan terimping (impinged fish, ikan yang terseret dan menempel) ke permukaan untuk dikeluarkan (hubert.nl) (hendrickcorp.com).
Unit modern bertipe vertikal (mis. desain Geiger) berdimensi 1–4,5 m searah aliran, lebar 2,5–7 m, dan menangani hingga ~100.000 m³/jam per kanal—jauh di atas screen statis yang kapasitasnya semata proporsional area (nsenergybusiness.com). Data industri menegaskan: sekitar 89% fasilitas intake industri besar memilih traveling screens (nepis.epa.gov); fixed bar/wedge‑bar screen memang jejaknya besar dan perlu pembersihan manual, tapi konsumsi daya sangat rendah.
Di pasar, kelas saringan kontinu serupa juga dikenal sebagai automatic screen untuk continuous debris removal—fungsi yang sama‑sama menghemat tenaga dan menekan head loss (hendrickcorp.com).
Konstruksi tahan korosi SDSS
Air laut sangat korosif. Pengalaman historis menunjukkan baja biasa atau SS 304/316L cepat gagal di intake laut terbuka; pada era pertengahan 1980‑an, pabrik SWRO yang memakai 316L/317L mengalami crevice dan pitting corrosion di area las dan kopling (stainless-steel-world.net). Memasuki 1990‑an, kebutuhan beralih ke 6% Mo (duplex), namun paduan ini pun terkorosi di air laut berklorin tanpa buffer (stainless-steel-world.net).
Industri kini secara luas beralih ke duplex dan super‑duplex untuk seluruh perangkat intake kritis. Tinjauan industri mencatat seluruh pipa brine dan feed di pabrik SWRO berkapasitas 20.000–600.000 m³/hari “menspesifikasikan penggunaan SDSS” (super‑duplex stainless) demi umur panjang, seiring kapasitas terpasang SWRO melonjak sepuluh kali lipat sejak 1990 dan tekanan menghindari kegagalan pompa serta kebocoran pipa intake makin besar (stainless-steel-world.net).
Grade super‑duplex seperti UNS S32750/INV/ atau Sandvik SAF 2507 mengandung ~25–28% Cr plus Mo dan N, memberi ketahanan air laut yang sangat tinggi. Satu analisis menyebut super‑duplex “sering dianggap self‑protective terhadap air salin tinggi,” sehingga peralatan statis (misalnya bar screen) bisa bertahan puluhan tahun tanpa perawatan berat (ro.scribd.com).
Dampak biayanya nyata—super‑duplex bisa berharga beberapa kali 316L—tetapi menurunkan biaya siklus hidup karena menghindari penggantian berulang. Untuk bar rack atau ruang screen (sambungan las sedikit, pelat kontinu besar), menetapkan satu paduan (semua SDSS) menghindari korosi galvanik. Dalam praktik, perancang meminimalkan pemakaian SS304/316; header manifold pipa dan fastener sering SDSS atau baja berlapis. Material khusus (titanium/lining eksotik) jarang karena biaya, sehingga strategi arus utama adalah SS duplex tebal (stainless-steel-world.net).
Secara struktural, screen butuh penegar berat untuk gelombang, badai, dan benturan debris. Rangka/penyangga kerap digalvanis berat atau dilapisi epoksi, namun umur pakai ditentukan oleh paduan logam screen itu sendiri. Karena penyelaman perawatan di laut ganas sangat tidak diinginkan, intake baru cenderung mengalokasikan anggaran ekstra untuk baja tahan korosi sejak awal (stainless-steel-world.net). Contoh historis: di pabrik SGRO 227.000 m³/hari di Saudi (Medina‑Yanbu, 1995), hanya tipe 6%Mo (UNS S31254) yang relatif bertahan, dan kini praktis seluruh pipa memakai SDSS (stainless-steel-world.net). Integrasi dengan sistem produksi air seperti sea-water RO menuntut pilihan material ini untuk konsistensi keandalan hulu-hilir.
Cara Menghemat Koagulan 10–30% di Pabrik Desalinasi
Sistem pengembalian ikan ramah fauna

Penyaringan tidak menghindari seluruh organisme laut; karena itu sistem pengembalian ikan (fish return) wajib untuk menangani fauna terimping secara manusiawi. Praktik terbaik: membekali traveling screen dengan fish bucket atau talang (trough) dan jalur pembuangan lembut kembali ke laut (nsenergybusiness.com) (hendrickcorp.com).
Dalam konfigurasi lazim, ikan diarahkan sabuk screen ke bucket di puncak unit; bucket dikosongkan ke talang berisi air atau bak penampung yang terpisah dari area pencucian sampah, lalu dipompa/di‑flush langsung ke perairan terbuka. Fitur desain kunci: lekukan/selokan terpisah untuk bucket, tinggi jatuh minimal, dan aliran konveyor berkecepatan rendah (low‑velocity slip stream) ke titik buang (nsenergybusiness.com) (hubert.nl). Desain Bilfinger/Geiger, misalnya, melebarkan bingkai screen dan menambah fish‑gutter agar ikan dilepas terpisah dari kotoran halus (nsenergybusiness.com); vendor juga menonjolkan “fish recovery gutters” untuk pelepasan lembut dan efektif (hubert.nl).
Dari sisi kinerja, sebuah vertical traveling screen yang dimodifikasi, diuji di laboratorium dengan beberapa spesies ikan beriklim sedang pada approach velocity 0,3–0,6 m/s (kecepatan mendekat ke screen), menunjukkan mortalitas ≤5% untuk semua ikan—hanya tahap paling rapuh dari spesies paling sensitif yang mendekati angka ini (afspubs.onlinelibrary.wiley.com). Dalam praktik, perancang menjaga through‑screen velocity rendah (mis. 0,15 m/s atau kurang) agar sesuai kemampuan renang ikan sehingga ikan tertahan, bukan dihantam aliran (hendrickcorp.com). Hasilnya, sistem fish return yang didesain baik (bucket + trough + pembuangan berkecepatan rendah) dapat andal mencapai tingkat selamat sekitar 95–100% bagi ikan terimping.
Kepatuhan regulasi dan risiko operasi
Untuk memenuhi regulasi lingkungan—analog dengan standar U.S. EPA 316(b)—perancang harus menunjukkan mortalitas ikan minimal. Solusi kerja yang lazim adalah fish protection screen (drum/disc atau band screen dengan fish bucket) yang, dengan memisahkan penanganan ikan dan sampah, menghindari remuk atau sesak napas (nsenergybusiness.com) (hubert.nl). Indonesia belum memiliki aturan intake desalinasi spesifik, namun prinsip perlindungan perikanan yang umum akan mengarahkan ke desain yang sama. Dari sisi bisnis, menambahkan sistem fish return berbiaya relatif kecil dibanding screen‑nya, namun menghilangkan risiko denda besar atau penghentian operasional wajib akibat impingement (nsenergybusiness.com).
Data dan tren utama
Fasilitas SWRO besar modern hampir selalu memakai bar rack diikuti traveling screen (vdoc.pub) (nepis.epa.gov). Bar rack: jarak 50–300 mm dengan bilah ~1–3 m, perlu dibersihkan tiap 1–2 tahun (18–24 bulan) karena open area turun ~30–50% (vdoc.pub) (vdoc.pub) (vdoc.pub).
Traveling band screen: mesh 2–10 mm, self‑cleaning, kapasitas 50.000–100.000 m³/jam per unit dan dapat mencapai hingga ~100.000 m³/jam per kanal pada desain vertikal modern (nsenergybusiness.com).
Konversi ke super‑duplex jadi standar—satu ulasan industri menyebut “hampir semua proyek baru dan ekspansi” kini menspesifikasikan pipa dan struktur SDSS (stainless-steel-world.net). Teknologi fish‑return juga berhasil: satu studi AS menemukan mortalitas pasca impingement di bawah 5% untuk semua spesies dengan traveling screen “fish‑friendly” (afspubs.onlinelibrary.wiley.com). Hasil‑hasil ini—efektivitas penyisihan, umur alat panjang, mortalitas ikan rendah—menguatkan kasus bisnis untuk saringan yang tangguh dan material tahan korosi di intake air laut.
Solusi Limbah CIP Brewery: pH Otomatis dan Tangki Equalization
Sumber dan rujukan
Manual desain dan studi kasus: vdoc.pub. Publikasi industri: stainless-steel-world.net (stainless-steel-world.net). Sumber vendor dan artikel: hendrickcorp.com, nsenergybusiness.com. Evaluasi peer‑reviewed: afspubs.onlinelibrary.wiley.com. Analisis material: ro.scribd.com. Catatan: Byrne & Hicks (2024); Kanth (IDA 2019); Voutchkov (2016); Hendrick Corp. (2018); NS Energy (Bilfinger) 2018; Black & Perry (2014); U.S. EPA 316(b) TDD (2002) juga dirujuk melalui tautan di atas.
