Cara Menghilangkan Haze Bir: Isinglass, Silica Gel & PVPP

Chill haze 0,1–1,0 µm yang “hilang” saat hangat bisa berubah permanen di rak. Industri menargetkan <0,5–1,0 EBC untuk bir “brilliant” — dan di sana, strategi multi‑tahap memisahkan pemenang dari sisanya.

Industri: Brewery | Proses: Filtration_&_Carbonation

Haze dalam bir lahir dari kompleks protein haze‑aktif dan polifenol yang mengikat selama pematangan dingin. Dalam praktiknya, “chill haze” (partikel 0,1–1,0 µm yang larut saat bir dihangatkan) sering berkembang menjadi haze permanen saat disimpan lama (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Ini bukan cuma urusan estetika: ketidakstabilan koloid memperpendek umur simpan dan menggeser flavor.

Karena itu, banyak brewery membidik kekeruhan sangat rendah saat pengemasan — “brilliant” sering didefinisikan di kisaran <0,5–1,0 EBC (EBC = satuan kekeruhan industri bir) (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Pilsner dan bright lager kerap menargetkan ≲0,8 EBC (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Sebaliknya, NEIPA atau wheat beer justru mempertahankan haze sebagai ciri. Apa pun pilihannya, memahami asal haze dan metriknya (EBC turbidity, serta uji penuaan paksa/forced‑aging test) adalah langkah pertama sebelum memilih metode stabilisasi (pmc.ncbi.nlm.nih.gov).

Baca juga:

Kontrol VOC Pabrik Bir: Teknologi RTO dan Kondensasi Uap

Mekanisme haze dan metrik EBC

Haze non‑biologis terutama terbentuk dari protein haze‑aktif (HA) dan polifenol. Kompleks ini mulai terlihat sebagai chill haze sebelum menguat menjadi permanen seiring waktu (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Target kekeruhan “brilliant” <0,5–1,0 EBC memaksa proses klarifikasi lebih disiplin, dan studi menunjukkan hasil akhir 0,57 ± 0,08 EBC saat mikrofiltrasi akhir 0,45 µm diterapkan (pmc.ncbi.nlm.nih.gov).

Agen fining tradisional: isinglass dan gelatin

Isinglass (kolagen kantung renang ikan) dan gelatin (kolagen sapi/babi) membawa muatan positif yang menggumpalkan ragi dan protein haze sehingga mengendap. Uji yang menggunakan kolagen ikan mencatat turbidity akhir terendah pada bir (www.mdpi.com). Kettle finings seperti Irish moss (carrageenan) atau bentonite (lebih umum di wine) membantu menurunkan protein cold‑break.

Dalam praktik, isinglass/gelatin dipakai untuk mempercepat pengendapan, lalu dilanjutkan silica gel atau PVPP (lihat bagian stabilisasi). Isinglass sangat efektif pada ragi, tetapi terbatas terhadap partikel protein‑polifenol berukuran kecil—karena itu sering dikombinasikan (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Dosis lapangan bervariasi (banyak praktik di 0,5–2 g/L untuk gelatin atau setara) dan butuh uji optimasi. Kelemahan: perlu waktu jam–hari di tanki, harus dihilangkan via filtrasi atau racking, sehingga ada downtime dan kehilangan hasil. Keunggulan: murah dan sederhana; penurunan kekeruhan ≥80–90% dilaporkan di uji (www.mdpi.com). Catatan: bisa mengurangi protein pembentuk foam dan dihindari pada produksi vegan/halal.

Centrifugasi cakram: pra‑klarifikasi berkecepatan tinggi

Disc‑stack centrifuge memutar bir fermentasi untuk mengeluarkan sebagian besar ragi, trub, dan sebagian protein haze. Keuntungannya: operasi kontinu, tanpa media habis pakai, dan mendongkrak kapasitas filtrasi hilir. Satu brewery melaporkan pemasangan centrifuge sebelum filter meningkatkan “filter run” ~5–6× karena umpan ke filter lebih bersih (discussions.probrewer.com), sehingga lebih sedikit filter aid dan lebih sedikit kehilangan bir setiap siklus (discussions.probrewer.com).

Centrifuge bisa menurunkan ragi ≳99%, tetapi kurang efektif untuk partikel haze halus (prekursor chill haze). Dick Murton mencatat “centrifuge akan mengeluarkan sebagian besar ragi, tetapi jarang—jika pernah—setara filter steril halus (misal 0,4 µm)” (discussions.probrewer.com). Tanpa filtrasi atau stabilisasi kimia lanjut, bir hasil centrifuge saja jarang mencapai “starbright” ≈0,5–0,8 EBC dan bisa kurang stabil di rak (discussions.probrewer.com). Pertimbangan kunci: biaya modal dan ruang (unit besar/berisik) versus penghematan produk dan tenaga.

Filtrasi: DE, sheet, dan membran

Filter depth diatomaceous earth (DE/kieselguhr) adalah “workhorse” klasik: bir dialirkan melewati cake pori DE untuk menahan ragi dan haze. Hasilnya bisa sangat bening, dengan operasi pada laju tinggi (>500 L/m²·h). Namun pengoperasian butuh banyak filter aid (sering puluhan kg per batch), risiko debu silika, dan limbah cake besar—alasan banyak brewery kini mengejar solusi bebas DE (pmc.ncbi.nlm.nih.gov).

Sheet filter (plate‑and‑frame) berbasis pad selulosa tidak butuh filter aid, bisa mencapai retensi ~0,5 µm, tetapi cepat “clogging” jika ragi/protein tinggi. Alternatif modern adalah crossflow/membrane filtration: bir dipompa secara tangensial melalui membran mikro (0,1–0,5 µm) atau ultrafiltrasi (UF, 0,01–0,1 µm). Dalam salah satu studi, bir kasar hasil centrifuge (2–14 EBC) difilter via mikrofilter keramik hollow‑fiber 1,4 µm menghasilkan permeat ~1,0–1,5 EBC di flux ~600–2000 L/m²·h (pmc.ncbi.nlm.nih.gov), lalu difinalkan dengan cartridge 0,45 µm menjadi 0,57 EBC (brilliant) (pmc.ncbi.nlm.nih.gov).

Flux membran ratusan–ribuan L/m²·h ini jauh di atas filter bubuk tipikal (250–500 L/m²·h) (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Sistem crossflow juga mendukung CIP (clean‑in‑place) dan jejak ruang yang ringkas. Trade‑off: capex tinggi, potensi fouling, dan kebutuhan pompa/CIP. Untuk tahap polishing akhir, banyak brewery menempatkan 0,45 µm sebagai cartridge filter di housing food‑grade, misalnya cartridge filter dalam housing stainless 316L.

Metode lain: cold storage lebih lama; variasi “ice beer” dengan pembekuan parsial di tanki untuk menjatuhkan haze; serta pasteurisasi untuk stabilitas mikroba jika filtrasi halus dilewati. Catatan: pasteurisasi tidak menghilangkan koloid (www.mdpi.com).

Stabilisasi kimia: silica hydrogel dan PVPP

Dua adsorben tak larut yang lazim dipakai sebelum filtrasi akhir: silica hydrogel (gel silikon dioksida) dan PVPP (polyvinylpolypyrrolidone). Silica hydrogel menyerap protein HA dan polimer besar via ikatan hidrogen; mudah dipakai tanpa pre‑swelling, murah, dan lazim didosis 5–20 g/hL (beberapa paten menyebut 10–70 g/hL) (pmc.ncbi.nlm.nih.gov; pmc.ncbi.nlm.nih.gov; patents.google.com). Untuk efektivitas setara, 1 g/hL PVPP kira‑kira ≃7 g/hL silica (pmc.ncbi.nlm.nih.gov).

PVPP, polimer silang yang mengikat polifenol (tannin, resin hop) via ikatan hidrogen, sangat efektif mencegah haze non‑biologis dan “widely regarded as one of the most efficient methods of stabilizing beer” (www.azom.com; pmc.ncbi.nlm.nih.gov). PVPP umumnya dipakai setelah silica (protein diambil dulu), dengan dosis 10–70 g/hL lazim di paten (patents.google.com). Kapasitas ikatnya sekitar 90 mg polifenol/gram; tidak berpengaruh pada ragi atau protein pembentuk foam; dan bisa diregenerasi (pmc.ncbi.nlm.nih.gov).

Opsi operasional mencakup sekali pakai atau kolom PVPP regenerable. Regenerasi tradisional bisa kehilangan ~0,3–1,0% polimer per siklus, sementara sistem fixed‑bed lanjut menurunkan kehilangan menjadi ≪0,3% (www.azom.com). Batasannya: PVPP juga mengangkat polifenol yang diinginkan—overdosis dapat menumpulkan hop flavor/warna (pmc.ncbi.nlm.nih.gov; pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Dosing yang presisi—misalnya dengan dosing pump akurat—membantu menjaga keseimbangan.

Tambahan alat bantu: enzim seperti prolyl endopeptidase (Clarex/Brewers Clarity) mempercepat luruhnya chill haze dengan memotong protein penyebab, bahkan menurunkan pembentukannya; ini dapat menekan kebutuhan dosis adsorben (pmc.ncbi.nlm.nih.gov).

Baca juga:

Sanitasi Cold Side Brewery: CIP, PAA, dan Purge Gas

Perbandingan praktis metode

Isinglass/gelatin: mekanisme koagulasi ragi & protein haze. Hasil: penurunan kekeruhan ~80–90% di uji (kolagen ikan memberi residual haze sangat rendah) (www.mdpi.com). Pro: biaya rendah, sederhana, tanpa peralatan bertekanan (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Kontra: lambat, tidak steril, kurang efektif untuk kompleks kecil, sludge disposal, berbasis hewani.

Silica hydrogel: adsorpsi protein/ polimer HA. Hasil: sub‑1 EBC saat dikombinasikan dengan pengendapan/filtrasi (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Pro: murah, mudah digunakan, luas dipakai (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Kontra: perlu mixing/filtrasi tuntas; kuantitas per hL lebih tinggi dibanding PVPP.

PVPP: adsorpsi polifenol. Hasil: memperpanjang shelf life; sering mencapai <1 EBC setelah filtrasi akhir; “widely regarded as one of the most efficient methods of stabilizing beer” (www.azom.com). Pro: sangat efektif, bisa diregenerasi, tidak memengaruhi protein pembentuk foam (pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Kontra: biaya, potensi menumpulkan flavor bila berlebih, isu kehilangan mikro‑partikel saat regenerasi (dapat dikendalikan) (www.azom.com).

Centrifugasi: pemisahan padat‑cair gaya tinggi. Hasil: ragi turun ≳99%; turbidity sering berkurang signifikan (contoh: 14 → 2 EBC sebelum membran). Pro: cepat, kontinu, mengurangi beban filter & kehilangan bir; filter run naik ~5–6× di studi lapangan (discussions.probrewer.com). Kontra: tidak menghilangkan haze halus, capex tinggi, jejak ruang/bising, cake basah untuk dibuang.

DE (kieselguhr) depth filter: penjebakan di cake. Hasil: bisa <0,5 EBC bila dioperasikan baik. Pro: throughput tinggi (>500 L/m²·h), menangani bir “kasar”, teknologi mapan. Kontra: bahaya debu silika, limbah besar, filter aid mahal, downtime (pmc.ncbi.nlm.nih.gov).

Membran crossflow: penyaringan fisik mikro/UF. Hasil: ~0,5 EBC atau lebih baik, bahkan steril jika UF; flux 600–2000 L/m²·h pada studi keramik 1,4 µm; jauh di atas 250–500 L/m²·h tipikal filter bubuk (pmc.ncbi.nlm.nih.gov; pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Pro: sangat bening, kehilangan hasil rendah, bebas filter aid, kontinu. Kontra: capex/OPEX, fouling, CIP kompleks. Untuk tahapan ini, solusi ultrafiltration (UF) kerap menjadi inti desain sistem.

Polishing filters (pad/candle): pad permukaan/depth 0,5–1,0 µm. Hasil: ~0,5–1,0 EBC, praktis steril (0,45 µm). Pro: bening, bisa disanitasi, modal rendah, modular. Kontra: pad cepat tersumbat bila klarifikasi awal kurang.

Panduan pemilihan berdasarkan gaya dan skala

Bright lager & pilsner (target <0,5–0,8 EBC): gunakan multi‑tahap. Fining + cold conditioning untuk bulk haze; lanjut centrifuge atau DE; lalu silica/PVPP; akhiri dengan mikrofiltrasi/polishing 0,5–1,0 µm menuju “starbright” (pmc.ncbi.nlm.nih.gov; discussions.probrewer.com). PVPP lazim dipakai untuk umur simpan.

Ale standar/amber lager (target ~1–2 EBC): cold conditioning + satu langkah filtrasi (pad) biasanya cukup; ragi turun lewat lagering; PVPP opsional. Centrifuge sebelum filtrasi menaikkan kapasitas filter secara signifikan (discussions.probrewer.com). Jika protein haze dominan, beri dosis moderat silica.

Wheat, beberapa Belgian, dan “hazy” styles (≫3 EBC): kekeruhan adalah ciri gaya. Hindari klarifikasi agresif; lewati PVPP agar fenol tetap; minim atau tanpa isinglass; jika filtrasi, gunakan kasar (5–10 µm) atau pasteurisasi untuk keamanan mikroba. Haze diterima sebagai fitur.

Vegan/Halal‑sensitive: pilih fining non‑hewani; ganti isinglass dengan opsi nabati seperti chitosan/Irish moss; andalkan silica/PVPP; atau gunakan filtrasi steril tanpa fining protein (www.mdpi.com).

Skala & ekonomi: nano/pilot (<5 hL) cenderung ke bright tank + pasteurisasi atau pompa‑pad kecil. Skala menengah: plate filter stainless/wooden frame + fining untuk polish. Skala besar: centrifuge atau filtrasi kontinu; investasi pada DE line atau membran crossflow serta PVPP regenerable terbayar oleh volume. Satu pengalaman lapangan menyebut filter run 5–6× lebih panjang pasca‑centrifuge, menghemat 0,5–1,0% throughput yang biasanya hilang di cake filter (discussions.probrewer.com).

Tren teknis dan catatan regulasi Indonesia

Tren: banyak brewery kini memakai silica gel + PVPP secara tandem untuk stabilisasi; protein chill haze diambil dulu (silica murah ~10–50 g/hL), lalu polifenol (PVPP ~seper‑tujuh dosis silica, misalnya 10–70 g/hL) — kombinasi ini memperpanjang umur simpan hingga berbulan‑bulan (pmc.ncbi.nlm.nih.gov; patents.google.com; pmc.ncbi.nlm.nih.gov). Filtrasi membran juga naik daun: mikrofilter keramik menunjukkan flux stabil ~2000 L/m²·h pada turbidity rendah, jauh di atas 250–500 L/m²·h filter bubuk tradisional (pmc.ncbi.nlm.nih.gov).

Regulasi: BSN Indonesia bergerak menuju SNI wajib untuk minuman; sementara fokus 2021–2024 di kopi, air, susu, masuk akal bagi brewery mengantisipasi standar serupa untuk bir. Artinya, semua klarifier/additive (isinglass, PVPP, dll.) harus food‑grade dan produk akhir memenuhi spesifikasi kejernihan dan keamanan. BPOM mengatur “minuman beralkohol” dalam kerangka keamanan pangan, sehingga pilihan klarifikasi juga harus mematuhi—misalnya hanya bahan food‑grade dan siap memenuhi SNI jika/ketika diberlakukan (bsn.go.id).

Baca juga:

Manajemen Ragi Bir: Teknik Panen dan Pitching untuk Konsistensi

Ringkasan taktis

Crystal‑clear (lager, pils): multi‑tahap (fining + centrifuge/DE + PVPP; atau crossflow mikrofiltrasi) untuk ≲0,5 EBC dan stabilitas rak jangka panjang.

Moderately clear (pale ale, amber): cold conditioning + satu filtrasi (pad) dan silica opsional; PVPP bisa diabaikan bila umur simpan moderat.

Deliberately hazy (NEIPA, wheat): minim proses; lewati PVPP; filtrasi ringan saja (misal 1–5 µm) untuk keamanan mikrobiologis; terima kekeruhan sebagai fitur gaya.

Small batch (craft): bila capex terbatas, andalkan fining + bright tank; pertimbangkan unit filter portabel; gunakan silica/PVPP hanya bila target kejernihan belum tercapai.

Large scale (industrial): kombinasikan centrifuge dan filtrasi; DE atau membran crossflow plus PVPP regenerable untuk kejelasan dan efisiensi. Pada konfigurasi akhir, polishing 0,45 µm bisa dilakukan dengan cartridge filter dalam housing 316L, atau melalui train UF sebelum polishing.

Catatan sumber: Artikel ini merujuk ilmu pembuatan bir dan laporan industri (pmc.ncbi.nlm.nih.gov; pmc.ncbi.nlm.nih.gov), studi stabilitas (pmc.ncbi.nlm.nih.gov; pmc.ncbi.nlm.nih.gov), serta pengalaman praktisi (discussions.probrewer.com; www.mdpi.com). Angka seperti unit kekeruhan, flux filter, dosis adsorben diambil dari publikasi tertelaah sejawat dan literatur industri tersebut. Pembaruan SNI minuman Indonesia dicatat dari bsn.go.id.

Chat on WhatsApp 2212122qwa