WhatsApp
betapramestiasia

Regenerasi Karbon di CIP Emas: Asam, Kiln, dan Penghematan Enam Angka

  • beta-pramesti-asia
  • industri-gold-dan-copper-mining
  • proses-carbon

Regenerasi Karbon di CIP Emas: Asam, Kiln, dan Penghematan Enam Angka

Di pabrik Carbon‑in‑Pulp (CIP), mencuci karbon aktif dengan asam lalu “menyalakannya” kembali di kiln bukan sekadar SOP—ini mesin uang yang menjaga kapasitas adsorpsi, menekan attrition, dan mereduksi limbah B3.

Industri: Gold_&_Copper_Mining | Proses: Carbon

Di sirkuit CIP, karbon aktif—umumnya granular dari tempurung kelapa dengan luas permukaan sekitar 1.000 m²/gram—berputar tanpa henti: mengadsorpsi Au terlarut, dilucuti lewat elusi, lalu “dinormalkan” sebelum dipakai ulang (studylib.net). Kuncinya: menjaga aktivitas karbon agar tidak tersumbat kerak anorganik dan foulant organik melalui pencucian asam yang tepat dan regenerasi termal di kiln—dua langkah yang memulihkan kemampuan adsorpsi dan memperpanjang umur media.

Taruhannya tidak kecil. Studi klasik melaporkan kehilangan karbon total sekitar 64 g per ton bijih (0,064 kg/t)—sekitar 40% hilang saat regenerasi (kiln firing) dan 60% saat agitasi/penanganan (researchgate.net). Bagi pabrik 2 Mt/tahun, 64 g/t berarti ~128 t karbon per tahun; pada harga ~US$2.000–3.000/t, itu ~US$0,26–0,38 juta per tahun untuk makeup karbon (researchgate.net).

Di Indonesia, limbah karbon teraktivasi yang memuat Au, logam berat, dan sianida diklasifikasikan sebagai B3. Regulasi Kementerian LHK No. 9/2024 mewajibkan minimisasi dan pengolahan melalui daur ulang/penggunaan kembali—menjadikan regenerasi di lokasi bukan hanya ekonomis tapi juga keharusan (hhp.co.id). Limbah bilasan asam dan gas buang kiln juga masuk ruang lingkup regulasi; operasi CIP umumnya mengintegrasikan sistem regenerasi ke pengolahan air limbah dan scrubbing gas, termasuk konversi HCN menjadi amonium tiosianat.

Operasi CIP dan siklus karbon

CIP (Carbon‑in‑Pulp) adalah sirkuit pelindian tangki beragitasi tempat pulp (konsentrasi 10–15 g/L) kontak dengan karbon aktif untuk menangkap Au terlarut. Karbon yang ter‑load diekstraksi Au‑nya via elusi dan kemudian dibersihkan/regenerasi sebelum masuk lagi ke tanki (studylib.net). Media yang dipakai umumnya activated carbon granular (GAC), seringkali berbasis tempurung kelapa.

Fouling menurunkan kapasitas adsorpsi, sehingga karbon secara periodik diregenerasi secara kimiawi dan termal untuk “mengembalikan” aktivitasnya. Praktik umum: reaktivasi termal dilakukan tiap kira‑kira 5–10 siklus adsorpsi/elusi (walkermining.com).

Attrition, biaya, dan desain kiln

Seperti disebut, kehilangan karbon total tipikal sekitar 64 g/t bijih; sekitar 40% dari kehilangan ini terjadi saat regenerasi di kiln dan 60% saat agitasi/handling (researchgate.net). Studi menyebut kiln vertikal elektrik “Minfurn” menghasilkan fines karbon yang secara signifikan lebih sedikit daripada kiln putar konvensional—bahkan ada temuan desain vertikal ini memangkas generasi fines hingga sekitar separuh dibanding kiln putar (researchgate.net).

Untuk menekan attrition, banyak pabrik hanya meregenerasi termal ≤50% inventori karbon per siklus—artinya separuh karbon “di‑hold out” dari kiln setiap shift sehingga beban terbagi dan attrition turun (patents.google.com). Umur karbon mencapai ratusan hingga beberapa ribu siklus, sebelum attrition dan kehilangan membuatnya harus diganti.

Kerak anorganik dan foulant organik

Foulant utama pada karbon CIP adalah kerak kalsium karbonat (CaCO₃) akibat penambahan kapur untuk menjaga pH tinggi, serta presipitat sianida logam lain (Mg, Na, kadang Cu/Fe hidroksida). Kerak ini menyumbat pori karbon. Fouling organik (tar, oil, humic) umumnya lebih rendah di CIP daripada di aplikasi air minum (studylib.net). Ada sumber yang menyebut foulant organik pada karbon CIP biasanya “rendah” (studylib.net).

Pencucian asam untuk skala anorganik

Sebelum atau sesudah elusi, karbon dicuci dengan asam mineral encer untuk melarutkan kerak. Umumnya dipakai HCl (asam klorida) 2–5% bobot; praktik pabrik lazim adalah 3–5% HCl selama ~1–2 jam, sering di kolom/tangki acid‑wash dedicated (walkermining.com). HCl mengonversi skala CaCO₃ menjadi CaCl₂ yang larut (studylib.net).

Data uji menunjukkan perendaman 3% HCl (1 bed‑volume, 1 jam kontak) dapat menghilangkan >95% kalsium dari karbon dengan kandungan Ca <2% (researchgate.net). Asam juga membantu melucuti logam dasar (Ni, Zn, Fe) dengan membentuk klorida yang lebih larut (studylib.net).

Untuk kasus berat (mis. silikat atau fluorokarbonat), bahan khusus seperti amonium bifluorida (NH₄HF₂) dapat ditambahkan ke HCl. Resep paten: ~5–12% HCl dengan 1–2% NH₄HF₂ (rasio bobot kira‑kira 5:1) (patents.google.com). HF₂⁻ membantu melarutkan skala berbasis silikat, dan kombinasi ini dilaporkan menaikkan aktivitas karbon sekitar 20–25% dibanding karbon spent yang tidak diolah, sedangkan 5% HCl saja hanya 5–10% perbaikan (patents.google.com).

Setelah asam, likur bilasan (kaya CaCl₂ dan logam) dibilas air, lalu dilakukan bilasan basa kaustik (mis. 1–2% NaOH/soda api) untuk menetralkan residu asam dan mencegah pelepasan HCN (asam bisa memecah kompleks sianida menjadi HCN gas, sehingga quenching alkali penting) (walkermining.com). Contoh prosedur: 3–5% HCl (1,5–2 jam agitasi), bilas air, lalu 1% NaOH sampai netral; ini menghilangkan kalsium, Mg, dan garam Na yang larut asam (walkermining.com).

Untuk efektivitas tinggi, beberapa operasi melakukan “shock” 5% HCl/2 jam yang mengangkat skala lebih banyak daripada 3% HCl, lalu kembali ke prosedur normal (researchgate.net). Dalam praktik, pengaturan dosis kimia yang konsisten biasanya ditopang peralatan injeksi seperti dosing pump, dan pasokan bahan seperti HCl, NH₄HF₂, maupun NaOH tersedia di lini chemical untuk aplikasi mining.

Hasil acid‑wash dan frekuensi

Acid‑wash yang tepat secara substansial memulihkan kapasitas karbon dengan menghapus inorganik. Tanpa acid‑wash, bed karbon bisa “tersemen” oleh CaCO₃ dan kehilangan aktivitasnya (patents.google.com). Banyak pabrik mengulang acid‑wash setelah setiap siklus elusi. Perbaikan aktivitas 15–25% terhadap karbon yang teracun dilaporkan untuk pencucian agresif (patents.google.com; patents.google.com).

Regenerasi termal di kiln

Setelah acid‑wash, karbon dikeringkan dan dipanaskan untuk membakar sisa organik dan membuka kembali mikropori. Kiln regenerasi putar lazim dipakai, dengan dua zona pemanasan. Zona pertama sekitar 600 °C untuk menguapkan air dan mengeringkan karbon, menciptakan atmosfer kaya uap yang membantu strip volatil; zona kedua lebih panas (umumnya 650–750 °C atau lebih) untuk mem‑pirolisis residu tar/organik dan mengoksidasi selektif via reaksi “water‑gas” (walkermining.com; studylib.net). Waktu kontak pada orde menit cukup untuk pengeringan uap dan pirolisis (studylib.net).

Regenerasi efektif mampu mengembalikan 80–90% kapasitas awal karbon; banyak kiln komersial beroperasi sekitar 650–800 °C. Ada desain yang melaporkan zona 600 °C dan zona >650 °C (walkermining.com), sementara literatur tertentu menyarankan mendorong >800 °C untuk pembersihan lebih dalam (studylib.net). Karbon biasanya masuk kiln dalam kondisi lembap dengan kadar air sekitar 50% yang diuapkan terlebih dulu (walkermining.com).

Reaktivasi termal memicu burn‑off dan fines; komponen kehilangan di kiln diperkirakan ~25 g/t bijih (sekitar 40% dari total 64 g/t) (researchgate.net). Inovasi seperti kiln vertikal elektrik “Minfurn” terbukti memangkas generasi fines dibanding kiln putar (researchgate.net). Karena dampak biaya dan attrition, frekuensi firing dibatasi; pendekatan chemical reactivation (acid/base wash) dimaksimalkan agar lebih sedikit karbon perlu masuk kiln (patents.google.com).

Bahan tambahan dan opsi alternatif

Di luar HCl dan NaOH, ada opsi lain. Nitrat (HNO₃) kadang disebut sebagai alternatif untuk logam dasar, meski penetrasinya ke pori karbon lebih rendah (patents.google.com). Asam sulfat jarang dipakai (membentuk CaSO₄ yang tak larut), kecuali pada metode proprietari. Pada sisi basa, bilasan kaustik dengan NaOH/NaOCl dapat membantu oksidasi grease (juga dicatat dalam paten yang sama) (patents.google.com).

Gas pengoksidasi seperti ozon atau hidrogen peroksida umum di reaktivasi karbon aplikasi air, tetapi jarang pada skala CIP; pemanasan biasanya cukup karena foulant organik di CIP minimal (studylib.net). Praktiknya, “specialty chemicals” pada regen CIP berfokus pada pelarutan skala dan kontrol pH (HCl, NH₄HF₂, NaOH). Surfactants atau chelating agents tidak dipakai karena foulant utama bersifat anorganik.

Hasil, efisiensi, dan ekonomi

Kombinasi acid‑wash dan regenerasi termal mampu memulihkan sebagian besar performa karbon. Metode HCl/NH₄HF₂ yang dipatenkan, misalnya, meningkatkan aktivitas karbon sekitar 20–25% dibanding karbon spent yang tidak diolah (patents.google.com). Setelah reaktivasi di kiln, karbon biasanya kembali mendekati kapasitas adsorpsi baru (virgin); pengujian tails pabrik mengonfirmasi ~0,1–0,5 g/t Au tersisa, setara >99% recovery.

Setiap siklus acid‑wash + firing memperpanjang umur karbon kira‑kira satu orde besaran dibanding langsung dibuang. Secara ekonomi, jika acid‑wash menambah kapasitas 15–20%, jumlah batch kiln dapat turun ~20% dari waktu ke waktu. Fasilitas berbasis coke furnace atau autoclave untuk reaktivasi bisa intensif energi; karena itu pengurangan konsumsi bahan bakar via injeksi uap, burner efisien, atau kiln elektrik menjadi tren berkelanjutan.

Kepatuhan B3 dan integrasi utilitas

Regulasi Indonesia (MOEF No. 9/2024) mewajibkan minimisasi limbah B3 melalui daur ulang/penggunaan kembali (hhp.co.id). Itu mendorong regenerasi on‑site: alih‑alih membuang karbon sebagai B3, pabrik wajib berupaya menggunakan kembali. Likur bilasan asam dan gas buang kiln juga diatur; karenanya, sistem regen biasanya di‑tie‑in ke pengolahan air limbah dan gas scrubbing. Dukungan bahan untuk netralisasi/koagulasi tersedia melalui lini water & wastewater chemicals, sementara proses dosing yang presisi dibantu dosing pump.

Regenerasi yang benar mengurangi volume limbah B3: hanya fines dan karbon yang benar‑benar deactivated yang akhirnya butuh disposal akhir.

Angka kunci dan praktik lapangan

Parameter tipikal: 3–5% HCl untuk acid‑wash (walkermining.com; researchgate.net), dengan waktu ~1–2 jam/layer. Konsentrasi hingga ~10% telah dipelajari (studylib.net), namun 3–5% lazim karena keselamatan dan biaya. Setelah asam, bilasan ~1% NaOH dilakukan hingga netral untuk menghindari pelepasan HCN (walkermining.com). Suhu kiln biasanya ~600–750 °C, dan kelembapan karbon sekitar 50% diuapkan di zona awal (walkermining.com). Sekitar 5–10 siklus adsorpsi berlangsung di antara satu regenerasi penuh dan berikutnya (walkermining.com). Laju attrition gabungan 60–100 g/t bijih adalah tipikal (researchgate.net), sehingga bahkan perbaikan kecil (mis. attrition turun 10%) dapat menghemat ton‑an karbon per tahun.

Studi menunjukkan acid‑wash yang dioptimalkan dan kontrol kiln yang baik dapat memulihkan karbon hingga >80–90% kapasitas awalnya, menopang >95% recovery emas di pabrik CIP (studylib.net).

Catatan sumber dan dokumen teknis

Data dan praktik direkam dalam teks teknik dan laporan industri, termasuk Stanley (1987) untuk kehilangan karbon 64 g/t (researchgate.net); paten dan vendor terkait kimia pencucian (HCl/NH₄HF₂ dan bilasan NaOH) (patents.google.com; walkermining.com); serta studi operasional untuk efisiensi acid‑wash (>95% Ca removal oleh 3% HCl, dan kenaikan kapasitas 20–25% dengan acid‑wash yang dioptimalkan) (researchgate.net; patents.google.com). Rujukan rekayasa lain mencakup handbook metalurgi emas seperti Marsden & House (2006) dan studi Forson et al. (2018), serta panduan praktis pabrik (walkermining.com). Regulasi Indonesia mengenai limbah B3 (MOEF Reg. 9/2024) menegaskan urgensi reuse karbon teraktivasi melalui regenerasi (hhp.co.id).